Benteng Kota Seribu

Benteng Tempilang (Photo by: Donnie Luminous)
 
Benteng Kota Seribu terletak di Kampung Jiran Siantan – Mentok (sekarang dinamai Kampung Tanjung. Benteng ini dibangun pada masa Encek Wan Akub atas perintah Sultan Palembang Mahmud Badaruddin Jayawikrama (±1721-1756). Pada masa lalu, benteng ini dilengkapi dengan persenjataan berupa meriam centum dan lila untuk menjaga keamanan dari kerusuhan-kerusuhan baik yang ditimbulkan oleh orang-orang Cina, Siam, Kamboja yang menjadi kuli pertambangan timah, juga untuk mengamankan bijih-bijih timah dari perampokan dan pencurian yang dilakukan oleh para bajak laut atau kepala-kepala yang berkuasa tapi tidak jujur.
         
Mengingat pentingnya Benteng Kota Seribu bagi pertahanan negeri Mentok, sementara kondisi benteng sudah tua dan usang, maka Abang PahangTemenggung Dita Menggala yang kala itu menjadi kepala Negeri yang berkuasa penuh untuk seluruh pulau Bangka, memohon kepada  Sri Sultan Ahmad Najamuddin agar benteng negeri Mentok diperbaiki dengan alasan bahwa Yang Dipertuan Raja Aji dari tanah Johor hendak menyerang Kesultanan Palembang dengan sasaran awalnya negeri Mentok, untuk kemudian hendak menjadikan seluruh Pulau Bangka sebagai pangkalan mereka. Mempertimbangkan  alasan itu, Sri Sultan Ahmad Najamuddin Adikesuma (±1756-1776) menghibahkan uang sebanyak 1.000 (seribu) ringgit dan beras 1.000 (seribu) pikul, guna keperluan biaya perbaikan benteng.  Perbaikan benteng dimulai sekitar tahun 1760, yang kemudian diberi nama Benteng Kota Seribu sesuai dengan jumlah bantuan yang diberikan Susuhunan yaitu seribu ringgit dan seribu pikul beras.
         
Benar saja, kabar bahwa Yang Dipertuan Raja Aji – bersama armada angkatan perangnya tiba-tiba telah berada di seputar pelabuhan Mentok, dengan maksud menaklukkan negeri Mentok untuk kemudian menyerang Negeri Palembang. Saat itu Temenggung segera memerintahkan angkatan perang dan para kepalanya untuk bersiaga di Benteng Kota Seribu guna menahan serangan angkatan perang Raja Aji, meskipun kemudian Raja Aji urung menyerang karena keberhasilan diplomasi Temenggung Dita Menggala yang berhasil menimbulkan rasa sayang dari Raja Aji bahwa orang-orang Mentok yang hendak diserangnya itu sesungguhnya masih ada hubungan darah atau satu keturunan dengan orang-orang dari Tanah Johor. Lagipula, Temenggung Dita Menggala – Abang Pahang adalah keturunan Encek Wan Abdul Hayat yang oleh Sri Sultan Johor diangkat menjadi Kepala Negeri di pulau Siantan.       
         
Setelah itu, negeri Mentok beberapa kali diserang karena memang Mentok merupakan pusat Pemerintahan sekaligus sebagai tempat penyimpanan bijih-bijih timah.  Salah satu serangan yang cukup hebat dilakukan oleh Kesultanan Lingga yang mencoba beberapa kali menyerang bandar Mentok, hendak merebut Pulau Bangka dari Kesultanan Palembang yang kala itu diperintah oleh Sultan Mahmud Baha’uddin (1784-1803). Serangan tersebut terjadi pada masa pemerintahan Abang Ismail - Temenggung Kerta Menggala. Serangan pertama, angkatan perang Lingga dipimpin oleh Panglima Rahman, yang meskipun berhasil dipukul mundur, namun telah menyebabkan kesengsaraan bagi orang Bangka maupun orang Belitung. Serangan kedua Kesultanan Lingga dipimpin oleh seorang panglima, seorang putera raja dari Bugis bernama Arung Marupu (1789). Pada serangan kedua inilah Benteng Kota Seribu mengalami gempuran yang sangat hebat, sehingga konon air sungai yang ada di tempat kejadian pertempuran itu menjadi merah darah dari para korban yang tewas. Sungai itu hingga sekarang dikenal dengan nama Sungai Air Bugis. Adapun panglima yang dipilih oleh Temenggung untuk memimpin rakyat Mentok bertempur dengan pasukan Arung Marupu adalah Abang Yunus dan Bilal Muhammad. Pasukan Arung Marupu berhasil dipukul mundur sehingga lari menyelamatkan diri berlayar kembali ke tanah Lingga.
 
Benteng Tempilang (Photo by: Donnie Luminous)
 
Demikianlah sejarah yang terkait dengan Benteng Kota Seribu. Benteng yang terletak di Kampung Tanjung ini merupakan bagian dari kawasan cagar budaya yang ada di Kota Tua Muntok. Kawasan ini memiliki beberapa bangunan cagar budaya menarik lainnya yang letaknya berdekatan, misalnya Makam Bangsawan Melayu, serta Masjid jamik yang berdiri berdampingan dengan Kelenteng Kong Fuk Nio.

Referensi:
  1. Muhammad Arifin Mahmud,  1986. “Pulau Bangka dan Budayanya”, tidak diterbitkan.
  2. Raden Achmad Abang Abdul Djalal, 1936,”Riwajat Poelau Bangka Berhoeboeng dengan Palembang”, tidak diterbitkan.

Penulis: Yuyun Tri Widowati

Editor: Yuliarsih/ Rusni
Photo: Donnie Luminous

Destinasi Lainnya

Bangka Belitung, Culinary
Kota Pangkalpinang, Culture and Arts
Beach/Marine, Kabupaten Bangka Barat
Beach/Marine, Kabupaten Bangka Tengah
Nature, Kota Pangkalpinang, Culture and Arts

Destinasi Terkait

Nature, Heritage, Kabupaten Bangka Barat
Heritage, Kabupaten Bangka Barat
Heritage, Kabupaten Bangka Barat
Heritage, Kabupaten Bangka Barat
Heritage, Kabupaten Bangka Barat