BAIDJURI TARSA : Hasrat Nyeni Yang Tak Pernah Padam

Bahasa Indonesia / English
 
Berawal Dari Musik Tetangga
 
Baidjuri Tarsa lahir di Pangkalpinang tanggal 12 Februari 1949 dari pasangan Tarmuzi dan Rohaya, ia merupakan anak ke tiga dari sebelas bersaudara. Baidjuri Tarsa lahir dalam sebuah keluarga yang taat dalam beragama, bahkan kedua orang tuanya bercita-cita agar Baidjuri dapat menjadi seorang alim ulama. Cita-cita kedua orang tuanya nampak semakin terwujud tatkala Baidjuri kecil sering menjadi juara pada lomba-lomba Qori dan Qoriah di kampungnya. Suara Baidjuri saat melantunkan ayat-ayat suci sangat bagus ditambah dengan pengetahuannya tentang tajwid dalam membaca Al-Qur’an cukup baik. Kedua orang tuanya terus berupaya untuk mendorong Baidjuri untuk menjadi seorang alim ulama dengan menyekolahkannya di sekolah Islam dan menyuruhnya untuk memperdalam pengetahuan tentang Islam.
 
Betapapun kuat keinginan orang tua Baidjuri untuk menjadikannya seorang alim ulama, namun mereka tak pernah bisa mencegah Baidjuri berkenalan dengan dunia musik. Perkenalan awal Baidjuri dengan musik dimulai saat ia duduk di bangku kelas empat SR (Sekolah Rakyat) melalui pertemanannya dengan seorang anak dari keluarga Basri Hasanah, tetangga dekat Baidjuri. Keluarga Basri Hasanah merupakan keluarga pemusik dan mereka memiliki sebuah kelompok musik melayu. Baidjuri tidak dapat mengingat nama kelompok musik yang dimiliki oleh tetangganya itu, namun ia ingat saat itu ia sering sekali mengintip kelompok musik tersebut berlatih dari luar jendela rumah tetangganya. Baidjuri sangat senang mendengarkan musik-musik yang dimainkan oleh kelompok musik melayu itu, ia pun tertarik untuk belajar memainkannya. Meskipun demikian, Baidjuri tidak mampu mengungkapkan keinginannya itu kepada kelompok musik melayu tersebut. Sebagai anak kecil ia memiliki perasaan malu untuk mengungkapkan keinginannya pada orang yang tidak terlalu dikenalnya sehingga ia hanya bisa mengintip mereka latihan setiap harinya.
 
Basri yang sering melihat Baidjuri mengintip dari balik jendela rumah setiap kali mereka latihan menangkap minat yang dimiliki Baidjuri terhadap musik. Baidjuri diajak untuk masuk dan melihat kelompoknya bermain musik. Tak hanya melihat, Baidjuri pun diajak untuk belajar bermain musik. Alat musik pertama yang dipelajari oleh Baidjuri adalah ketipung. Setelah mahir memainkan alat musik ketipung Baidjuri pun belajar memainkan alat musik lainnya seperti ukulele dan bas betot. Bas betot yang dimainkan oleh Baidjuri merupakan alat musik modifikasi yang dimiliki oleh kelompok musik melayu tersebut. Harga Bas Betot yang asli pada saat itu sangat mahal, sehingga dibuatlah Bas Betot dari kotak teh.
 
Semenjak saat itu, Baidjuri bergabung dengan kelompok musik Melayu milik Basri Hasanah. Bersama kelompok musik Melayu tersebut, Baidjuri sering kali tampil diacara-acara seperti Tujuh Belas Agustus. Hampir tiga tahun lamanya bergabung dalam kelompok musik Melayu, Baidjuri akhirnya mengalami kebosanan karena terbatasnya jenis alat musik yang yang ada di kelompok itu dan ia akhirnya memutuskan untuk berhenti dan keluar dari kelompok musik tersebut. Baidjuri telah duduk di bangku PGA saat ia memutuskan untuk keluar dari kelompok musik yang telah membekalinya pengetahuan tentang musik Melayu. Semenjak itu ia tidak bergabung dengan kelompok musik manapun, Baidjuri memilih untuk bermain musik sendiri diwaktu-waktu senggangnya. Lagipula, orang tua Baidjuri mulai menunjukkan rasa tidak senang terhadap aktifitas bermusik yang dilakukan Baidjuri sehingga Baidjuri harus mengurangi aktifitas bermusiknya. Dunia musik pada masa itu identik dengan budaya barat yang bebas dan bertentangan dengan ajaran agama Islam.
 
Baidjuri sebenarnya belajar memainkan alat musik tidak hanya dari kelompok musik Melayu saja namun ia juga belajar dari adik ayahnya. Suatu ketika Paman Baidjuri yang merupakan pemain suling datang berkunjung kerumahnya dan tak sengaja membawa suling bersamanya. Baidjuri melihat suling yang dibawa oleh pamannya itu dan tertarik untuk memainkannya. Baidjuri dengan polosnya mengambil suling pamannya dan mentiup-tiupkannya. Baidjuri sebelumnya tidak pernah melihat suling dan ia tak tahu cara memainkannya. Pamannya dengan cepat melihat minat Baidjuri terhadap sulingnya dan ia pun menawari keponakannya itu untuk belajar memainkan suling, dari situlah kemudian Baidjuri mengenal suling. Baidjuri belajar memainkan suling saat ia masih duduk di kelas enam SR dan usianya ketika itu masih dua belas tahun.
 
Kebebasan Di Jogja
 
Tahun 1965, Baidjuri Tarsa menamatkan pendidikannya dari PGA di kota Pangkalpinang. Baidjuri merupakan angkatan pertama yang lulus dari PGA Pangkalpinang. Bulan Agustus Baidjuri melanjutkan pendidikannya ke SPIAIN Yogyakarta—setara dengan SMA sekarang. Meskipun pada waktu itu pemberontakan G 30 S PKI sedang bergejolak, Baidjuri tidak takut peristiwa tersebut akan mempengaruhinya.  Baidjuri merupakan anak yang beruntung saat itu jika dibandingkan dengan sebagian besar anak-anak lainnya di Pulau Bangka yang tidak dapat bersekolah. Orang tua Baidjuri merupakan pegawai tetap PT Timah, sehingga mereka dapat mengirim Baidjuri untuk melanjutkan pendidikannya di luar daerah. Terlebih, orang tua Baidjuri menaruh harapan yang besar agar anaknya dapat menjadi seorang guru agama sehingga mereka pun memiliki ambisi menyekolahkan anaknya di sekolah-sekolah khusus agama Islam.
 
Setelah lulus dari SPIAIN Yogyakarta, Baidjuri melanjutkan pendidikannya ke IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Pada waktu itu, murid SPIAIN Yogyakarta memiliki keistimewaan. Mereka dapat menjadi mahasiswa IAIN Sunan Kalijaga tanpa harus mengikuti tes dan juga bebas untuk memilih fakultas. Baidjuri memilih untuk masuk ke jurusan hukum fakultas Syariah IAIN Sunan Kalijaga. Namun Baidjuri memiliki hambatan dalam mengikuti studi yang ada di jurusan karena ia tidak memiliki bekal ilmu yang kuat dari sekolah PGA-nya di Pangkalpinang. Maklum saja, PGA Pangklpinang pada waktu itu baru dibuka dan belum memiliki kurikulum yang pas untuk membekali murid-muridnya. Sementara itu, teman-teman satu jurusan Baidjuri merupakan anak-anak yang berasal dari pesantren di Gontor, Bandung, dan pesantren lainnya yang menguasai bahasa Arab dan ilmu agama Islam yang lebih banyak dibandingkan dengan Baidjuri. Baidjuri pun akhirnya memilih untuk pindah ke Fakultas Hukum reguler di Universitas Proklamasi di tahun 1973.
 
Semenjak awal, Baidjuri tidak pernah berusaha untuk masuk atau pindah ke jurusan maupun universitas yang terkait dengan ilmu-ilmu seni musik. Baidjuri paham akan keinginan orang tuanya yang ingin melihat anak mereka menjadi seorang alim ulama di masyarakat. Semenjak kecil Baidjuri adalah anak yang penurut meskipun ia memiliki hasrat untuk bermusik dalam hatinya namun ia tak pernah menentang orang tuanya, tidak pula berusaha untuk menghilangkan hasratnya dalam bermusik. Baidjuri percaya suatu saat pasti ada jalan baginya untuk bebas bermusik tanpa harus mengecewakan atau menyakiti hati kedua orang tuanya. Baidjuri selalu berusaha menyeimbangkan semuanya, meskipun diwaktu kecil ia sering tampil bersama kelompok musik melayu namun di waktu-waktu tertentu ia juga ikut dalam lomba-lomba seperti membaca Al-Qur’an dan ia sering kali keluar sebagai juara dalam lomba-lomba tersebut.
 
Baidjuri merasa kesempatan untuk bermusik datang padanya sejak hari pertama ia menginjakkan kakinya di kota Yogyakarta. Di Yogyakarta Baidjuri memiliki kebebasan dalam mengekspresikan minatnya terhadap musik, ia tidak perlu sembunyi-sembunyi untuk bermusik karena ia tidak sedang dalam pantauan orang tuanya. Di SPIAIN Yogyakarta, Baidjuri Tarsa bergabung dalam kelompok musik folksong bersama dengan teman-temannya. Setelah melanjutkan pendidikannya di IAIN Sunan Kalijaga, ia tergabung dalam Samer Group. Sebuah kelompok musik folksong yang anggotanya berasal dari sabang sampai merauke*. Anggota kelompok ini terdiri atas enam orang yang berasal dari Bangka, Solo, Ambon, dan Irian. Di kelompok ini, Baidjuri memiliki peran sebagai pemain suling dan kendang. Baidjuri dan kelompoknya Samer Group, berhasil mendapatkan peringkat kedua dalam acara DIY Folksong dengan membawa lagu wajib Sepasang Mata Bola dan lagu daerah dari Palembang. Juara pertama diraih oleh kelompok Jeronimo yang merupakan kelompok yang telah matang dalam bermusik. Jeronimo merupakan sebuah kelompok musik yang cukup terkenal di DIY pada waktu itu, mereka bahkan telah memiliki album rekaman sendiri.
 
Setelah beberapa lama bergabung dengan kelompok musik Folksong Samer Group, Baidjuri memutuskan untuk bergabung dengan grup musik Dangdut yang bernama Cakrawala Group. Awal mula Baidjuri bergabung dengan kelompok musik ini adalah dari perkenalannya dengan seorang teman di SPIAIN yang mengetahui keahlian Baidjuri dalam memainkan alat musik dan mengajaknya itu ikut bergabung dengan grup Cakrawala. Bersama dengan kelompok ini Baidjuri mulai sering tampil di berbagai event di pulau Jawa, salah satunya di Semarang Fair yang saat itu diadakan di Jalan Simpang Lima Kota, Semarang. Saat itu, Baidjuri berperan sebagai vocalist dalam kelompok dangdut tersebut. Baidjuri dan grup Cakrawala merupakan kelompok dangdut yang cukup terkenal dimasa itu, mereka bahkan memiliki sejumlah fans.
 
Pada suatu hari berkat ketenarannya Baidjuri dapat tertolong dari peristiwa kerusuhan yang terjadi disekitar kost-kostannya. Kerusuhan itu bermula dari kasus pembunuhan yang dilakukan oleh salah seorang mahasiswa pendatang terhadap seorang tukang becak. Kasus pembunuhan tersebut memicu kemarahan warga Yogya disekitar terhadap mahasiswa pendatang sehingga terjadilah kerusuhan. Beruntung, seorang tukang becak mengenal Baidjuri dan menolongnya pada saat itu.
 
Ketenaran Baidjuri dan grup Cakrawala waktu itu akhirnya mendatangkan masalah lain bagi Baidjuri dan kebebasannya dalam bermusik. Penampilan Baiadjuri bersama grup Cakrawala di Semarang Fair tanpa sepengetahuannya telah diliput oleh sebuah majalah hiburan yang bernama Varia Nada. Majalah Varia Nada banyak mengulas tentang masalah-masalah perfilman dan juga memuat cerita-cerita bersambung, TTS, musik, profil selebriti, humor, lagu, serta tajuk-tajuk lainnya. Foto Baidjuri terpampang jelas di salah satu halaman dalam majalah tersebut. Beberapa lama sejak majalah itu terbit, secara tiba-tiba orang tua Baidjuri datang ke Yogyakarta. Tanpa sengaja mereka melihat foto Baidjuri dan grup Cakrawala di majalah Vari Nada yang dikoleksi oleh adik Baidjuri. Perasaan marah dan kecewa terhadap Baidjuri pun tertumpah, mereka meminta Baidjuri untuk menghentikan segala aktifitas bermusiknya dan serius menimba ilmu di Yogyakarta. Baidjuri yang tak bisa berkelit karena orang tuanya memiliki bukti kuat akan tindakannya pada akhirnya memutuskan untuk menuruti perintah orang tuanya meskipun nama Baidjuri yang dimuat di majalah tersebut di tulis Bainuri namun bukti foto sudah cukup bagi orang tuanya untuk menghentikan aktifitas anak mereka.
 
Disaat Baidjuri telah memilih untuk lebih fokus menimba ilmu dan berhenti bermain musik, ia pun menghadapi kenyataan hidup yang lainnya. Suatu ketika, Baidjuri memutuskan untuk pulang ke rumah agar dapat lebaran bersama dengan orang tuanya. Kepulangan Baidjuri kerumah akhirnya menjadi kepulangan terakhirnya dari Yogyakarta karena setelah itu tidak dapat kembali lagi ke Yogyakarta. Orang tua Baidjuri mengalami kesulitan dalam membiayai pendidikan anak-anak mereka karena ayah Baidjuri telah pensiun dari PT Timah. Baidjuri tidak berani membantah perintah orang tuanya karena ia merasa belum mampu untuk menghidupi dirinya sendiri terlebih untuk membiayai sekolahnya.
 
Membangun Kehidupan di Bangka
 
Setelah Baidjuri berhenti kuliah, ia hampir tidak melakukan kegiatan apapun di Bangka selain membentuk kelompok Qasidah dan Rebana. Pada waktu itu keluarga Baidjuri tinggal di daerah Lampur, disana Baidjuri membangun kelompok Qasidan dan Rebana dengan nama kelompok Baitur Rahim mengikuti nama masjid yang ada di Lampur. Anggota kelompok ini berjumlah sepuluh orang, empat orang diantaranya adalah adik-adik Baidjuri sendiri dan beberapa orang lainnya adalah tetangga Baidjuri. Baidjuri membina kelompok ini hampir selama tiga tahun, dan selama itu mereka sering kali menerima penghargaan ataupun menjadi juara dalam perlombaan-perlombaan Qasidah maupun Rebana. Salah satunya adalah juara dua dalam lomba Qasidah dan Rebana sekabupaten Bangka yang pada waktu diadakan di kota Pangkalpinang.
 
Orang tua Baidjuri tidak menentang Baidjuri untuk membangun kelompok ini dengan alasan bahwa aktifitas ini masih dalam lingkup kegiatan yang bernafaskan Islam. Bahkan mereka sangat senang dengan kelompok yang dibina oleh Baidjuri. Dalam beberapa kesempatan, orang tua Baidjuri bersedia mengantar Baidjuri dan kelompoknya untuk tampil di beberapa acara tertentu. Meskipun demikian Baidjuri dan adik-adiknya memandang kegiatan Qasidah dan Rebana yang mereka lakukan sebenarnya merupakan kegiatan berkesenian, yang membedakannya hanya bahasa dalam melantunkan syair-syair. Baidjuri dan adik-adiknya merasa cukup dalam menjalani kegiatan ini karena melalui kegiatan seperti ini mereka dapat menyalurkan hasrat mereka dalam bermusik tanpa harus menyakiti perasaan orang tua mereka.
 
Lama Baidjuri menganggur dengan hanya membina kelompok Qasidah dan Rebana, pada akhirnya orang tuanya memutuskan untuk pindah ke Sumerjo di Kota Pangkalpinang. Sekembalinya mereka ke rumah lama di Sumerjo, Baidjuri pun berkenalan dengan salah seorang perempuan muda yang tinggal tidak jauh dari rumahnya. Perempuan tersebut bernama Kessy Emilya, ia merupakan seorang perempuan muda yang cantik dan mandiri. Saat itu, Kessy telah bekerja di PT Timah Pangkalpinang di bagian listrik. Benih-benih cinta akhirnya tumbuh diantara mereka dan Baidjuri pun memutuskan melamar Kessy untuk menjadi isterinya. Baidjuri dan Kessy menikah pada tahun 1977.
 
Tahun 1978 Baidjuri diterima bekerja di PT Timah. Baidjuri ditempatkan dibagian pencucian timah dan ditugaskan di kantor PT Timah cabang Sungailiat. Di PT Timah Baidjuri kembali menemukan hasratnya dalam dunia seni. PT Timah pada waktu itu memiliki sebuah kelompok Paduan Suara dengan jumlah anggota sebanyak lima belas orang.  Sebagian besar anggota paduan suara tersebut berasal dari suku batak, Baidjuri memutuskan untuk bergabung dengan kelompok paduan suara tersebut dengan menjadi anggota ke-enam belas. Baidjuri merupakan satu-satunya anggota kelompok paduan suara yang berasal dari suku melayu dan beragama Islam. Baidjuri dan Kessy sebenarnya memiliki hobi dan minat yang sama terhadap dunia musik. Setelah Kessy ikut pindah ke Sungailiat mengikuti Baidjuri, ia juga ikut bergabung dalam kelompok paduan suara PT Timah. Kelompok paduan suara yang diikuti oleh Baidjuri dan Kessy sering kali menjadi juara dalam lomba-lomba paduan suara.
 
Setelah Baidjuri berkeluarga, perlahan-lahan ia mulai menemukan kebebasannya dalam bermusik. Protes-protes dari orang tuanya masih sering terdengar namun tidak seperti dahulu, mereka mulai sedikit terbuka terhadap minat yang dimiliki oleh anaknya. Tidak hanya menemukan kebebasan, Baidjuri juga mendapatkan dukungan penuh dari isteri tercintanya Kessy. Bahkan mereka membangun sanggar dan kelompok musik bernama Nada Sahara di daerah Pelaben, Batu Rusa. Kelompok musik Nada Sahara beranggotakan keluarga Baidjuri Tarsa sendiri, yaitu Baidjuri, istrinya, dan tiga orang anaknya yang bernama Wanda Sona, Rilian Sona, dan Rama Sona serta beberapa orang tetangga Baidjuri.
 
Bersama Wanda Sona, salah satu putranya, di Pasar Malam Indonesia, The Hague, Netherland, 2011 mengiringi tarian dari Rebang Emas
Performing in Pasar Malam Indonesia (Indonesian Night Market) The Hague, Netherland, 2011, as background music for Rebang Emas dance group
 
Dibawah binaan Baidjuri Tarsa, Nada Sahara sering kali diundang untuk tampil di acara-acara pesta pernikahan di wilayah sekitar Batu Rusa dan Sungailiat. Tidak hanya tampil di acara pesta pernikahan, Baidjuri juga sering mengirimkan anak-anaknya untuk ikut dalam perlombaan menyanyi baik di tingkat kabupaten maupun ditingkat provinsi*. Wanda Sona yang merupakan anak pertama Baidjuri dan Kessy, pada saat ia masih duduk di kelas enam SD berhasil mendapatkan juara pertama penyanyi cilik tingkat provinsi dalam acara Parade Lagu Daerah Sumatera Selatan. Tidak hanya Wanda, adik-adiknya pun sering kali keluar sebagai pemenang dalam lomba-lomba serupa. Baidjuri memahami dan mengenali bakat-bakat yang dimiliki oleh anaknya sehingga ia selalu berusaha untuk memberikan dorongan dan arahan pada anak-anaknya.
 
Sanggar Kite
 
Tahun 1990 Baidjuri ikut bergabung dengan kelompok Sanggar Pesona Wangka yang pada waktu itu dikelola oleh Junaidi Rahim. Di Sanggar Pesona Wangka, Baidjuri memiliki peranan sebagai penata musik untuk tari-tarian yang dikreasikan oleh Junaidi Rahim dan isterinya Ernawati atau yang akrab dipanggil dengan nama Mas Jun dan Mba Atik. Pada waktu itu, Sanggar Pesona Wangka yang dikelola oleh Mas Jun dan Mba Atik sering kali keluar sebagai penampil terbaik se-Provinsi Sumatera Selatan. Tahun 1995 Baidjuri memutuskan untuk keluar dari Sanggar Pesona Wangka bersama dengan beberapa orang lainnya. Di tahun yang sama Baidjuri bersama dengan beberapa orang yang juga ikut keluar dari Sanggar Pesona Wangka membangun kelompok sanggar yang baru, yaitu Sanggar Kite.
 
 Anggota kelompok Sanggar Kite pada mulanya berlatih di Gedung Sepintu Sedulang, berbagi dengan kelompok sanggar lainnya seperti sanggar Pesona Wangka dan sanggar Sepintu Sedulang. Ketiga sanggar ini pada waktu itu merupakan sanggar-sanggar yang cukup terkenal di daerah Bangka. Pembagian tempat dan waktu untuk berlatih anggota-anggota sanggar di Gedung Sepintu Sedulang sering kali tidak teratur sehingga Sanggar Kite dan Sanggar Sepintu Sedulang memutuskan untuk tidak berlatih di Gedung itu lagi. Anggota kelompok sanggar Kite yang dibina oleh Baidjuri akhirnya selalu berpindah-pindah tempat untuk berlatih. Baidjuri tidak pernah merasa putus asa hanya karena kelompok sanggarnya tidak punya tempat yang tetap untuk latihan. Baidjuri selalu berusaha untuk menyediakan tempat latihan bagi anggota kelompok sanggarnya dengan mengajukan surat permohonan peminjaman tempat ke pemerintah daerah seperti Gedung Diklat Daerah Bangka, Gedung Dharma Wanita Bangka ataupun Gedung Juang Bangka. Anggota kelompok Sanggar Kite pun tak pernah merasa keberatan untuk berpindah-pindah tempat latihan, mereka bahkan senang dapat berpindah-pindah tempat latihan karena suasana tempat latihan yang tidak monoton. Hingga saat ini, Baidjuri mengingat bahwa kelompoknya telah berpindah tempat latihan sebanyak lima belas kali.
 
Baidjuri selalu berusaha untuk dapat fleksibel dalam membina kelompok sanggarnya, ia tak pernah memaksakan kehendaknya pada setiap anggota, ia pun selalu berusaha untuk menemukan dan mewujudkan keinginan anggota-anggota sanggarnya. Baidjuri paham bahwa hasrat seni yang ada dalam diri setiap orang tidak dapat dipaksakan keberadaannya. Oleh karena itu, Baidjuri tak pernah menentukan atau bahkan memaksakan waktu untuk latihan kepada anggota-anggota sanggarnya. Waktu untuk latihan selalu ditentukan oleh anggota sanggar dan ia hanya mengikutinya saja. Selain itu, Baidjuri pun tak pernah meminta uang iuran kepada para anggota sanggarnya. Waktu yang diluangkan oleh para anggota sanggar untuk berlatih menari atau bermain musik dengannya sudah cukup bagi Baidjuri. Baidjuri memandang bahwa anggotanya adalah orang-orang yang telah rela mengorbankan waktu-waktu penting mereka hanya untuk sekedar menari atau belajar memainkan alat musik. Seorang anak SMA yang merupakan anggota sanggar Kite misalnya, telah rela mengorbankan waktu membantu ibunya membersihkan rumah hanya untuk ikut belajar menari. Waktu yang diluangkan oleh para anggota sanggar untuk berlatih merupakan bentuk penghargaan yang besar tidak hanya bagi dirinya dan nama sanggar yang ia bina, akan tetapi juga penghargaan terhadap kesenian daerah Bangka.
 
Baidjuri selalu merasa bangga akan anggota kelompok sanggarnya, karena meskipun ia tak pernah memilih anak-anak yang ingin ia ajari, namun anak-anak yang belajar menari dan bermain musik dengannya di Sanggar Kite merupakan anak-anak yang terbaik tidak hanya dalam berkesenian namun juga dari segi akademisnya memiliki prestasi yang bagus. Baidjuri selalu bertanya kepada anak-anak anggota kelompoknya tentang prestasi yang dimiliki oleh mereka di sekolah, sehingga ia dapat menyeimbangkan waktu bagi anak-anak untuk belajar berkesenian dan waktu untuk belajar dalam menunjang prestasi akademik mereka. Meskipun Baidjuri mengelola sanggarnya secara fleksibel dan banyak keterbatasan yang harus dihadapi, namun ia tak pernah merasa kekurangan anggota. Anak-anak yang belajar menari ataupun bermain musik selalu datang silih berganti ke sanggarnya. Pada waktu-waktu tertentu seperti misalnya saat akan tampil di festival-festival di luar daerah Bangka, jumlah anak-anak yang latihan akan meningkat karena masing-masing ingin dipilih oleh Baidjuri untuk turut serta tampil dalam festival tersebut.
 
Semenjak berdiri di tahun 1995, beberapa anggota Sanggar Kite telah mendirikan sanggarnya sendiri seperti Wanda Sona yang mendirikan sanggar Lawang Budaya,  Agus Yaman mendirikan sanggar Rebang Emas, dan Riesky Amalia mendirikan sanggar Selonjor Purun. Meskipun demikian, sanggar-sanggar pecahan dari Sanggar Kite masih berhubungan baik dengan Baidjuri dan dalam beberapa kesempatan sanggar-sanggar tersebut berkerjasama dan berkolaborasi dengan Baidjuri seperti dalam menciptakan musik sebagai latar tarian. Wanda Sona misalnya, sering kali meminta Baidjuri mengomposisi musik untuk tarian yang ia kreasikan. Agus Yaman pun pernah mengajaknya untuk tampill bersama di Belanda dalam acara Sanggar-sanggar pecahan Sanggar Kite pun memiliki prestasi yang bagus, seperti Sanggar Rebang Emas keluar sebagai penampil terbaik di Festival Serumpun Sebalai Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Tahun 2015.
 
Jam session bersama Wanda, Agus Yaman (Rebang Emas) dan Rodrigo Parejo pemain flute klasik asal Spanyol di PMI 2011 di Den Haag
Jam session with Wanda, Agus Yaman (Rebang Emas), and Rodrigo Parejo – a classical Spain flautist at PMI 2011 in Den Haag
 
Jalan Menuju Gelar Maestro: Ihlas dan Tekad
 
Tahun 1997 PT Timah mengalami krisis sehingga terjadi pemutusan hubungan kerja terhadap karyawan-karyawannya, Baidjuri pun tak terkecuali masuk dalam daftar pemutusan kerja karyawan PT Timah saat itu. Untuk menopang hidup keluarga dan sanggar yang telah ia bentuk, Baidjuri akhirnya memutuskan untuk berwiraswasta. Usaha Baidjuri tidak besar juga tidak kecil, namun cukup untuk membiayai kehidupan keluarganya, menyekolahkan anak-anaknya, dan sedikit untuk mengelola sanggarnya. Baidjuri berusaha untuk menjalankan semuanya dalam kesederhanaan, ia tak pernah memaksakan dirinya untuk mendapatkan atau memaksa orang lain untuk memberikan lebih padanya karena apa yang ia miliki sudah cukup. Ia tetap mengajar anak-anak yang ingin bermain musik atau menari di sanggarnya secara gratis, bilapun mereka harus tampil ia hanya mengharap bantuan dari pemerintah dan menggunakan sedikit uang yang ia alokasikan dari pendapatannya untuk sanggar.
 
Biaya operasional sanggar Kite pada dasarnya tidak hanya ditunjang oleh penghasilan Baidjuri pribadi, namun juga didapat dari hasil tampil—setelah sebagain dibagi kepada anggota sanggarnya yang tampil, dan dari hasil usaha sewa baju daerah yang dimiliki sanggar  Kite. Oleh karena itu, Baidjuri tak pernah memusingkan masalah biaya untuk mengelola sanggar yang ia bangun itu. Ia selalu percaya selama dirinya ikhlas dalam mengelola sanggarnya dan membagi ilmunya dalam berkesenian akan selalu ada jalan baginya.
 
Keikhlasan dan tekad Baidjuri pada akhirnya berbuah manis, Tahun 2014 ia dianugrahi gelar maestro seni pertunjukan oleh Kementerian Pendidikan dan kebudayaan RI. Sebuah gelar yang tinggi namun tak membuatnya tinggi hati. Dengan mendapatkan gelar maestro, Baidjuri mendapatkan hak untuk menerima tunjangan seumur hidup atas jasa-jasanya di dunia seni. Dengan adanya tunjangan tersebut, jalan Baidjuri untuk berkarya semakin terbuka lebar.Hingga tulisan ini dibuat, Baidjuri tak pernah tahu secara pasti alasan ia mendapatkan gelar Maestro. Ia hanya menduga-duga bahwa ada juri atau narasumber dalam workshop kesenian yang sering ia ikuti melihat permainan sulingnya sehingga mereka memberikan gelar maestro padanya.
 

Pada tahun 2014, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menerima surat tentang usulan maestro kesenian. Berdasarkan surat tersebut, Engkus Kuswenda yang pada saat itu merupakan Kepala Bidang Pengembangan Kebudayaan, memutuskan untuk mengusulkan nama Baidjuri sebagai penerima anugrah gelar maestro. Engkus Kuswenda sebenarnya telah lama memperhatikan peran Baidjuri dalam kesenian daerah Bangka Belitung, ia melihat Baidjuri adalah sosok yang tak banyak bicara namun aktif dalam berbagai kegiatan kesenian, baik dalam seminar, workshop, festival, perlombaan, kepengurusan dewan kesenian dan lembaga adat, pelestarian seni tradisi, dan kegiatan-kegiatan lainnya meskipun usia Baidjuri tak muda lagi. Engkus menilai loyalitas Baidjuri terhadap kesenian daerah sangat tinggi, ia tidak hanya bersedia memberi namun ia juga dengan rendah hati bersedia menerima masukan dari berbagai pihak tanpa memandang orang yang mengkritiknya. Tak hanya itu, Baidjuri selalu menjadi pemenang di setiap lomba yang ia ikuti sehingga Engkus Kuswenda akhirnya mengusulkan namanya untuk mendapatkan gelar maestro di tahun 2014. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, sebenarnya pernah mengusulkan nama-nama seniman lainnya untuk mendapatkan gelar maestro namun nama-nama tersebut gagal mendapatkan gelar maestro.

Dikagumi oleh pengunjung baik tua maupun muda pada Pasar Malam Indonesia 2011 di The Hague
Admired by either young or senior visitors at the Indonesian Night Market 2011 in The Hague
 
Seperti Batman, tak banyak yang tahu bahwa Baidjuri telah menjadi maestro dari Bangka Belitung. Meskipun demikian baik Baidjuri maupun Batman, mereka tak pernah berhenti berkarya. Hingga saat ini Baidjuri telah menciptakan banyak lagu-lagu daerah seperti Zapin Melayu, Ngibur Ati, Amang Nelayan, Bujang Kalu, Pantai Bangka, Janji Ngerapi’ di Pantai Rumodong, Renyek Pulang, La takdir, We Heu E, Nyieng Kebon, Kute Lame, Ingatlah, Gup Gup Sir, dan lain-lainnya. Beberapa lagu ciptaan Baidjuri telah diakui kekaryaannya oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab, namun Baidjuri tak pernah mau mempermasalahkannya karena bagi Baidjuri lagu-lagu yang ia ciptakan adalah untuk masyarakat Bangka Belitung sehingga semua masyarakat memiliki hak atas ciptaannya. (30/9)
 
Naskah-Naskah Autentik Karya Baidjuri/ The authentic works of Baidjuri