Batman "Sang Penyair Dari Laut"

Bahasa Indonesia/ English
 
Awal Kehidupan
 
Maestro Campak Dalong yang dikenal dengan nama Batman lahir di Pulau Kalang Bau, Belitung Timur pada tahun 1942. Batman merupakan keturunan suku Orang Laut yang dikenal dengan sebutan suku Sawang atau Sekak. Ibunya bernama Dayang Amah dan ayahnya bernama Salim. Dayang Amah melahirkan Batman di sebuah perahu yang ditambatkan di pantai Pulau Kalang Bau dengan bantuan dari suaminya. Jauh-jauh hari, suaminya telah memanjangkan kuku untuk memotong plasenta bayi yang akan dilahirkan. Melahirkan di atas perahu merupakan proses kelahiran yang lazim dalam kehidupan suku Sawang pada saat itu. Perahu adalah rumah bagi suku Sawang, hampir sebagian besar daur hidup mereka terjadi di atas perahu. Hanya sesekali saja orang-orang Suku Sawang turun ke daratan dan mendirikan rumah-rumah sederhana untuk menghindari cuaca buruk di lautan.
 
Batman merupakan anak ke enam dari sembilan bersaudara. Di usia enam tahun, ayahnya meninggal dunia dan Ia juga terpaksa harus berpisah dengan salah seorang kakaknya yang bernama Ramli. Pada saat itu Ramli sering kali jatuh sakit, oleh karena itu Dayang Amah menyerahkannya kepada saudaranya Atung untuk merawat Ramli. Kemudian, Batman dan ketujuh saudaranya beserta ibunya tinggal di pulau kecil di Laut Lepar, dan di sana Dayang Amah menikah lagi dengan Tegap, Kepala Kampung Kumbung. Setelah Tegap meninggal dunia, Dayang Amah memutuskan membawa anak-anaknya pindah ke Pulau Semujur.
 
Bersekolah
 
Masa kecil Batman sebagian besar dihabiskan di laut di dalam rumah perahu hingga suatu ketika keluarganya turun ke daratan di Pulau Belitung. Pamannya yang membesarkan kakaknya, Ramli, mengajaknya bersekolah. Saat itu Batman telah menginjak usia empat belas tahun, usia yang cukup dewasa untuk mulai bersekolah. Batman masuk kelas satu, di Sekolah Dasar Tanjungpandan. Berbeda dengan Ramli atau yang biasa dipanggil Lek, Batman tidak menyelesaikan sekolahnya. Batman hanya bersekolah selama tiga hari saja. Alasan Batman hanya bersekolah selama tiga hari adalah karena guru-guru tidak sanggup menangani kenakalan Batman, walaupun sebenarnya dia termasuk dalam kategori anak yang cerdas.
 
Pendidikan formal bukanlah hal yang penting bagi Batman. Menjadi pintar bukan berarti harus pandai membaca dan menulis. Pandai membaca dan menulis namun bila adab terhadap sesama manusia dan mahluk Tuhan lainnya jelek maka tidak ada artinya kepandaian itu semua. Walaupun Batman sering berkelahi pada masa kecilnya namun dalam tutur katanya ia berbicara dengan kata-kata yang baik. Seperti ungkapannya “Dalam berbicara dengan orang lain harus air gula yang kita berikan kepada mereka, air pahit untuk kita sendiri. Jadi manis dipandang orang meskipun pahit kita pandang, namun jangan pula manis di depan orang dibelakangnya jelek. Tidak sedap perilaku seperti itu.”
 
Nilai-nilai kehidupan banyak didapatnya dari ibunya. Pelajaran paling penting yang diingatnya adalah tidak serakah, sebuah sifat yang akan merugikan diri sendiri. “Ambil secukupnya saja, sesuai yang dibutuhkan.” Begitu kata Dayang Amah kepada Batman kecil. Memang setiap kali, sebelum orang tuanya pergi mencari makanan, mereka akan bertanya kepada anak-anaknya makanan apa yang ingin mereka makan dan seberapa banyak mereka dapat memakannya, sehingga tidak ada makanan sisa karena mengambil makanan lebih banyak dari yang dibutuhkan. “Sedih sekali rasanya melihat makanan yang tidak habis dimakan”, tutur Batman.
 
Ilmu Dari Mamak dan Kepercayaan Tradisional
 
Batman pertama kali membawa campak dalong  pada usia enam tahun, saat itu ritual yang dibawanya adalah jitun. Sebelum mendapatkan ilmu keturunannya, Batman sering bertanya kepada ibunya tentang ritual yang sering dilakukan oleh ibunya seperti membuat patong atau membuat jong dan ritual-ritual campak dalong seperti jitun, nek unai, dan yang lainnya. Saat ibunya memainkan kendang, Batman selalu ikut bernyanyi. Ibunya menjelaskan padanya tentang irama kendang dan lagu-lagu yang ia mainkan. Setiap lagu memiliki irama kendang yang berbeda seperti lagu Daek berbeda irama kendangnya dengan lagu Nusur Tebing.
 
Ilmu keturunan yang dimiliki Batman diperolehnya saat ia  berusia enam tahun. Ilmu keturunan tersebut adalah ilmu gaib yang turun dari mamak (ibu) kepadanya secara tiba-tiba, tanpa ada suatu prosesi ritual tertentu dan tanpa ada syarat-syarat tertentu yang harus dipenuhi untuk mendapatkan ilmu keturunan tersebut. Satu-satunya pertanda bahwa ilmu gaib tersebut sampai padanya adalah kedatangan seekor burung hutan yang memiliki bulu berwarna hitam dan putih. Tidak jelas jenis burung tersebut, Batman hanya mengingat warna bulu dari burung yang datang padanya.
 
Pertanda datangnya ilmu keturunan kepada setiap calon penerimanya berbeda-beda. Pada Batman, pertanda yang muncul adalah ia didatangi seekor burung. Namun dalam kasus yang lain, pertanda yang datang adalah berupa mimpi, biasanya mimpi minum air dari sebuah gelas yang didalamnya terdapat wajah mamak atau bapak. Arti dari mimpi tersebut menggambarkan bahwa ilmu keturunan dari mamak atau bapaknya akan masuk atau turun kepadanya.
 
Dari sembilan bersaudara itu, hanya Batmanlah yang memiliki ilmu keturunan. Walaupun semua saudaranya ikut belajar menari dan bernyanyi serta cara-cara melaksanakan ritual-ritual dalam tradisi Orang Laut seperti Muang Jong, mereka tidak memiliki kekuatan untuk memanggil arwah yang konon membantu dalam ritual Muang Jong tersebut. Hal ini dikarenakan hanya Batman yang mendapatkan ilmu keturunan sehingga ia dapat melakukan pemanggilan arwah. Sebenarnya, menurut Batman yang dapat memiliki ilmu keturunan adalah generasi-generasi keturunan kepala suku Orang Laut. Dalam hal ini, Dayang Amah, Ibu Batman adalah seorang Sawang, yang menempati urutan kedua setelah Pawang (Kepala Suku). Selain itu, potensi Batman sebagai pewaris ilmu keturunan juga telah diamati oleh seorang Pawang ketika Batman Kecil.
 
One of Orang Laut in trance performing "Jitun" at the Buang Jong Ritual in Lepar Island (2010)
 
Seorang calon kepala suku yang mewarisi ilmu keturunan akan menampakkan ciri-ciri sebagai anak yang paling sehat dan kuat serta paling percaya diri di antara anak-anak yang lainnya. “Tidak peduli seburuk apa pun cuaca, hujan atau panas, anak yang akan mendapat ilmu keturunan tidak akan sakit” ungkap Batman. Batman pun pada saat masih kecil adalah anak yang kuat, berbeda dengan saudara-saudaranya yang lain. Saat ini, tanda-tanda penerus dirinya telah terlihat pada keponakannya yang bernama Johori. Ada tiga calon penerus ilmu keturunan yang dipegang oleh Batman saat ini, namun calon kuat hanya terlihat pada Johori. Saat ini pun Johori sudah memiliki sebagian ilmu keturunan dan dapat melakukan upacara Buang Jong, namun untuk melakukan upacara tersebut ia tetap harus meminta izin kepada Batman. Ilmu keturunan akan turun kepada Johori secara penuh bila Batman meninggal dunia nantinya.
 
Celana Yang Tak Pernah Kering
 
“Sedih sekali jika mengingatnya, rasanya ingin menangis saja. Sekarang saya bisa duduk santai dirumah, berbeda dengan dahulu celana ini tak pernah kering di badan.” Ungkap Batman sebelum ia mulai menceritakan pekerjaan-pekerjaan yang dilakukannya untuk menghidupi diri dan keluarganya. Kisahnya yang bekerja dengan sangat keras diawali dengan prinsip hidup yang telah ditanamkan oleh orang tuanya dalam dirinya.
 
Kehidupan orang laut yang keras di tengah lautan telah menumbuhkan semangat kerja yang tinggi di dalam kehidupan mereka. Semangat kerja yang dimiliki oleh Orang Laut tersebut tercermin dalam pantangan menyebut kata Kepak (bahasa Belitung) atau lelah dalam bekerja. Setiap orang harus ikhlas dengan pekerjaan yang dilakukannya, oleh karena itu dilarang mengeluh ketika bekerja. Saat bekerja perasaan lelah adalah hal yang paling manusiawi dirasakan oleh setiap orang namun perasaan lelah dalam bekerja tidak lantas harus dituruti dengan berkeluh kesah, justru perasaan seperti itu harus dilawan.
 
Batman mulai bekerja pada saat usianya mulai menginjak umur empat belas tahun. Ia bekerja apa saja yang penting ia mendapatkan penghasilan, walaupun saat itu ia masih bergantung hidup kepada orang tuanya. Batman memiliki cerita tersendiri tentang orang-orang Belanda yang dahulu menumpang naik ke kapalnya, pada saat ia masih berusia empat belas tahun. Meskipun Indonesia sudah merdeka pada waktu itu, namun orang-orang Belanda belum sepenuhnya pergi meninggalkan Indonesia. Orang Laut sering kali diminta untuk mengantar orang-orang Belanda yang hendak menyeberang ke Pulau Belitung atau dari Belitung ke Bangka. Sekali perjalanan ia akan mendapatkan upah sebanyak tiga keping uang benggol. Mata uang Belanda disebut dengan nama duit benggol, karena uang koin yang berlaku pada saat itu memiliki lubang di tengahnya. Uang yang didapat dari Belanda digunakan untuk membeli beras. Ia pernah mendapat upah dua potong kue atas jasanya mengangkut air, padahal air yang harus diangkut banyak. Ia juga pernah memancing dan mendapat upah sebesar tiga rupiah sementara orang lain mendapat upah lebih banyak darinya, padahal jumlah ikan yang berhasil ditangkap hampir sama banyaknya. Hal tersebut dikarenakan, ia masih dianggap anak kecil oleh orang-orang sehingga ia hanya diberi upah yang sedikit. Namun itu semua tetap dikerjakan oleh Batman tanpa mengeluh, ia menganggapnya sebagai nasib yang kurang beruntung saat itu.
 
Setelah ia menikah dengan Surya, seorang wanita dari Desa Puding yang tak sengaja ia jumpai setelah menonton Film/Layar Tancap di Pangkalbalam, Batman bekerja sebagai pencari teripang. Pada tahun 1970-an Batman pindah ke pulau Semujur dan menetap di sana bersama dengan istri dan anaknya. Batman bekerja sebagai pencari teripang (dalam bahasa Orang Laut teripang disebut juga gamat). Pekerjaan ini adalah pekerjaan utama Orang Laut selain memancing ikan. Mencari teripang adalah pekerjaan yang membutuhkan keahilan menyelam yang memang dimiliki oleh Orang Laut semenjak dulu. Mereka menyelam tanpa menggunakan alat bantu pernafasan seperti yang digunakan oleh para penyelam modern sekarang. Satu-satunya alat yang digunakan oleh Batman dan Orang Laut lainnya untuk menyelam adalah sebuah kaca kecil untuk membantu mereka melihat di dalam air. Kaca tersebut dibuat dengan cara ditempelkan dengan menggunakan lilin pada bingkai kayu. Seluruh Gamat yang diperoleh oleh Batman, kemudian dimasak oleh Surya, istrinya, sementara ia hanya menemani sambil bernyanyi dan bermain gendang. Masa itu, adalah masa yang gila menurut Batman. Setiap hari ia pergi mencari gamat lalu pulang untuk istirahat sambil memainkan kendang, jika tubuhnya sudah terasa segar kembali ia kembali ke laut untuk menyelam. Hari-harinya hanya dihabiskan untuk dua hal saja, menyelam dan berkendang.
 
Batman tak pernah pilah pilih pekerjaan, ia berusaha bekerja sekuat tenaganya. Sampai-sampai ia pernah menghadapi kenyataan pahit yang membuatnya dipenjara di luar negeri, namun hal ini terjadi karena ia sama sekali tidak mengerti masalah hukum. Sekali waktu Batman ditawarkan oleh beberapa orang untuk membawa timah dari Pulau Semujur ke Singapura. Saat itu Batman tidak mengetahui bahwa timah yang dibawanya adalah barang ilegal. Setelah beberapa kali Batman membawa kapal dengan muatan timah selundupan ke Singapura pada akhirnya datanglah hari dimana ia tertangkap oleh polisi laut Malaysia. Peristiwa penangkapan itu berlangsung saat kapal yang dibawa Batman mulai memasuki wilayah perairan Malaysia pada malam hari. Mereka ditangkap pada pukul dua belas malam. Batman kemudian dibawa ke Kuala Lumpur untuk menjalani persidangan. Sambil menjalani proses persidangan Batman di tahan di Johor hingga akhirnya ia dibebaskan dari segala tuntutan.
 
Namun demikian, Batman yakin bahwa hidupnya akan berubah dengan kerja kerasnya itu. Celana yang tak pernah kering suatu saat pasti akan mengering juga. Pada tahun 2010, Batman mendapatkan gelar Maestro Campak Dalong dari Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata RI atas usulan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Kepulauan Bangka Belitung atas jasa-jasanya dalam melestarikan kesenian Campak Dalong.
 
Meskipun demikian tidak lantas membuat Batman berdiam di rumah, banyak hal yang ia lakukan sehari-hari, seperti mencari kayu bakar di hutan. Kadang kala ia harus berjalan hingga berkilo-kilo meter ke dalam hutan untuk menebang kayu, lalu memikul kayu tersebut ke rumah dengan berjalan kaki. Bila ia merasa kelelahan ia akan berhenti untuk beristirahat lalu kembali lagi melanjutkan perjalanannya sambil memikul kayu hingga sampai di rumah. Tidak hanya mencari kayu bakar untuk memasak, batman juga kadang kala memelihara ayam potong. Biasanya ia memelihara ayam potong menjelang lebaran Idul Fitri.
 
Untuk mempertahankan kesenian Campak Dalong, Batman melatih anak-anak dan pemuda-pemuda yang ada dilingkungannya setiap hari jum’at malam atau minggu malam, di teras rumahnya yang berfungsi sebagai sanggar Campak Dalong. Ia juga sering kali diundang dalam beberapa kegiatan seperti Festival Serumpun Sebalai dan Festival Seni Tradisi yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

 
Early Life
Batman, a Campak Dalong maestro, was born in Kalang Bau Island, Belitung Timur, in 1942.  As a descendant of Orang Laut tribe (orang= people, laut = Sea) or also known as Sawang and Sekak tribe, her mother, Dayang Amah, brought him into the world on a boat anchored to the island. His father, Salim, helping the maternity process, had kept his nail long before that day to cut his baby’s placenta. It was common for the tribe members to give birth on boats for they spend almost all their lives on boats. Once in a while, they build temporary houses on an island to shelter from rough sea.
 
He was the sixth of the nine siblings. When he was six-year-old, his father died and he had to separate with his brother, Ramli who easily got sick. Dayang Amah asked his brother, Atung, to take care of Ramli and took the rest of the family to live on a small island in Lepar waters where Dayang Amah got married with Tegap, the head of Kumbung Village. After Tegap died, Dayang Amah then decided to take her children to live in Semujur Island.  
 
Education
Batman spent almost all his childhood at sea, on his boathouse, until his family beached on Belitung Island. His uncle, who raised Ramli, sent him to an elementary school in Tanjungpandan. He was fourteen, far above school starting age, at that time. However, he just studied for three days, different from Ramli or Lek who could finish his study. He said it was because the teachers could not handle his naughtiness, even though he was considered a smart boy.
 
Formal education is not everything to him. To be smart does not always mean to be able to read and write. It is useless if someone behaves badly to other God’s creation. Therefore, even though he was naughty, often fought against others, in his childhood, he always spoke politely to others. “In speaking to others, we have to offer sweet [sugared] drink to them and let the bitter one for ourselves. Other people will have a good impression, even though it is bad for us. Don’t offer something sweet but behave badly at the back. It’s not good behavior.”
 
His life values were inherited from his mother. Don’t be greedy is the most important value he remembers well because greed will put someone at a great disadvantage. “Take something adequately, just to meet our needs,” Dayang Amah told little Batman. Every time before his parents leaving to look for food, they asked their children about what to eat and how much they could eat, so there would be no leftover food because they never took more than their need. “It’s really sad to see leftover food,” he said.
 
The Inherited Magical Power and Traditional Belief
 
Batman firstly performed Campak Dalong when he was six, in Jitun ritual. Before inheriting the magical power, he often asked his mother about the ritual she often performed, like the making of patong or jong and other Campak Dalong rituals like jitun, ne kunai, and others. When his mother played kendang, a traditional drum, Batman sang along to it. His mother explained him about the beat and songs. Every song had different beat like Daek which was different from Nusur Tebing song.
 
His magical power was inherited from his mother when he was six without any procession and requirements to fulfill to get it. He just got it. The only sign informing him that the power had become his was a black and white bird coming to him. It is an unknown bird and he just remembers the color of its feather.
 
The sign can be different to each other. The common sign is a dream about drinking from a glass with a face of his mother and father in it. It means that the power from parents will be inherited and possessed by the descendant.
 
Batman is the only child having the power. Even though all of his siblings learned to dance, sing, and perform the ritual of Orang Laut tradition like Muang Jong, they do not have the power to invite spirits helping in the ritual. Batman is the only person who can do it because of the magical power. In fact, according to Batman, the power can only be possessed by descendants of the tribe head. Related to this, besides Dayang Amah was a Sawang and at the second position after Pawang or the head tribe, Batman’s potentiality to inherit the power had been observed by the Pawang when he was a child.
 
One of Orang Laut in trance performing "Jitun" at the Buang Jong Ritual in Lepar Island (2010)
 
A future head tribe inheriting the power will appear to be the healthiest, strongest and the most self-confident child among others. “No matter how bad the weather is, the chosen boy will not get sick,” he said. Little Batman was a strong boy, different from his other siblings. At this present, the sign of the person to inherit the power is his nephew, Johori. There are actually three future inheritors. However, the biggest possibility is Johori who has mastered half of the power. Johori can perform Buang Jong on his own even though he must ask the permission from Batman. The power will be fully possessed by Johori after Batman has passed away.
 
The Always Wet Shorts
 
“The thought of the past memory is tearing my heart out. Now I can comfortably sit at home. Back then, my shorts was always wet, never got dry on my body,” he said before starting to tell about his works to earn a living. His hard work discipline is the fruit of life principle instilled by his parents.
 
The hard life of Orang Laut, or seafaring people, has raised high working spirit in them reflected in a taboo to spell the word tired or kepak in Belitung local language. Everybody must work wholeheartedly, therefore the word tired is forbidden in working. In spite of complaining, the natural feeling of human being must be well-maintained.
 
Batman started to work when he was fourteen-year-old. He did everything to earn a living although he still lived with his parents. He keeps a piece of his life story on the Dutchmen hiring him to take them from Bangka to Belitung and vice versa. He was only paid three benggol – a coin with a hole in the middle of it – to buy rice. He also ever got two pieces of cake as a payment for his service in delivering quite a plenty of water. In some occasion, he ever caught many fish and was only paid three rupiah, while others got more money with the same number of fish. It was all because he was considered a child so he only worth less than other. However, he kept doing it without complaining and just thought he was a bit unfortunate at that time.
 
After getting married to Surya, a villager of Puding whom he unintentionally met after watching a film in the open air at Pangkalbalam, Batman worked as a sea cucumber diver. In 1970, he moved to Semujur Island with his family and kept collecting sea cucumber, known as gamat, from the sea. It is the main job of Orang Laut besides fishing. Looking for sea cucumber requires diving skill inherited by seafaring people. They dive without oxygen tank and other modern diving equipments. The only tool Batman had at that time was a small glass made by sticking it to a wooden frame with candle to help him see in the water. All sea cucumbers got by him were cooked by Surya, while he accompanied her by singing and playing kendang. It was his crazy days, according to Batman. Every day, he just dove to collect sea cucumber and then went home to take some rest by playing kendang before diving to get more when he had already refreshed. He spent his days just for two things, diving and playing kendang.
 
Batman was never choosy about working. He just worked the best he could. One day, because of his incomprehension of law, he faced a bitter reality of which he had to be in jail abroad. He was just doing his job ordered by some persons to transport tin from Semujur Island to Singapore without realizing it was illegal. After some successful transporting jobs, one midnight he was arrested by sea patrol at Malaysian waters. He was taken to Kuala Lumpur and detained in Johor to face trial until he was acquitted of all the charges against him. 
 
However hard his life was, Batman always believed his life would change owing to his hard work. The wet shorts will dry someday. In 2010, a title of Campak Dalong Maestro was conferred on him by the Ministry of Culture and Tourism of Republic of Indonesia, nominated by Culture and Tourism Office of Kepulauan Bangka Belitung Province. It was because of his contribution to preserve Campak Dalong.
 
The title does not make him just take it easy at home. He still does his routine like looking for firewood. Sometimes he has to walk for few kilometers inside the forest to cut and carry it on his shoulder. If he feels tired, he will stop to rest for a while before continue walking back to his house. Sometimes, he also breeds chicken to be slaughtered prior to Eid Al-Fitr.
 
To preserve his art, Campak Dalong, Batman teaches youngster in his neighborhood on the veranda in front of his house functioned as Campak Dalong dance studio. He was often invited to perform his art in some festivals such as Serumpun Sebalai or Art and Tradition Festival held by provincial Culture and Tourism Office.

English Translator: S. A. Sobri
Foto: Yuyun Tri Widowati (FSS 2015), Rusni Budiati (Lepar Island, 2010)
Editor: Mustiar/Zelly
Penulis: 
Hera Riastiana
Sumber: 
Interview oleh Hera Riastiana (Disbudpar Babel, 2015)
Images: