Bubor Jawak

Bubor Jawak
Bahasa Indonesia/ English
 
 
Berkunjung ke Pulau Belitong, tidak lengkap rasanya apabila melewatkan kulinernya yang  khas. Jika selama ini Gangan Ketarap, Mie Belitong, Cumi Pangkong, Kepiting isi, sop ikan, atau segala jenis sea food yang selalu diburu, kali ini ada satu makanan khas Belitung yang layak dicicipi yaitu Bubur Jawak atau orang Belitung menyebutnya Bubor Jawak.
 
Makanan apakah ini? Bagaimana cara memasaknya? Juwawut (Setaria italica) atau orang Belitung biasa menyebutnya Jawak, sejenis serealia berbiji kecil (milet) yang pernah menjadi makanan pokok masyarakat Asia Timur dan Asia Tenggara sebelum budidaya padi dikenal orang. Catatan dari Cina menunjukkan paling tidak Juwawut/Jawak telah dibudidayakan pada sekitar 5.000 tahun sebelum Masehi. Juwawut/Jawak adalah tanaman semusim seperti rumput dengan ketinggian bisa mencapai  150–175 cm. Malainya rapat, be"rambut", dan bisa mencapai panjang 30 cm, sehingga orang Inggris menamakannya "milet ekor rubah" (foxtail millet). Bulirnya kecil, diameter hanya sekitar 3mm, bahkan ada yang lebih kecil. Warna bulir beraneka ragam, mulai dari hitam, ungu, merah, sampai jingga kecoklatan.
 
Selain memiliki manfaat positif bagi kesehatan, Jawak/Juwawut dapat dijadikan sebagai salah satu bahan pangan subtitusi beras untuk memenuhi kebutuhan kalori harian. Jawak/juwawut mengandung beragam komponen penting yang berpotensi meningkatkan kesehatan tubuh, antara lain senyawa antioksidan, senyawa bioaktif, dan serat. Senyawa antioksidan yang dikandung tersebut dapat menangkal radikal bebas, untuk mencegah pembentukan sel kanker. Berbagai studi mengungkapkan kandungan nutrisi Jawak/Juwawut lebih baik dibanding jagung dan beras. Kandungan gizinya meliputi: karbohidrat 84,2%, protein 10,7%, lemak 3,3%, serat 1,4%, Ca 37 mg, Fe 6,2 mg, vitamin C 2,5, vitamin B1 0,48, dan vitamin B2 0,14.
 
Masyarakat Belitung mengenalnya sebagai salah satu bahan pangan lokal, jauh sebelum adanya budidaya padi. Cara mendapatkan bulirnya, harus dipisahkan daging biji terlebih dahulu dari kulit luarnya dengan cara menjemurnya hingga kering, disosoh/dikuliti dengan cara ditumbuk hingga tersisa bagian dagingnya saja. 
 
Cara memasak Bubor Jawak cukup mudah, hampir sama seperti memasak bubur beras. Pertama, ambil biji Jawak secukupnya lalu dicuci hingga air cucian jernih, kemudian campur dengan air. Banyaknya Bubor Jawak yang dihasilkan akan menyesuaikan dengan banyaknya air yang digunakan. Waktu merebus sekitar satu jam, selama memasak bubur perlu diaduk-aduk supaya tidak gosong. Sebagai pelengkap, perlu ditambahkan sedikit garam dan gula aren sesuai selera, dan saat hendak dihidangkan masukkan santan kental yang terlebih dahulu telah dimasak dan diberi garam. Bubor Jawak paling nikmat disantap saat masih panas.
Jawak
 
Sayangnya saat ini generasi muda Belitung lebih mengenal Jawak sebagai makanan beheula, jadul, udik. Sebagian hanya tahu Jawak sebagai makanan burung. Perubahaan pola pikir dan desakan peradaban beras, menyebabkan Jawak direkonstruksi sebagai makanan zaman dulu. Menurut  informasi  berbagai sumber bahwa Jawak dapat diolah menjadi aneka makanan lezat khas Belitung seperti bubur manis (seperti bubur kacang hijau) yang dicampur santan kental, madu atau susu, bisa  dibuat  es campur, es lilin, kue basah, wajik, dodol, bubur ayam, bubur nasi biasa yang ditabur teri halus/kecil khas Belitung, atau dimakan bersama ikan bakar. Untuk mendapatkan atau menikmati Bubor Jawak bisa dijumpai di rumah makan di Jl. Gatot Subroto, Tanjungpandan dan di warung kopi yang berada tepat di pinggir jalan raya kota Manggar, Belitung Timur.

BUBOR JAWAK

When going to Billiton Island, you should not miss the traditional specialties there. Most people usually look for Gangan Ketarap, Belitong Noodle, Cumi Pangkong (Nailed dried Squid), Kepiting Isi (Crab with filling), Sop Ikan (fish soup) or various seafood. Now, people also look for one of the local traditional foods of Belitong, called Bubur Jawak (Jawak porridge) or locals usually say it as Bubor Jawak.
 
What is Bubor Jawak? How to cook it? Jumawut (Setaria italic) or locals usually called it as Jawak, is a type of small grain cereal (millet) that had been usually eaten as staple food by the people in East Asia and South East Asia, before they knew how to cultivate rice. Chinese has recorded that Jumawut/Jawak has been domesticated around 5.000 BC. Jumawut/Jawak is annual crop that grows like grass that can reach 150-175 cm in heights. The strand is dense and hairy, and can reach 30 cm long, that makes British called this plant as foxtail millet. The grain is small, with diameter only 3 mm, or even smaller. The colors of the grains are varied ranging from black, purple, red or brownish orange.
 
In addition to the positive benefits it has for human health, Jawak/Jemawut can be the substitute of rice to meet calorie daily need. Jawak/Jemawut contains various important components that could potentially improve the health of the body, for instance it contains antioxidant compounds, bioactive compounds and fiber. The antioxidant can fight against free radicals and prevent the formation of cancer. Study shows that the nutrients in Jawak/Jumawut are better than that of in corn and rice. The nutritional content of Jawak/Jemawut are 84.2% carbohydrate, 10.7% protein, 3.3% fat, 1.4% fiber, 37 mg Ca, Fe 6.2 mg, 2.5 vitamin C, vitamin B1 0.48, and vitamin B2 0.14
 
Local people of Belitong have known Jawak as staple food long before they cultivated rice. To harvest the grain, they have to separate the seed from the outer shell by drying Jawak under the sun. Afterward, the dried seed are pounded/ grounded to remove the outer shell.
 
To cook Bubor Jawak is quite easy, just like cooking rice porridge. First, Jawak that would be cook should be washed, and then cooked with some water. The amount of Bubor Jawak will adjust the amount of water use to cook. It takes around 1 hour to cook Jawak, and while cooking it, the porridge should be stirred. Adding some salt and palm sugar to the porridge will enrich the flavor. When serving the porridge, pour some thick coconut milk that was boiled with little salt. Bubor Jawak is most delicious when serving it while it is still hot.
 
Unfortunately, these days the youngsters of Belitong merely know Jawak as old school food. Most of them only familiar that Jawak is merely use to feed birds. The changes of mindset and the spreading culture of eating rice as staple food has caused Jawak being reconstructed as old fashion food. Many says that actually Jawak can be processed into various Belitong delicacies like sweet porridge with thick coconut milk and honey or milk, ice mix, candle ice, cookies, wajik, dodol, chicken porridge, regular porridge with anchovies, or being eaten with grilled fish. Bubor Jawak is sold in a restaurant called Rumah Vizza in Jalan Gatot Subroto Tanjungpandan and in a coffee shop called Warkop 101 around the area of local government precinct in Manggar.
Naskah: Yuyun Tri Widowati
Translator: Yuliarsyah/ RB
Editor: Yuliarsih (Bahasa Indonesia)/ Rusni Budiati (English)
Photos: Yuyun TW dan Rusni

Destinasi Lainnya

Bangka Belitung, Culinary
Kota Pangkalpinang, Culture and Arts
Beach/Marine, Kabupaten Bangka Barat
Beach/Marine, Kabupaten Bangka Tengah
Nature, Kota Pangkalpinang, Culture and Arts

Destinasi Terkait

Bangka Belitung, Culinary, Kabupaten Belitung, Kabupaten Belitung Timur
Bangka Belitung, Nature, Culinary, Kabupaten Belitung, Kabupaten Belitung Timur
Nature, Beach/Marine, Culture and Arts, Culinary, Kabupaten Belitung, Kabupaten Belitung Timur
Bangka Belitung, Culinary, Kabupaten Belitung, Kabupaten Belitung Timur
Bangka Belitung, Culinary, Kabupaten Belitung, Kabupaten Belitung Timur