Liuk Pun Thew : Saksi Peradaban Tionghoa di Pulau Bangka

avatar Visit Bangka Belitung
Visit Bangka Belitung
Tim Disbudpar
Tim Disbudpar
Rumah Kampung Gedong
Rumah Kampung Gedong
Rumah Kampung Gedong_1
Rumah Kampung Gedong_1

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Disbudpar) (28/09/2020) melakukan monitoring dan identifikasi di Dusun Gedong, Desa Lumut, Kecamatan Belinyu - Kabupaten Bangka. Tim Disbudpar dikoordinir oleh Pak Engkus Kuswenda, Kepala Bidang Kebudayaan.

Kampung Gedong diperkirakan sudah ada sejak tahun 1700-an, sejalan dengan aktifitas pertambangan timah di Kepulauan Bangka Belitung. Para kuli tambang dibawa oleh Kesultanan Palembang dari daratan Cina yang kemudian menetap di Pulau Bangka.

Kampung Gedong memiliki nama lain, yaitu “Liuk Pun Thew”. Dalam buku yang ditulis oleh Setiati (2010), dijelaskan bahwa nama ini mengacu pada nama 36 distrik yang dikelola oleh masyarakat Kampung Gedong kala itu yaitu “Parit 6” (Setiati, 2010: 35). Pembagian distrik dengan nomor tersebut memang dilakukan oleh pemerintah kolonial dalam proses birokratisasi terkait tambang. Namun terdapat penjelasan versi lain mengenai asal usul penamaan dusun ini yaitu berasal dari bahasa Hakka yang jika diterjemahkan “liu” berarti 6, “Pun” dari kata “fun-yin” yang berarti perkawinan, dan “thew” dari kata “ theu” yang berarti pemimpin. Pengertian seluruhnya adalah “perkumpulan 6 pemimpin”.

Menurut penjelasan Kepala Dusun Gedong, Chang Kheng Men (54 tahun), dahulu pendiri dusun ini terdiri dari 6 orang kaya yang beraktivitas sebagai penyokong utama pertambangan timah. Karena waktu itu wilayah tersebut merupakan wilayah “perawan” dan belum dihuni, maka mereka memiliki kebebasan untuk mengatur huniannya. Dengan berbekal ekonomi yang kuat mereka mendirikan bangunan-bangunan besar dengan tujuan membentuk konstruksi identitas sebagai masyarakat dari kalangan menengah atas yang memiliki kemampuan ekonomi yang tinggi. Berdirinya rumah-rumah dengan konstruksi yang besar dan dianggap megah mirip dengan bangunan gedung pada saat itu, menandai identitas pendirinya. Keberadaan bangunan-bangunan megah 37 tersebut menyebabkan masyarakat setempat menamai dusun ini dengan sebutan Dusun Gedong.

Di Kampuung Gedong, terdapat 20 marga atau kepala keluarga, yaitu: Liong, Liaw, Chin, Chu, Fu, Lie, Hiu, Cen, Lam, Kong, Tham, Chie, Chang, Liu, Bong, Chai, Se, Jau, Cong, dan yang terakhir Chau. Di antara kedua puluh marga tersebut, enam marga tinggal sejak masa-masa awal dusun ini didirikan. Marga tersebut adalah Liong, Chang, Chie, Bong, Lam dan Chu. Hal ini sesuai dengan nama Dusun Gedong yang semula adalah Liuk Pun Thew yang artinya gabungan dari enam pimpinan atau “boss”. Dari kesaksian Chang Kheng Men (54 tahun), yang dimaksud dengan keenam pemimpin tadi tidak lain adalah enam pemimpin marga yang pada awalnya mendirikan dusun tersebut. Masing-masing pemimpin marga memiliki peran di bidang tertentu. Adapun bidang-bidang tersebut adalah bidang pertambangan dengan kepala tambang yang bermarga Bong, pemimpin spiritual atau Shinsang yang bermarga Chie, kepala nelayan yang bermarga Chu, pengusaha di bidang kuliner yang bermarga Liong, pengusaha di bidang logistik dan transportasi air dari marga Chang serta yang terakhir, pengusaha babi dari marga Lam. Enam tokoh ini kemudian mendirikan Dusun Gedong tersebut kemudian memberikan banyak pengaruh bagi perkembangan Dusun Lumut dan Parit Kelapa.

Setelah ditelusuri melalui wawancara terhadap tokoh masyarakat setempat, diperoleh informasi mengenai lokasi tempat tinggal keenam tokoh tersebut, namun yang masih berwujud bangunan rumah relatif utuh tinggal dua. Rumah lainnya yang tersisa hanya sebagian struktur saja, atau bahkan hanya tinggal informasi mengenai lokasi rumah, karena bangunan lama sudah digantikan dengan bangunan baru. Selain rumah keenam pemimpin, terdapat rumah-rumah yang diperkirakan sejaman yang sekarang hanya menyisakan lima unit. Dengan demikian dari total jumlah rumah yang saat ini ada di Dusun Gedong (63 unit), hanya ada tujuh bangunan lama.

Tiga unsur naga yang terdapat dalam konfigurasi pada tiga dusun Kelurahan Lumut meliputi “kepala naga”, “perut naga” dan “ekor naga”. “Kepala naga” merupakan analogi yang diberikan kepada Dusun Gedong dengan bukti berupa rumah para pemimpin. Konsep kepala naga menjadi cerminan adanya tokoh yang memiliki pengaruh kuat dalam sejarah masyarakat pada tiga dusun. Selain sebagai kelompok pertama yang menempati wilayahnya dan kemudian berkembang menjadi tiga dusun yang ada, peran para pemimpin sebagai orang yang mempekerjakan masyarakat di dua dusun yang lain menjadikan wilayah Kampung Gedong tidak hanya berperan secara simbolik sebagai ‘kepala naga’ semata, namun juga berperan secara ekonomi sebagai pemberi pekerjaan sebagai upaya memenuhi kebutuhan dari dua dusun lainnya.

Kegiatan yang dilaksanakan untuk mengetahui potensi daya tarik wisata di suatu daerah. Diharapkan melalui hasil kegiatan ini Disbudpar dapat mengambil kebijakan yang bertujuan untuk melestarikan lingkungan dan sosial budaya serta meningkatkan ekonomi masyarakat setempat. (Novri/Ali/GP)