Jadi WBTB, Cegah Karya Budaya Daerah Dari Kepunahan

avatar Visit Bangka Belitung
Visit Bangka Belitung

Pangkalpinang – Ditetapkannya karya budaya sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) tidak hanya untuk menyatakan kepemilikan semata, terlebih dari itu adalah untuk melindungi suatu karya budaya dari kepunahan.

Hal ini disampaikan Zuardi, Kepala Bidang Pengembangan Kebudayaan, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Disbudpar Babel) saat ditemui di kantor Disbudpar Babel, Air Itam, Pangkalpinang, Senin (13/8/2018).

Zuardi mengatakan bahwa suatu karya budaya yng telah menjadi WBTB dapat dilindungi oleh Pemerintah Pusat, jika terjadi kepunahan di daerah.

“Kalau terjadi kepunahan karya budaya, misal tidak ada lagi yang melakukan upaya pelestarian Tari Serimbang, dan akhirnya punah di Bangka Belitung, termasuk di daerah asalnya Kabupaten Bangka Barat. Maka, Pemerintah Pusat yang telah menyimpan data lengkap Tari Serimbang dapat membuat rekonstruksi Tari Serimbang tersebut,” jelasnya.

Menurut Zuardi, setiap karya budaya memiliki kemungkinan akan punah, jika tidak dilakukan upaya pelestarian.

“Kalau kita tidak peduli, lantas tidak ada yang melakukan upaya untuk melestarikannya, karya budayanya akan punah. Ini dapat terjadi pada setiap karya budaya kita,” katanya.

Untuk, itu Zuardi menjelaskan pentingnya melakukan upaya pelestarian, dimulai dari lingkungan sekolah dengan menjadikannya materi muatan lokal.

“Generasi muda kita sangat membutuhkan “asupan” kearifan lokal, untuk mengimbangi konsumsi materi yang bernuansa global atau modern. Karya budaya yang sudah jadi WBTB bisa dimasukkan dalam muatan lokal. Anak-anak Bangka Belitung harus tahu. Mereka pantas berbangga dengan capaian karya budayanya yang diakui se-nusantara,” jelasnya.

Hal ini merupakan salah satu tindak lanjut yang dapat dilakukan Pemerintah Daerah, setelah karya budaya menjadi WBTB. Disamping itu, Zuardi juga menjelaskan tindak lanjut lainnya.

“Selain menjadikannya sebagai muatan lokal sekolah, sertifikat karya budaya yang sudah jadi WBTB dapat dipajang atau diletakkan di ruang Kepala Daerah, komunitas, dan tentu saja lokasi WBTB itu berasal. Supaya semakin banyak banyak yang tahu,” jelasnya.

Untuk memperkenalkan WBTB kepada khalayak luas, Pemerintah daerah dapat mempromosikannya melalui acara-acara tertentu dalam berbagai ruang lingkup.

“Kalau kita mengadakan suatu acara besar, WBTB itu bisa juga diperkenalkan atau dipromosikan di acara tersebut. Bisa di lingkup daerah, nasional, bahkan internasional,” kata Zuardi.

Menambahkan perihal tersebut, Hera Riastiana, Pengelola Urusan Kerjasama Pengembangan Seni dan Budaya mengatakan bahwa keberadaan WBTB sangat membutuhkan kepedulian dari berbagai umur dan kalangan.

“Perihal karya budaya kita yang sudah jadi WBTB, bukan hanya menjadi urusan yang tua saja, tapi semua umur dan kalangan. Karena ini kearifan lokal kita, bagian dari identitas daerah kita. Jadi sudah sepantasnya lah kita semua peduli akan hal ini,” tambah Hera.

Disamping itu, sebagai bentuk pelestariannya, WBTB juga dapat diformulasikan dalam bentuk berbagai kegiatan atau program.

“Ada sejumlah cara yang bisa kita lakukan, agar WBTB dapat dikenal di berbagai umur dan kalangan, misalnya dengan mengadakan workshop, atau perlombaan, bisa juga dalam bentuk festival, mengadakan pameran, dan lain sebagainya,” kata Hera.

Dari berbagai tindak lanjut yang dapat dilakukan, tentunya memberikan apresiasi kepada pihak yang telah melakukan upaya perlindungan, pemanfaatan, pengembangan, serta pembinaan terhadap WBTB tersebut menjadi salah satu yang terpenting.

“Hal terpenting lainnya dari upaya pelestarian adalah orang yang telah memberikan dedikasinya untuk melakukan upaya perlindungan, pemanfaatan, pengembangan, dan pembinaan. Mereka yang telah mencurahkan tenaga, waktu, dan mungkin juga materi, agar kearifan lokal tidak hanya menjadi kenangan, namun sebagai identitas daerah,” jelasnya.

Ada pun keempat karya budaya Bangka Belitung yang telah ditetapkan sebagai WBTB, yakni Tari Serimbang – Seni Pertunjukan (Bangka Barat), Hadrah Gendang Empat – Seni Pertunjukan (Belitung Timur), Emping Beras – Kemahiran dan Kerajinan Tradisional (Belitung Timur), dan Sepen Buding – Seni Pertunjukan (Belitung Timur). Keempatnya akan menerima sertifikat WBTB Indonesia 2018 pada Oktober mendatang.

 

Penulis   : Ernawati Arif (Prahum Disbudpar Babel)

Foto        : disbudpar.belitungtimurkab.go.id