Dukung Pemulihan Pariwisata di Pulau Belitung, Gubernur Erzaldi Sediakan GeNose C19

avatar Visit Bangka Belitung
Visit Bangka Belitung

VISITBANGKABELITUNG.COM,  TANJUNG PANDAN - Di sela kunjungan program vaksinasi Covid-19 bagi pelaku pariwisata di Puskesmas Tanjung Binga-Sijuk, Jum’at (02/04/2021). Gubernur Kepulauan Bangka Belitung, Erzaldi Rosman didampingi Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata , Syaifuddin menyampaikan kebijakan pemulihan sektor pariwisata di Pulau Belitung berupa penyediaan alat skrining Covid-19, GeNose C19.

"Melalui penyediaan GeNose C19, kita optimis pemulihan sektor pariwisata di Pulau Belitung dapat berjalan dengan lancar", ujar Erzaldi.

"Kita akan menempatkan GeNose C19 di UPTD Balai Pengembangan Pariwisata Wilayah Belitung yang nantinya untuk mendukung event-event pariwisata di Kabupaten Belitung dan Belitung Timur, seperti event sepeda Tour de Babel, Kharisma Event Nasional (KEN) Jelajah Pesona Jalur Rempah, Festival Tanjung Kelayang", ungkap Gubernur Erzaldi.

GeNose C19 merupakan alat skrining Covid-19 karya Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta. GeNose C19 versi screening atau GeNose C19-S merupakan alat skrining cepat infeksi virus SARS-CoV2 melalui hembusan napas pasien COVID-19. Setidaknya dibutuhkan waktu kurang dari 3 menit hasil untuk dapat mengetahui hasil tes positif atau negative Covid19. Dalam keterangan yang dimuat di situs UGM, dijelaskan GeNose C19 memiliki tingkat akurasi sebesar 93-95% dengan tingkat sensitivitas 89-92%, spesifisitas 95-96%, dengan positive predictive value (PPV) 87-88% dan negative predictive value (NPV) 97%.

Nilai sensitifitas, spesifisitas, PPV dan NPV diperoleh melalui uji klinis / diagnostik 3 tahap yang melibatkan subyek dari rawat inap (tahap 1), rawat jalan (tahap 2; pasien terduga COVID-19 dan kontak erat) dan skrining bebas (tahap 3: pasien tanpa gejala) dengan dibandingkan langsung terhadap pemeriksaan tes swab berbasis RT-PCR. GeNose C19 ini diklaim memiliki cara kerja yang ringkas dan cepat dalam mendeteksi Covid-19. GeNose C19 bekerja dengan mengenali pola senyawa metabolit, yang terbentuk dari orang yang sudah terinfeksi Covid-19 hanya melalui sampel nafas. Alat pendeteksi Covid-19 berbasis hembusan napas tersebut dirasa bisa membantu pemerintah dalam mendeteksi Covid-19 secara lebih masif dengan biaya yang relatif murah. (GP)