Batu Berputar

Bahasa Indonesia/ English
 
Batu Berputar sekilas hanyalah seperti batu kali biasa berwarna hitam mirip dengan batu ulekan yang biasa dipergunakan penduduk Bangka Belitung untuk menghancurkan bumbu masakan. Si pemilik batu yang bernama lengkap Khusnul Yakin, mencoba menginjak batu tersebut dan tiba- tiba batu tersebut berputar ke arah kanan, sesuai dengan pikirannya. Batu itu ditemukan di depan rumah  orang tua Khusnul pada bulan Agustus tahun 2004.
 
Berpegangan tangan suaminya, wisatawan ini sedang berputar di atas Batu Berputar yang lebih kecil
 
Awalnya batu tersebut berbentuk bulat sempurna, tetapi karena terlalu sering diinjak dan berputar, batu tersebut menjadi aus dan berubah bentuk, serta timbul benjolan seakan-akan batu tersebut tumbuh, sehingga kini tidak lagi terlihat bulat.
 
Khusnul mengatakan bahwa  batu tersebut menggunakan energy yang ada dalam tubuh orang yang menginjak atau memegangnya untuk berputar. Menurut Khusnul, batu ini memberi reaksi pertama kali ketika ada yang bertanya arah kiblat, yang kemudian ditunjukkan dengan tepat oleh batu tersebut. Saat ini, batu tersebut menjadi salah satu atraksi wisata bagi pengunjung yang ingin tahu bagaimana rasanya menaiki dan berputar di atas batu kecil tersebut. Bahkan salah satu mantan presiden RI pernah juga mencoba menaiki dan berputar di atas batu tersebut.
 
Menurut Khusnul, jika saat dinaiki batu tersebut berputar dengan kencang, kemungkinan rejeki si penginjak sedang lancar, namun jika saat diinjak batu tersebut tidak berputar, besar kemungkinan orang tersebut sedang menderita suatu penyakit. Batu berputar ini juga digunakan sebagai alat pijat refleksi dan mendeteksi penyakit si penginjak.
Batu Berputar ini jika diletakkan di atas barang-barang ritual akan meloncat sendiri seolah-olah tidak suka. Perempuan hamil ataupun sedang datang bulan tidak diperbolehkan untuk naik ke batu. Batu ini menurut Khusnul tidak dapat digunakan untuk hal-hal yang tidak baik, seperti berjudi. Batu Berputar kadang-kadang dibawa untuk mengikuti ekshebisi di luar Bangka Belitung.
 
Selain Batu Berputar, juga terdapat satu lagi batu kecil yang dapat berputar . Batu ini selain ukurannya lebih kecil bentuknya juga agak datar. Batu kecil ini ditemukan di depan pintu mesjid oleh adik Khusnul. Ketika dicoba, ternyata batu kecil juga bisa berputar . Batu kecil tersebut akhirnya ikut juga dipertontonkan bersama Batu Berputar. Jika wisatawan ingin mencoba berdiri diatas Batu Berputar, bisa datang ke kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Belitung Timur  pada hari kerja.

 
Batu Berputar (spinning stone) is just like ordinary river stone, the same black color as pestle stone, usually used by Bangka Belitung people to crush and grind ingredients. The stone owner, Khusnul Yakin, tried to step on the stone and suddenly it span to the right, the same way with his mind. This stone was found in front of his parents’ house in August 2004.
 
Originally the stone is rounded but because it is often being trodden and spun, it becomes worn out and changed in shape and there are lumps as if the stone is growing now, it is not rounded anymore.
 
Khusnul said that the stone spins by using energy in the body of people who tread or hold it. According to Khusnul, the stone gave first     reaction when someone asked the direction of the Ka’bah, then the stone showed it correctly. Currently, this stone becomes one of tourist attractions for visitors who curious to know how it feels to step up on the stone and spin on that small stone. Even one of former President of the Republic of Indonesia ever tried it.
 
Khusnul said, when the stone spins fast, means the person is having good sustenance. However, if it does not spin, means the person is having illness. Spinning stone is used as reflection massage and illness detection tools.
 
If the stone is attached to ritual equipment, it would leap itself as if to show its dislike. Pregnant women or women in period are not allowed to tread the stone. It also can not be used to do bad things, like gambling. Sometimes the stone also brought to be displayed in exhibition outside Bangka Belitung.
 
Besides this spinning stone, there is another spinning stone but smaller and has circular shape. It is found by Khusnul’s brother in front of the door of a mosque. This stone is also exhibited together with the other spinning stone. If tourists want to try them, they can come to Tourism and Culture Office, East Belitung Regency during office hours.

Penulis: Risnawati
Translator: Rita Eviyanti
Editor: Yuliarsih (Bahasa Indonesia)/ Rosy Handayani
Photos: Rusni

Destinasi Lainnya

Bangka Belitung, Culinary
Kota Pangkalpinang, Culture and Arts
Beach/Marine, Kabupaten Bangka Barat
Beach/Marine, Kabupaten Bangka Tengah
Nature, Kota Pangkalpinang, Culture and Arts

Destinasi Terkait

Culture and Arts, Kabupaten Belitung, Kabupaten Belitung Timur
Culture and Arts, Kabupaten Belitung Timur
Culture and Arts, Kabupaten Belitung Timur
Culture and Arts, Kabupaten Belitung Timur
Culture and Arts, Kabupaten Belitung Timur