The 23rd IMT-GT Ministerial Meeting and Related Meeting Produk UMKM Khas Bangka Belitung Jadi Jajanan Khas Pada Iven Tingkat Menteri

Melati Erzaldi saat mengunjungi stan batik Cual pada perhelatan IMT-GT ke-23 di Hotel Novotel Bangka, Bangka Tengah, Jum’at (29/9/2017).

 

www.visitbangkabelitung.com – Produk-produk pariwisata selalu berhasil menarik perhatian wisatawan. Begitu juga yang ditampilkan pada perhelatan pertemuan tingkat menteri IMT-GT (Indonesia – Malaysia – Thailand Growth Triangle) yang dilangsungkan sejak 26 hingga 29 September 2017, di Hotel Novotel Bangka, Bangka Tengah.

Sejumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) turut serta meramaikan pertemuan IMT-GT yang ke – 23 ini. Bermacam-macam produk berupa makanan ringan dan hasil kerajinan tangan khas Bangka Belitung ditampilkan di pelataran lobi hotel, lengkap dengan brosur atau leaflet informasi produk yang dijual.

Melati Erzaldi selaku Ketua Dekranasda dan PKK Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sangat mendukung upaya ini dalam rangka memperkenalkan dan mempromosikan potensi produk-produk UMKM baik kerajinan tangan mau pun makanan ringan khas dari Bangka Belitung. Dan iven seperti IMT-GT ini dapat dimanfaatkan sebagai wadah bagi para pengrajin lokal.

“Sebenarnya kerajinan-kerajinan baik itu makanan mau pun kriya seperti ini, memang memerlukan wadah agar produk ini bisa tampil. Ketika sedang tidak ada iven nasional atau internasional, biasanya mereka kita gandeng pada acara-acara Pemda. Jadi produk-produk dari 7 kabupaten/kota bisa ditampilkan. Selain dipublikasi, kita juga melihat bagaimana mereka tampil dan direspon orang-orang yang melihatnya,” kata Melati saat ditemui ketika mengunjungi stan batik Cual, di pelataran lobi Hotel Novotel Bangka, Bangka Tengah, Jum’at (29/9/2017).

Melati juga mengatakan perlunya pembinaan bagi pengrajin pemula agar dapat membuat produk berkualitas namun tetap terjangkau. “Pengrajin-pengrajin yang ada di Bangka Belitung harus kita dorong dan dukung. Misalnya, bagi pengrajin yang masih pemula, kita bantu bagaimana agar dapat membuat produk yang menarik, baik kemasannya, bentuknya, juga termasuk bagaimana mengefisiensikan biaya pembuatan. Karena itu bisa menekan biaya produksi,” tutur Melati.

Menurut Melati, kerajinan yang dibuat dengan tangan memiliki nilai yang tinggi. Karena juga memiliki tingkat kesulitan yang tinggi. Terlepas dari pada itu, kita harus tetap berupaya bagaimana membuat produk yang tetap bernilai baik, namun tidak terlalu mahal.

Jenis makanan ringan khas Bangka Belitung yang ditampilkan, seperti berbagai jenis kerupuk yang dibuat dari ikan, cumi, udang, dan telur cumi, belacan atau terasi, sirup jeruk kunci, madu, dan lain sebagainya. Jenis makanan ringan ini mudah untuk dibawa pulang dan dapat disimpan dalam waktu yang lama, sehingga tak sedikit para peserta dari pertemuan ini yang membeli langsung di tempat.

Batik Cual yang ditawarkan tersedia dalam berbagai warna dan motif. Harga yang dibandrol pun bervariasi. Selain Cual, kerajinan akar bahar juga menjadi salah satu pilihan yang unik bagi wisatawan.

Menurut Melati, selain Cual produk kerajinan tangan khas Bangka Belitung lainnya juga akan distimulasi agar dapat semakin berkembang, seperti resam dan anyaman pandan. Ditambah lagi kedua bahan pokok dari kerajinan tangan tersebut banyak dan mudah didapat di seluruh Bangka Belitung.

“Selain cual, kita punya anyaman resam. Itu juga menjadi produk unggulan kami, karena memang kami punya bahan baku yang cukup banyak di kabupaten/kota, yaitu pohon resam. Dan itu menjadi salah satu ciri khas kami, karena kami Melayu. Biasanya bapak-bapaknya selalu punya kopiah resam. Itu yang mau kita dorong juga. Selain dalam bentuk tas, resam juga dibuat dalam bentuk tas dan lainnya. Selain itu juga ada anyaman pandan. Sama seperti resam, bahan pokok pembuatannya juga mudah didapatkan dan banyak di Bangka Belitung,” tutur Melati.

Melati menambahkan, kedepan telah direncanakan kebijakan terkait representasi nilai dan produk lokal untuk diaplikasikan pada sejumlah fasilitas publik.

“Representasi produk lokal di daerah yang dalam hal ini pada fasilitas publik, masih kurang. Memang ini menjadi salah satu program kita. Saya sempat membicarakannya dengan bapak Gubernur, dan beliau sangat mendukung. Kedepan, beliau akan membuat kebijakan bahwa ketika kita berbicara dunia usaha, perbankan, PNS, dan sebagainya, harus menggunakannya kekhasan produk lokal secara regular, seperti seragam, desain interior, sandal dan tempat sampah dapat dibuat dari anyaman, kamar, dan lain sebagainya. Itu akan kita ramu dengan tepat sesuai dengan sasaran,” jelas Melati.

Agus Riyadhi, pelaku usaha kerajinan tangan akar bahar asal Sungailiat, Kabupaten Bangka mengakui kedatangan banyak pengunjung, terutama yang berasal dari Malaysia. Jenis produk akar bahar yang paling banyak digemari, yakni gelang dan cincin. Harga yang ditawarkan pun sangat terjangkau.

Penulis           : Ernawati Arif

Editor              : Yuliarsih

Updater          : Rafiq Elzan

Dokumentasi : Rafiq Elzan