Tak Tanggung-Tanggung, Tanjung Kelayang Raih 2 Penghargaan Sekaligus!

avatar Visit Bangka Belitung
Visit Bangka Belitung

Pangkalpinang – Tak sampai setahun sejak peletakkan batu pertamanya pada Jum’at (2/9) lalu, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) pariwisata Tanjung Kelayang, Belitung, telah dianugrahi dua penghargaan sekaligus oleh Kementerian Pariwisata (Kemenpar) RI, yakni sebagai Indeks Destinasi Tertinggi Ke - 3 dari 10 destinasi prioritas Indonesia dan sebagai Destinasi Yang Menjanjikan. Kedua penghargaan ini diserahkan langsung oleh Menpar Arief Yahya, di Ballroom 3C The Ritz Carlton Pasific Place, SCBD Jakarta, pada Kamis malam (8/12).

Pemberian penghargaan ini sebagai apresiasi Pemerintah Pusat dalam hal ini Kemenpar RI kepada diantara 10 destinasi prioritas Indonesia yang memiliki indeks daya saing kepariwisataan tertinggi sekaligus sebagai motivasi kepada provinsi yang belum kompetitif.

“Melalui pemberian penghargaan atau kompetisi akan terlihat daerah atau provinsi yang sudah memberikan upaya dan perhatian tinggi terhadap pembangunan kepariwisataan dan daerah yang belum maksimal mengembangkan pariwisata sehingga daya saingnya belum kompetitif,” kata Menpar Arief Yahya.

Lebih lanjut Menpar menjelaskan, daya saing pariwisata Indonesia ditingkat global saat ini berada di ranking 50 dari semula ranking 70 dan kita berusaha menuju ke ranking 30 dunia pada tahun 2019. Berdasarkan laporan World Economic Forum (Travel and Tourism Competitiveness Report) tahun lalu menyebutkan sejumlah indikator kelemahan pariwisata Indonesia, Menpar menjelaskan “Untuk mencapai ranking 30 besar dunia, kita terus memperbaiki kelemahan seperti infrastruktur pariwisata, infrastruktur ICT, healthhygiene, dan aksesibilitas khususnya konektivitas penerbangan, kapasitas kursi, dan penerbangan langsung.”

Berdasarkan berita pers yang dikeluarkan oleh Biro Hukum dan Komunikasi Publik Kemenpar RI bahwa pemberian penghargaan Indeks Daya Saing mengacu pada standar global Travel and Tourism Competitive Index (TTCI) World Economic Forum dan United Nations World Tourism Organization yang disesuaikan dengan kondisi di Indonesia. hal ini sebagai upaya mendorong terwujudnya 10 destinasi prioritas Indonesia sebagai “Bali Baru” menjadi destinasi kelas dunia (world class destination), serta sebagaimana target yang ditetapkan Presiden Joko Widodo agar daya saing pariwisata Indonesia berada pada 30 besar dunia pada tahun  2019.

Sejumlah indikator sebagai indek daya saing yang diterapkan dalam Anugrah Indeks Daya Saing 10 Destinasi Prioritas Kepariwisataan Indonesia antara lain: Policy support (prioritas pariwisata, keterbukaan regional, daya saing harga, environment sustainability); tourism enabler(lingkungan bisnis, keamanan, kesehatan dan kebersihan, SDM dan tenaga kerja, kesiapan teknologi informasi); infrastructure (infrastruktur bandara, infrastruktur pelabuhan dan darat, infrastruktur pelayanan pariwisata); dan natural & cultural resources (sumber daya alam dan sumber daya budaya).

Sebelum menentukan destinasi mana yang akan diberikan penghargaan, terlebih dahulu panitia dan juri melakukan survey dan penilaian sejak bulan Juli hingga Desember 2016. Rekomendasi dan pemenang dari survey yang dilakukan, ditetapkan para pemenang dan dihasilkan sejumlah rekomendasi sebagaimana yang menjadi masukan dan harapan para wisatawan, yakni: Wisatawan ingin mengabadikan moment unik di daerah wisata. Untuk itu perlu dikembangkan iconic moment spot fotografi; diperbanyak festival atau signature untuk engage wisatawan serta meningkatkan repeat visit; mengembangkan aktivitas wisata malam; mengembangkan sentra UKM untuk memproduksi souvenir/cinderamata dan mengembangkan informasi aktivitas yang dapat dilakukan di daerah wisata, serta perbaikan infrastruktur bandara dan kesiapan ICT menjadi prioritas utama.

Ada pun penerima penghargaan kategori Indeks Destinasi Tertinggi Pertama adalah Borobudur; Kedua adalah Wakatobi; Ketiga adalah Tanjung Kelayang; sedangkan kategori penghargaan Destinasi Yang Menjanjikan adalah Tanjung Kelayang; dan sebagai Destinasi Terfavorit adalah Labuan Bajo. 

 

Dokumentasi          : Biro Hukum dan Komunikasi Publik Kemenpar RI

Editor                     : Yuliarsih

Sumber: 

Biro Hukum dan Komunikasi Publik Kemenpar RI