PON, Semangat Menumbuhkan dan Membangun Rasa Cinta pada Tanah Air

avatar Agus Purnama
Agus Purnama
Agus Purnama, Analis Objek Wisata Disparbudkepora Provinsi Kepulauan Babel
Agus Purnama, Analis Objek Wisata Disparbudkepora Provinsi Kepulauan Babel

Pekan Olahraga Nasional pertama (PON I) di Solo yang diselenggarakan setiap empat tahun sekali merupakan ajang unjuk kebolehan dan pembuktian seluruh atlet dari Tanah Aceh hingga Papua untuk berkompetesi dan berjuang demi memasuki pemusatan latihan nasional (pelatnas) sebagai duta atau pahlawan dibidang olahraga Bangsa Indonesia di ajang multi event SEA games, ASIAN games, dan Olimpiade.

Namun, jauh sebelum itu, pada masa awal penyelenggaraannya di tahun 1948, PON menjadi landasan pemersatu bangsa dan sekaligus sebagai momentum deklarasi kedaulatan Indonesia di mata dunia.

Pekan Olahraga Nasional pertama (PON I) di Solo yang diselenggarakan pada 1948 merupakan salah satu bentuk upaya pemerintah dalam menegakkan kedaulatan Indonesia, terutama di mata internasional. Perjuangan di balik terselenggaranya PON I juga sangat berliku.

Awalnya, pemerintah berusaha memasukkan Indonesia sebagai salah satu peserta di Olimpiade London 1948. Namun, permintaan ini ditolak oleh Komite Olimpiade karena Indonesia belum terdaftar sebagai anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Namun Indonesia tetap diundang sebagai peninjau.

Meskipun demikian, delegasi Merah-Putih batal berangkat karena dipaksa pemerintah Kolonial untuk menggunakan paspor Belanda. Sebagai jawaban atas blokade Belanda ini, pemerintah pun berinisiatif membuat pesta olahraga sendiri di dalam negeri pada 9 hingga 12 September yang kemudian dikenal sebagai Pekan Olahraga Nasional I.

PON I diikuti oleh 600 atlet dari 13 karesidenan dan mempertandingkan 9 cabang olahraga, termasuk sepakbola. Hingga kini, tanggal 9 September dikenal sebagai Hari Olahraga Nasional (Haornas). (Asni Harismi : 19 Februari 2021).

Di era modern saat ini, perhelatan PON tak hanya sekedar mencari bibit-bibit atlet berbakat di Tanah Air untuk memasuki Pelatnas semata, Namun sesungguhnya semangat PON itu tetap menggelorakan rasa persaudaran, persatuan dan sekaligus membangun karakter bangsa melalui bidang olahraga.

Tahun ini, PON ke-20 akan dihelat di tanah Papua pada 2 hingga 15 Oktober 2021 mendatang. PON yang semula akan dilaksanakan pada tahun 2020, namun harus ditunda karena pandemi Covid-19.

Terpilih Papua sebagai tuan rumah di perhelatan multi event olahraga level tertinggi di Indonesia dapat dijadikan media promosi potensi daerah, terutama dari aspek pariwisata di Indonesia bagian timur.

PON XX Papua nantinya akan diikuti 6.484 atlet dari 34 Provinsi yang akan berkompetisi pada 37 cabang olahraga dengan 4 lokasi pertandingan, yaitu Kota Jayapura, Kabupaten Jayapura, Kabupaten Merauke, dan Kabupaten Mimika.

Kesuksesan Papua dalam menggelar PON di tengah pandemi Covid-19, tentu saja akan membuat bangga sekaligus mengangkat citra positif bangsa Indonesia di mata dunia.

Keberhasilan dalam pembinaan olahraga serta prestasi yang berhasil diraih, tentu saja akan menjadi magnet penarik perhatian bagi bangsa-bangsa lain dalam memandang Indonesia. Olahraga nasional yang dikemas dalam bentuk kompetisi PON tersebut, bisa menjadi sarana yang tepat untuk menarik perhatian dunia internasional.

Karena sejatinya, prestasi yang diukir seluruh atlet bertalenta dan berbakat dari Aceh hingga Papua di Tanah Papua akan menumbuhkan rasa kebanggaan terhadap bangsa dan hal ini akan sangat bermanfaat dalam menumbuhkan dan membangun rasa cinta pada Tanah Air.

PON XX Papua yang digelar setelah 76 Tahun Indonesia Merdeka sebagai momentum menunjukkan di dunia internasional bahwa olahraga di tanah air tetap tangguh dan tumbuh meski masih diterpa badai pandemi Covid-19.

Torang Bisa, Indonesia Tangguh, Indonesia Tumbuh!

 

Penulis : Agus Purnama, Analis Objek Wisata Disparbudkepora Provinsi Kep.Babel