Beripat Beregong

Beripat Beregong (by Haryadi Rozali)
 
Bahasa Indonesia/ English
 
Tari Beripat adalah sebuah kesenian pertunjukan masyarakat Belitung untuk menunjukkan kejantanan seorang lelaki dengan cara saling memukul menggunakan senjata rotan. Ripat berarti memukul, dan gong adalah alat musik pengiring tarian. Penilaian dilakukan dengan melihat siapa yang paling sedikit mendapatkan bekas pukulan maka dia lah pemenangnya. Tujuan awal permainan ini, selain untuk mempererat hubungan antar kampung, juga untuk memupuk sportivitas. Sekarang kegiatan ini dilestarikan dalam bentuk acara budaya dan seni.
 
Tidak ada catatan pasti bagaimana tradisi ini dimulai, Tetapi diperkirakan tradisi ini sudah ada sejak lahirnya Kerajaan Badau, yaitu kerajaan pertama di Belitung. Ada juga kisah yang terkait tarian ini. Zaman dahulu, di sebuah Kelekak Gelanggang yang sekarang dikenal dengan nama Desa Mentigi, ada seorang gadis yang kecantikannya membuat banyak lelaki berniat untuk mempersuntingnya, terutama dari kalangan para pemuda berilmu tinggi. Lantaran banyak lamaran yang datang, orang tua si gadis sulit memutuskan atau pun menolak pemuda yang pantas untuk meminang anaknya.
 
 
Akhirnya orang tua si gadis memutuskan untuk menyerahkan keputusan kepada para peminang. Para peminang pun sepakat untuk bertanding ilmu dengan menggunakan rotan sebagai alat pemukul.  Peminang yang menerima pukulan di bagian punggung dinyatakan kalah, namun jika  kedua-duanya terkena pukulan, maka pemenangnya adalah yang paling sedikit menerima pukulan.
 
Pada hari yang disepakati, para peminang berkumpul di gelanggang sementara penduduk pun berdatangan untuk menyaksikan laga kesaktian tersebut. Gong, kelinang, tawak-tawak, gendang dan serunai digunakan sebagai pengiring. Diiringi musik, para jagoan tersebut pun berseru menunjukkan keberanian menghadapi siapa saja. Menurut cerita, karena dalam pertandingan tersebut merupakan orang-orang berilmu tinggi, maka tidak ada yang menang atau pun kalah.
 
Saat ini permainan tersebut  sudah jarang dimainkan, tetapi  biasanya  dapat dilihat pada perayaan Maras Taun dan Selamatan Kampung. Menyelenggarakannya pun tidak mudah, karena harus dimainkan dengan dukungan lengkap, seperti harus ada bangunan rumah tinggi (Balai Peregongan) sekitar 6-7 meter, alat musik pukul. Juga, dibutuhkan seorang dukun atau ahli waris pemilik gong untuk memimpin menaikkan alat- alat musik tersebut ke Balai Peregongan.
 
Balai Peregongan
 
Permainan ini dipimpin oleh seorang dukun kampung, dibantu oleh juru pisah dan pencatat dan dilakukan pada malam hari. Setelah gong dibunyikan, penari mulai ngigal (menari - nari) sambil berseru seakan meminang putri cantik. Disyaratkan, kedua pemain tidak boleh berasal dari kampung yang sejalan, dengan tujuan jika ada dendam, maka kecil kemungkinan untuk mereka kembali bertemu. Kedua pemain menghadap dukun dan jika disetujui, mereka pun membuka baju dari pinggang keatas, untuk melindungi bagian kepala, ditutup dengan sehelai kain. Tangan kiri dan kaki juga dibalut sebatas lutut dibebat menggunakan kain untuk menangkis pukulan lawan. Aturan permainannya adalah tidak boleh menyerang dengan mengecoh, harus saling serang dan tidak boleh menyerang bagian kepala atau pun bagian pinggang ke bawah. Pukulan dianggap sah jika mengenai bagian belakang.
 

Sebelum pertandingan, rotan diperiksa dan diukur sama panjang, dibasuh dengan air jampi yang konon berkhasiat untuk menahan sakit karena walau terkena satu pukulan saja maka akan berbekas besar. Rasa sakit akibat pukulan akan dirasakan setelah sampai di rumah. Lama pertunjukan ini pun pada awalnya berlangsung selama seminggu. Namun sekarang biasanya hanya ditampilkan dalam waktu yang jauh lebih singkat.


 
Known as one of Belitung traditions, Beripat Beregong is a kind of dance to prove manliness by getting into a rattan stick fighting. Initially, this tradition was to strengthen supportiveness and relationships between kampongs or villages. Nowadays, this tradition performs in arts and cultural events in order to preserve it.
 
Although there is no exact data when this tradition was firstly practiced, it is estimated that it has been living in the society since the existence of Badau, the first kingdom of Belitung. It was told that long time ago, in Kelekak Gelanggang, which is known as Mentigi village now, there lived a very beautiful girl. Her beauty attracted many men, especially those having strong magical power. It caused her parents confuse to decide.
 
Her parents finally entrust it to those who proposed who agreed to fight a duel over the lady in a competition using rattan as a weapon. Those who were hit on the back would lose the competition. If both men were hit, the winner was the person who got less hit.
 
On the competition day, many people came to watch the magical duels of the men who had gathered on an arena. Gong, kelinang, tawak-tawak, traditional drum, and bamboo flute accompanied them in proving their manliness. No one finally won the fight due to the magical power they had.
 
Nowadays, this tradition is hard to find. It is still performed in traditional ceremonies such as Maras Taun and Selamatan Kampung, though. To perform it is not easy because it requires many instruments. Besides the above-mentioned musical instruments, there must be a 6 – 7 meters stilt house, which is built without wall, known as balai peregongan. The musical instruments must also be taken onto balai peregongan led by a shaman or heir to the gong.
 
The performance is held at night and led by a village shaman, assisted by a referee called juru pisah – someone whose duty is to separate the fighters – and a scorer. The gong starts the performance and the fighters start to ngigal or dance and shout as if they are proposing a beautiful girl. The two fighters must not belong to the villages on the same direction. It is to avoid meeting and fighting outside the arena if there is hatred left inside the fighters from the previous performance. Before performing, the two fighters meet the shaman to have his approval. If the shaman approves them, they will put off their upper clothes and cover their heads. They also wrap their left hand and feet to fend off attackers. The rules are that they must attack to each other. They are not allowed to make false attacks and hit opponent’s head or waist to the lower part of the body. The attack will take into account if it hits opponent’s back.
 
Before the performance, shaman will measure the rattan sticks to assure they are the same in length. The sticks are then washed using the water over which a magic spell has been cast. It is said that the spell will soothe the back after being hit, but of course it causes bruises. However, the fighters will suffer pain after they get home.

Penulis: Risnawati (dari berbagai sumber)
Translator: S.A. Sobri
Editors: Yuliarsih (Bahasa Indonesia)/ Rosy Handayani (English)
Photos: Haryadi Rozali, Humas Prov. Babel

Destinasi Lainnya

Bangka Belitung, Culinary
Kota Pangkalpinang, Culture and Arts
Beach/Marine, Kabupaten Bangka Tengah
Beach/Marine, Kabupaten Bangka Barat
Nature, Kota Pangkalpinang, Culture and Arts

Destinasi Terkait

Culture and Arts, Kabupaten Belitung
Culture and Arts, Kabupaten Belitung
Nature, Beach/Marine, Culture and Arts, Kabupaten Belitung
Nature, Beach/Marine, Culture and Arts, Culinary, Kabupaten Belitung, Kabupaten Belitung Timur
Nature, Culture and Arts, Culinary, Kabupaten Belitung