Disbudpar Babel Menerima Kunjungan Studi Tur Dinas Pariwisata Provinsi Riau

avatar Visit Bangka Belitung
Visit Bangka Belitung

Air Itam, Pangkalpinang – Kepariwisataan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung berkembang dengan sangat pesat. Ada banyak hal yang dapat di-share dengan rekan-rekan yang ingin mengetahuinya. Namun, dalam hal ini kami tetap masih banyak belajar dari daerah atau provinsi lain yang memang sudah lebih dulu maju kepariwisataannya. Demikian dikatakan Engkus Kuswenda, Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Disbudpar Babel) saat mewakili Kepala Dinas menerima kunjungan Dinas Pariwisata Provinsi Riau, di Kantor Disbudpar Babel, Air Itam, Pangkalpinang, Kamis (4/5).

Didampingi Effendi, Kepala Bidang Destinasi Pariwisata, Engkus juga memberikan paparan singkat terkait sejumlah obyek wisata yang ada di 7 kabupaten/kota di Provinsi Babel. “Babel memiliki beragam jenis wisata, mulai dari wisata reliji, sejarah, alam, buatan, bahari, budaya, dan bawah laut. Kami memiliki 6 kabupaten dan 1 kota yang kesemuanya memiliki daya tarik wisata dengan ciri khasnya masing-masing,” kata Engkus.

Senada dengan hal tersebut, Effendi juga memaparkan secara singkat perbedaan antara destinasi dan obyek wisata. “Dikatakan destinasi ketika obyek wisata tersebut telah memiliki 3A, yakni atraksi, amenitas, dan aksesibilitas. Sedangkan obyek wisata hanya menunjukkan lokasi keberadaan suatu daya tarik,” jelas Effendi.

Ditambahkan Rusni Budiati, Kepala Seksi Analisis Pasar, bahwa sejumlah obyek wisata yang ada di Bangka Belitung ada yang dikelola oleh pemerintah, swasta, pemerintah bersama masyarakat, masyarakat, atau pun LSM bersama masyarakat.

Selain destinasi dan obyek wisata, keunikan ethnis juga menjadi perhatian bagi peserta kunjungan. Karena, terdapat kesamaan antara perpaduan ethnis yang ada di Provinsi Riau dan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, yakni ethnis Melayu dan Tionghoa.

Terkait ethnis, Engkus dan Effendi memberikan penjelasan senada, bahwa kerukunan ethnis Melayu dan Tionghoa di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sudah berlangsung sejak lama. Hal ini dapat dilihat dari mesjid dan klenteng yang dibangun berdampingan sejak zaman Belanda. Bahkan hingga kini pun masih sama, dimana ethnis Melayu dan Tionghoa berbaur dalam lingkungan sosialisasi masyarakat yang sama.

“Zaman dulu, banyak para pekerja Cina (laki-laki.red) yang datang ke Bangka Belitung untuk bekerja di pertambangan timah. Dan rata-rata tidak membawa pasangan. Dari sosialisasi mereka dengan masyarakat asli setempat, akhirnya terjadi lah pernikahan. Makanya sampai sekarang tidak jarang di Bangka Belitung ditemukan orang Melayu yang matanya sipit, dan orang Cina yang kulitnya sawo matang atau gelap,” ujar Effendi.

Kunjungan ini merupakan bagian dari pelaksanaan kegiatan Pelatihan Manajemen Pengelola Obyek Wisata yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata Provinsi Riau, dimana salah satu agenda dari kegiatan dimaksud adalah melakukan studi banding ke obyek wisata yang ada di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Rombongan berjumlah 32 orang, yakni 30 peserta yang berasal dari pengelola obyek wisata di 12 kabupaten/kota Se – Provinsi Riau, dan 2 orang pendamping dari Dinas Pariwisata Provinsi Riau, yakni Fuadi (Kepala Bidang Destinasi Pariwisata) dan Efie Andriana (Kepala Seksi Obyek Daya Tarik Wisata).

Menurut Ezi dan Lina selaku tour leaders, direncanakan usai pertemuan dengan pihak Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, rombongan akan dibawa ke BBG (Bangka Botanical Garden), Tanjung Bunga, dan berakhir di Pasir Padi sekaligus untuk santap malam. Hari ini merupakan hari pertama rombongan sampai di Pulau Bangka. Dijadwalkan selama 4 hari, rombongan akan menginap di Soll Marina, Bangka Tengah.

Penulis            : Ernawati Arif

Updater           : Bambang Oktaria Hartono

Dokumentasi : Rafiq Elzan

Sumber: 

Disbudpar Prov. Kep. Babel