Belatik

Diceritakan, jaman dahulu, seorang pemuda Jering pergi memancing ke sebuah tematang di kampungnya. Sampai di tematang, pemuda Jering itu mendengar alunan musik yang belum pernah ia dengar. Ia pun mencari orang yang memainkan musik merdu tersebut. Susah payah ia mencari, namun tidak seorangpun ditemui. Ketika berada dibawah pohon, ia mendengar suara musik berasal dari atasnya, ketika ia memanjat pohon terdengar suara musik itu berasal dari bawahnya. Lama kemudian ia tersadar bahwa musik yang ia dengar tersebut dimainkan oleh Putih Anak. Singkat cerita, pemuda Jering itu pun pulang ke rumahnya. Berhari-hari ia memainkan alat-alat musik dirumahnya dan berusaha untuk menemukan nada yang sama dengan musik yang dimainkan oleh Putih Anak di tematang. Semenjak itu lahirlah Belatik, musik yang menjadi penghibur masyarakat Jering.
 
Belatik merupakan kesenian tradisional milik masyarakat Jering yang hadir dari aktifitas berladang. Pemain Belatik pada umumnya adalah muda mudi Jering yang belum memiliki ikatan pernikahan. Bila hari mulai malam, muda mudi Jering memainkan Belatik sambil bersantai untuk melepas lelah. Orang-orang akan berkumpul untuk mendengarkan permainan Belatik sambil bercengkrama, bercerita tentang ladang, musim, binatang yang mengganggu tanaman mereka dan wanita atau lelaki yang mereka sukai. Belatik sebagai hiburan juga hadir dalam perayaan kampong dan tidak hanya hadir sebagai hiburan bagi masyarakat Jering tetapi kesenian ini juga memiliki fungsi menghibur bagi mahluk-mahluk halus yang tinggal di kampung agar tidak mengganggu dan membawa petaka bagi kampung.
 
Belatik hadir pada masyarakat Jering sebelum masuknya kesenian Campak dan Dambus. Kesenian Belatik ditunjang oleh dua unsur utama yaitu instrumen dan vokal yang berbeda dengan kesenian lainnya seperti Campak dan Dambus yang ditunjang oleh unsur tarian. Alat musik yang digunakan dalam kesenian Belatik antara lain adalah sebuah biola, dua buah kendang, dan sebuah tawak-tawak. Alat-alat musik tersebut terbuat dari bahan kayu yang banyak tumbuh di wilayah sekitar tempat tinggal masyarakat Jering. Biola umumnya dibuat dari bahan kayu Gerunggan. Gendang dibuat dari kayu Medang yang berlubang dan ditutupi dengan kulit lirang (lutung) atau kulit biawak pada salah satu sisinya. Sementara itu, tawak-tawak terbuat dari batok kelapa dan parang puting. Pada perkembangannya, alat musik Gong juga digunakan dalam kesenian Belatik. Namun Gong bersifat sebagai pilihan, tidak harus selalu ada dalam setiap tampilan kesenian Belatik.
Kendang dengan kulit Biawak pada Belatik
 
Para seniman Belatik pada dasarnya tidak mengenal sistem laras yang baku. Hal ini dibuktikan dengan tidak terdapatnya nama-nama nada serta penamaan laras pada setiap alat musik yang dimainkan dalam kesenian Belatik. Permainan alat musik hanya mengandalkan keselarasan suara yang dihasilkan. Namun, secara keseluruhan permainan Belatik cenderung berlaras salendro. Hubungan antara instrumen dan vokal ditunjukkan pada nyanyian yang dilakukan sepanjang permainan instrumen Belatik, meskipun secara ritmis lagu-lagu Belatik kurang berkaitan dengan tabuhan instrumennya bahkan lagu-lagu Belatik lebih terdengar seperti orang yang sedang berbicara sambil meratap. Jeda lagu dalam kesenian Belatik, hanya berfungsi untuk menarik nafas dan tidak ada kaitannya dengan ketukan musik. Lagu-lagu Belatik biasanya dinyanyikan oleh seorang perempuan sembari menabuh kendang. Sementara itu, biola dan tawak-tawak dimainkan oleh laki-laki. Akan tetapi, tidak jarang pula laki-laki turut juga memainkan kendang. Kendang dalam kesenian Belatik ditabuh dengan tempo yang cepat sedangkan lagu yang dinyanyikan bertempo lambat sampai bertempo sedang.
 
Lagu-lagu Belatik antara lain adalah Nasi Dingin, Giting-Giting, Kapal Keruk, Pinang Nibung, Igur-Igur, Apung-Apung, dan Keladi Kuning. Syair lagu-lagu Belatik yang terdiri atas pantun-pantun pada umumnya mencerminkan ekspresi masyarakat Jering terhadap lingkungan sekitar dan kehidupan sehari-hari yang mereka jalankan. Sering sekali, antara judul lagu dan isi lagu Belatik tidak berkaitan karena judul lagu Belatik diambil dari sampiran pantun pertama syair lagu. Sampiran pada pantun yang menjadi syair lagu-lagu Belatik biasanya menggambarkan lingkungan tempat tinggal masyarakat Jering sementara isi pantun menggambarkan kehidupan sosial atau ungkapan perasaan.
 
Pengetahuan tentang Belatik diteruskan  secara turun temurun dari generasi tua ke generasi yang lebih muda. Namun, pengetahuan Belatik itu lantas menghilang manakala generasi yang seharusnya menerima dan meneruskan pengetahuan tersebut menolak untuk meneruskannya. Hadirnya hiburan baru yang lebih menarik merupakan salah satu penyebab terputusnya rantai hidup kesenian Belatik.
 
Era 90-an, kesenian Belatik benar-benar menghilang, tidak ada orang yang memainkan kesenian itu seiring dengan berkurangnya orang-orang yang berladang. Kesenian ini kembali muncul ketika seorang Kepala Desa Sekar Biru menginstruksikan untuk mendirikan sebuah sanggar di desa tersebut. Tahun 2010, Johani dan kawan-kawan membangun sebuah sanggar yang bernama Sanggar Sekar Biru. Pada mulanya Sanggar Sekar Biru hanya memainkan Dambus dan Campak, namun mereka juga mencoba untuk membangkitkan kembali kesenian Belatik dengan memainkannya kembali  serta berusaha untuk mengenalkannya kepada generasi muda. Selain di Sanggar Sekar Biru, Belatik juga hidup di Sanggar Lembah Sunyi pimpinan  Senai dengan fasilitas sanggar yang sederhana. Hingga saat ini, peminat Belatik hanya berkisar pada orang-orang tua Jering yang masih mengingat kesenian tradisional milik  masyarakat Jering. Berbagai perubahan yang terjadi di dalam kehidupan masyarakat Jering telah menggeser banyak nilai dan fungsi-fungsi budaya milik masyarakat Jering sehingga mengakibatkan perubahan pada identitas atau jati diri pada generasi muda masyarakat tersebut.

Naskah: Hera Riastiana

Destinasi Lainnya

Bangka Belitung, Culinary
Kota Pangkalpinang, Culture and Arts
Beach/Marine, Kabupaten Bangka Tengah
Beach/Marine, Kabupaten Bangka Barat
Nature, Kota Pangkalpinang, Culture and Arts

Destinasi Terkait

Bangka Belitung, Kota Pangkalpinang, Culture and Arts
Bangka Belitung, Kota Pangkalpinang, Culture and Arts
Bangka Belitung, Culture and Arts
Bangka Belitung, Culture and Arts
Bangka Belitung, Culture and Arts