KERAP MENGGUNAKAN KONTEN LOKAL LSF MATANGKAN RENCANA BENTUK PERWAKILAN DI BABEL

avatar Visit Bangka Belitung
Visit Bangka Belitung

www.visitbangkabelitung.com – Tugas LSF (Lembaga Sensor Film) Republik Indonesia (RI) bukan hanya melakukan penyensoran film dan meneliti atau pun menilai film secara keseluruhan, namun juga memiliki peran besar dalam membantu Pemerintah untuk menyampaikan peran strategis dari sebuah film dalam meningkatkan ketahanan budaya bangsa dan kesejahteraan masyarakat.

Dalam hal ini, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI melaksanakan Sinkronisasi dan Koordinasi Kebijakan Rencana Pembentukan Perwakilan LSF di Ibukota Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dengan tema Masyarakat Sensor Mandiri Wujud Kepribadian Bangsa, di Hotel Santika, Bangka Tengah, Rabu (26/4).

Dikatakan Mukhlis PaEni, Ketua Komisi III LSF, bahwa pemilihan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) dalam perencanaan pembentukan perwakilan LSF bukan lah tanpa alasan. Hal ini dikarenakan Provinsi Babel kerap memperkenalkan konten lokalnya kepada masyarakat.

“Provinsi Babel banyak menggunakan konten lokal terutama yang bermuatan seni dan budaya. Kami melihat ini sebagai salah satu upaya positif Pemerintah Babel dalam mensosialisasikan nilai kearifan lokal kepada masyarakat. Ini menjadi concern bagi kami, bahwa dalam penyebarluasan informasi dalam bentuk film ini perlu dijaga kualitasnya secara keseluruhan,” kata Mukhlis mengawali sambutannya.

Selain itu, Mukhlis juga menambahkan, bahwa budaya sensor mandiri dalam perkembangan perfilman di suatu daerah sangat lah penting. Ditambah lagi, perkembangan teknologi yang begitu pesat dan canggih, semakin memudahkan masyarakat awam sekali pun untuk dapat membuat sebuah film. Yang bahkan untuk membuatnya pun bisa dilakukan hanya dengan menggunakan sebuah telepon genggam. Untuk itu, melalui sinkronisasi dan koordinasi ini, kami berharap dapat semakin mematangkan rencana pembentukan perwakilan LSF di Provinsi Babel.

Sementara itu, Gubernur Babel yang diwakili oleh Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesra, Sekretariat Daerah Babel, Haryoso, menyampaikan bahwa bahwa pesatnya perkembangan dan pertumbuhan jumlah stasiun penyiaran, di satu sisi membawa pengaruh positif dalam meningkatkan peluang keterbukaan informasi, edukasi, dan hiburan masyarakat. Namun di sisi lain, isi siaran juga tidak jarang membawa pengaruh negatif, sehingga dapat mempengaruhi perilaku masyarakat secara negatif pula. Hal ini terutama karena daya magnetis khususnya layar kaca televisi yang membuat banyak anak-anak, remaja, dan generasi muda menghabiskan waktu berjam-jam di depan televisi.

“Anak-anak cenderung “lebih banyak belajar” melalui televisi. Apa saja yang ditayangkan televisi terkesan lebih mudah diserap dibandingkan dengan pesan yang disampaikan oleh guru mau pun orang tua. Dengan demikian, bila program televisi terutama film yang memiliki muatan yang kurang baik, maka pengaruhnya akan cenderung lebih besar terhadap perkembangan jiwa anak-anak dan generasi muda,” ucap Haryoso.

Arturo Gunapriyatna, narasumber dari LSF menyampaikan bahwa LSF memiliki kriteria sendiri dalam pembentukan perwakilan, antara lain lembaga penyiaran tv lokal, rumah produksi, jumlah produksi film dan iklan film, potensi kearifan lokal yang menjadi konten film dan iklan film, dukungan Pemda berupa sarana dan prasarana, potensi pelaku kegiatan perfilman (pelaku usaha, insan, dan organisasi perfilman), jumlah gedung bioskop/layar, dan faktor demografis/kedekatan batas negara.

Selain itu, Arturo juga mengatakan bahwa nantinya perwakilan LSF Babel tentunya akan diisi oleh mereka yang berasal dari Babel sendiri. “Kalau perwakilan Babel ini dibentuk, maka yang mengisinya ya orang-orang Babel sendiri. Karena mereka lah yang paling memahami nilai-nilai kearifan lokal atau pun kronologis perkembangan perfilman yang terjadi di Babel,” kata Arturo.

Para peserta yang mengikuti sosialisasi ini berasal dari instansi pemerintah terkait, Dewan Kesenian Babel, SMA 1 Pangkalpinang, KPID Babel, Lembaga Adat, UBB, pelaku perfilman, PWM Babel, Sekolah Alam Babel, dan beberapa media.

 

Penulis : Ernawati Arif

Dokumentasi : Ernawati Arif

Updater : Bambang Oktaria Hartono

Sumber: 

Disbudpar Prov. Kep. Babel