Workshop Fasilitas Pengembangan Destinasi Sejarah dan Religi (Cheng Ho) Tahun 2015

avatar Visit Bangka Belitung
Visit Bangka Belitung

Pangkalpinang – Selasa  28 Juli 2015, bertempat di Hotel Soll Marina, Bangka Tengah, kegiatan workshop Fasilitasi Pengembangan Destinasi Wisata Sejarah dan Religi (CHENG HO) diadakan dan secara resmi dibuka oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, K. A. Tajuddin, S.H., M.H. Workshop ini membahas keterkaitan CHENG HO dalam perkembangan wisata sejarah dan religi di Indonesia pada umumnya dan di Bangka Belitung khususnya. Dalam sejarah persinggahan armada maritim CHENG HO ke Nusantara meninggalkan banyak daya tarik yang khas. Peninggalan-peninggalan yang memiliki daya tarik yang khas tersebut memiliki keyakinannya masing-masing. Keyakinan itulah yang kemudian tetap dan terus diyakini oleh masyarakat sekitar hingga saat ini. Berbagai kekhasan CHENG HO, seperti kuliner, tempat ibadah, piring atau hiasan keramik, dan lain sebagainya. Lebih lanjut K. A Tajuddin menyatakan bahwa dalam upaya pengembangan Bangka Belitung sebagai salah satu daerah yang akan menjadi bagian dari pengembangan destinasi wisata pelayaran CHENG HO yang merupakan kerjasama pemerintah Indonesia melalui menteri pariwisata dengan pemerintah Tiongkok. Berdasarkan data Kementerian Pariwisata, jumlah wisatawan Tiongkok yang datang ke Indonesia terus meningkat. Pada tahun 2007 jumlahnya 230.476 orang dan meningkat menjadi 807.429 orang pada tahun 2013. Pada tahun 2015 ditargetkan sebesar 1 juta orang. 

Lebih lanjut dituturkan oleh K. A Tajuddin bahwa sebagaimana diketahui CHENG HO merupakan panglima muslim dari Tiongkok pada masa kaisar Yongle (1403-1424), yang diutus menjadi pemimpin muhibah dengan ratusan kapal ke sejumlah negeri besar di Asia, Amerika, dan Afrika. Peristiwa CHENG HO ke Nusantara merupakan peristiwa kebudayaan dimana CHENG HO bukan hanya membawa apa yang sedang berkembang di Tiongkok, baik itu ekonomi, teknologi, agama, dan lainnya, tetapi juga membawa yang menarik dari wilayah yang dikunjunginya ke Tiongkok. Sebelum armada maritim CHENG HO, Bangka Belitung sendiri sudah melakukan interaksi dengan Tiongkok selama beberapa abad. Hal ini ditegaskan dari beberapa peninggalan cagar budaya seperti yang ada di kawasan situs Kota Kapur yang merupakan peninggalan abad ke-7, situs Batu Hitam di Belitung yang terkenal dengan koleksi keramik dari masa dinasti Tang, hingga peninggalan dari era yang lebih muda berupa bangunan berciri arsitektur khas Tiongkok yang banyak ditemukan di berbagai pelosok Bangka Belitung, seperti yang dapat dilihat di Kampung Gedong, Kecamatan Lumut, Belinyu, Kabupaten Bangka, yang sangat khas dan unik, yang kabarnya justru sudah langka ditemukan di Tiongkok sendiri. Selain berupa bangunan, hasil akulturasi budaya juga terwujud dalam bentuk ragam kuliner, bahasa, system teknologi, mata pencaharian hidup (peralatan dan teknologi pertambangan dan pertanian), kain tenun, pakaian pengantin, hingga pengaruh dalam ilmu pengobatan dimana masyarakat Bangka Belitung sangat familiar dengan pengobatan tradisional China.

Kegiatan workshop ini dihadiri oleh 40 (empat puluh) daftar undangan yang terdiri dari beberapa SKPD yang berasal dari Pemerintah Provinsi, Kabupaten/Kota, para pejabat Esselon III/IV Pemerintah Provinsi dengan bidang terkait, lembaga adat, lembaga pendidikan, lembaga Swadaya Masyarakat, BUMD dan BUMN, hingga perseorangan. Besar harapan kedepan agar pariwisata Bangka Belitung dapat menjadi salah satu sektor unggulan bagi perekonomian Bangka Belitung. Apresiasi ini juga disampaikan oleh K. A Tajuddin kepada pihak Kementerian Pariwisata Republik Indonesia, khususnya kepada Asisten Deputi Destinasi Wisata Budaya yang menyelenggarakan workshop ini.

 

Reporter/Fotografer : Ernawati Arif, S.Sos

Editor : Gunawan Marwanto

Sumber: 

Humas Disbudpar Prov. Kep. babel