Cempedik: Salmon Van Sungai Lenggang

Gangan Cempedik
 
Bahasa Indonesia/ English
 
 
“Ke PICE, ke PICE, ade jeramba gede...,
aik gemuroh, aik gemuroh, bebueh-bueh...,
musim ujan banyak ikan kecik, terkenal namanya CEMPEDIK,
bukan Linggang, bukan juga Kelik, makan sepinggan nak muboh agik”,*
 
Lagu Daerah Belitong di atas akan selalu menjadi pengingat bahwa PICE; bendungan besar yang sebenarnya adalah pintu air, pada zaman Kolonial Belanda dibangun untuk mengatur ketinggian dan debit air Sungai Lenggang untuk kepentingan menambang timah, membendung aliran sungai dan menghubungkan Desa Lenggang dengan Desa Selinsing di kanan dan kirinya di Kecamatan Gantung, Kabupaten Belitung Timur menjadi tempat berkumpul beramai-ramai menjala CEMPEDIK di gemuruh air pintu-pintu bendungan.
 
Kemunculan ikan kecil berbintik hitam di ujung tengah ekornya dengan warna semburat kuning keemasan di semua sirip dan ekor serta punggungnya dan keperakan pada bagian perutnya menjadi penanda musim kemarau telah pergi, dan hari-hari penuh hujan akan bermula. Si ikan kelas teri, bukan ikan sekaliber lele lokal (Linggang atau Kelik), namun kesedapannya bisa membuat kita rela dan bahagia tambah lagi alias “makan sepinggan nak muboh agik” (makan sepinggan ingin nambah lagi).
 
Perjalanan “mengexplore” jejak-jejak Laskar Pelangi pada hari-hari basah di sepanjang September sampai dengan Desember wajib ditambah dengan perburuan yang terhubung dengan ikan kecil bercitarasa paus ini, dan dipastikan memori akan dipenuhi dengan tidak hanya rasa yang tertinggal karena indera perasa yang terpuaskan, tapi juga keindahan lingkungan rumah ikan kecil ini serta budaya masyarakat saat mencari, memerangkap, mengumpulkan, menjual, dan mengolahnya menjadi bermacam masakan lokal nan lezat.
 
CEMPEDIK sering disebut sebagai Salmonnya Belitong, karena ikan ini hanya akan muncul saat musim hujan, berenang beramai-ramai menentang arus deras menuju hulu sungai untuk bertelur dan memijah. Cempedik hanya banyak ditemukan di hulu-hulu Sungai Lenggang yang mengular panjang di Desa Lintang, desa yang menjadi gerbang awal memasuki kampung-kampung yang diceritakan dengan indah oleh Andrea Hirata tak seberapa jauh dari pertigaan Kecamatan Simpang Renggiang. Di kanan dan kiri jalan, hulu sungai dipadati oleh tumbuhan sejenis pandan menjulang tinggi, berdaun hijau, keras, lebar, dan berduri berkelompok-kelompok saling mengikat dan menjalin akar sampai ke dasar sungai membentuk pulau-pulau kecil yang diseputarannya ditutupi karpet teratai-teratai kecil berbunga merah muda, berselang-seling dengan bunga-bunga kecil air berwarna putih, ungu, dan kuning. Arus yang deras berkelok-kelok melalui pulau-pulau Mengkuang inilah jalur rombongan Cempedik memasuki “perangkap-perangkap tradisional” yang dipasang penduduk lokal yang disebut Siro, Bubu, ataupun Pukat.
 
Saat musimnya, ribuan Cempedik hasil tangkapan dijual berkeliling kampung dengan cara unik, diangkut dengan keranjang anyaman rotan di dalam tong-tong plastik, dan diperdagangkan dengan ukuran takaran mangkuk kaleng kecil yang biasa digunakan untuk wadah air mencuci tangan sebelum makan atau disebut “kecibokan”.
 
Menyiangi dan membersihkan ikan cempedik sebelum dimasakpun punya cara tersendiri. Ikan kecil ini tidak harus disisiki, dibuang sirip-sirip dan ekornya, dan dibuang tulangnya, karena bisa dikonsumsi keseluruhannya, cukup bersihkan isi perutnya yang berupa usus kecil, berwarna hitam, dan panjang dengan lidi kecil yang ujungnya dipotong serong runcing, tapi harus hati-hati, karena disinilah kunci awal yang akan menentukan kesedapan masakan olahan dari Cempedik. Tusuk sedikit bagian atas perut ikan, lalu  tarik perlahan keluar ususnya, jangan menusuk atau mengoyak perut kecilnya secara berlebihan atau terlalu melebar sampai kebawah, karena akan membuat telurnya yang berasa gurih rusak dan pecah, tapi kalau tidak ditarik bersih nantinya akan menyebabkan munculnya rasa pahit pada masakan. Menyiangi ikan kecil ini dalam jumlah yang banyak pastinya menjadi tantangan tersendiri, tapi jangan khawatir ada tips cerdasnya, cukup taburkan tepung sagu atau terigu, campurkan dengan ikannya, lalu tarik-tarik campuran tersebut dengan jari-jari tangan dan kotoran usus akan melekat di adonan tepung yang kita tarik lalu dibuang, bilas dengan air bersih dan ikan siap diolah.
 
Ikan Cempedik
 
Umumnya Cempedik diolah dengan cara di goreng, dan di pais (pepes) dengan sedikit air di wajan atau panci yang sudah dialasi daun pisang, pais kering dengan bumbu kuning berlimpah dibungkus daun pisang lalu dibakar di atas bara api, atau di gangan (gulai kuning lokal) dengan air lebih banyak bersayur irisan pisang muda, singkong, terung asam (terung bulu), umbut (tunas muda tumbuhan tertentu), dan untuk cita rasa asam pengganti asam jawa yang khas untuk pais dan gangan akan digunakan daun kedondong muda yang berlimpah. Menggoreng ikan cempedik biasanya diawali dengan merendam ikan dengan bumbu tumbukan kunyit, larutan asam jawa, dan garam, bahkan saat ini sudah banyak yang memodifikasinya dengan goreng tepung krispi. Ikan goreng ini bisa dijadikan camilan tanpa nasi, dinikmati di sore musim hujan yang dingin dengan teh panas, dijamin akan tandas bersamaan dengan selesainya menggoreng.
 
Pais Cempedik beraroma daun pisang, Gangan Cempedik beraroma daun kedondong, keduanya bercitarasa gurih ikan plus telurnya yang berpadu dengan asamnya remukan daun kedondong, pedasnya cabe rawit kampung, segar dan sedapnya paduan rimpang kunyit, laos, kemiri, serai, bawang merah dan sedikit sensasi terasi udang, sandingkan dengan nasi, rebus singkong, pumpuk hangat, “hmmmmm...makan sepinggan nak mubo agik...!!!”.
 
*
Ke Pice, ke Pice, Ada jembatan besar,
Air bergemuruh, air bergemuruh, berbuih buih,
Musim hujan banyak ikan kecil, terkenal namanya CEMPEDIK,
Bukan Linggang, Bukan Kelik, Makan sepinggan ingin menambah lagi
 

 
 
“Ke PICE, ke PICE, ade jeramba gede...,
aik gemuroh, aik gemuroh, bebueh-bueh...,
musim ujan banyak ikan kecik, terkenal namanya Cempedik,
bukan Linggang, bukan juga Kelik, makan sepinggan nak muboh agik”,**
 
The Belitong folk song above encourages us to visit Pice dam. We can see a big bridge with its roaring and foaming water. Small fish called Cempedik swim around. You will surely enjoy your picnic meal there.
 
Pice dam was constructed in Dutch colonial era to control water for tin mining needs and to connect two villages on river banks of Lenggang River – Selinsing and Lenggang village – in Gantung district, Belitung Timur regency. It is a place where the locals catch Cempedik with casting nets.
 
Cempedik – a small fish with a small dot in the middle of its tail – is a golden fish with tinges of silver. When this fish comes up and swim around, it means the dry season is over and the rainy season is coming. It is just a common fish compared to linggang or kelik. However, it is considered a great delicacy. As expressed in the song, makan sepinggan nak muboh agik, if you have your meal accompanied with this fish, a plate is not enough. You will have some more.    
 
Hunting for this fish is a must-have activity in exploring the island of the Rainbow Troops – an Indonesian film adapted from the popular same titled novel by Andrea Hirata picturing school children and their inspirational teacher. It is not just the taste; all things related to it are memorable experiences, starting from its beautiful ecosystem to the local custom in catching, selling, and cooking it into various delicious typical dishes.
 
Cempedik is often referred as Salmon of Belitong. In rainy season, the shoals of this little fish swim upstream against strong current of Lenggang River to get their breeding areas to spawn. This is a long river snaking through Lintang village – the first village before entering several interesting villages, as told by Andrea Hirata, located not far from T-intersection of Simpang Renggiang sub-district. Tall, luxuriant Pandanus plants, known as Mengkuang by the locals, grow in the upper course of the river. The thorny green Pandanus leaves and roots bind to each other in groups surrounded by lotus and other aquatic plants with pink, white, purple, and yellow flowers. The group of plants let a narrow winding paths for the water to flow as a migration route of Cempedik. This is where the locals set their traditional fish traps known as siro, bubu, or pukat.
 
Thousands of Cempedik are then sold around the kampong or village in such a unique way. The fish are put in rattan woven baskets inside plastic barrels. They are not sold per kilo as common measurement. They are sold per small tin bowl usually used as a finger bowl called kecibokan.
 
Cleaning the fish also requires special steps. You do not need to remove the scales, fin, tail, and bone. All parts of the fish are edible. Just gut it using a sharp vein of a palm leaf. However, you need to be very careful in doing it, because it determines whether or not the dish will be delicious. Stick its upper stomach with the palm leaf vein a little and pull out its intestine. If you do not clean it, it will cause a bitter taste. However, do not overly stick or shred along its stomach because it will spoil the egg delicious taste. Cleaning one fish is no problem; but cleaning many fish is a big problem. Nonetheless, no need to worry. There is a trick for it. Just spread sago or wheat flour, mix it like dough, and separate the dough with fingers repeatedly. The intestines will stick to the dough. After that, you just need to wash the fish and they are ready to cook.
 
The fish are commonly fried. It is a simple way to cook it. Just prepare the seasoning by grinding turmeric and mix it with tamarind, salt, and water. Soak the fish and fry it. Some people also fry it with crispy flour nowadays. Therefore, this crispy fried fish is not only a side dish for rice, but it can also be simply served with tea in a cold rainy day. It will surely be eaten up in a minute.
 
Cempedik can also be seasoned and cooked in banana leaf on a pan known as pais or roasted on a fire with a lot of turmeric-based bumbu kuning known as roasted pais. Gangan or local fish soup – with sliced green banana, hairy-fruited eggplant, edible soft shoot of certain trees, and many young ambarella leaves for the sour taste – is also another tasty way to cook it.
 
The aroma of banana leaf in pais and ambarella leaves in Gangan will enhance your appetite. Especially when those dishes – which also have the hot taste of local chili peppers combining with the freshness of various spices like turmeric, galangal, candlenut, lemon grass, shallot, and a bit of shrimp paste – is eaten with rice, boiled cassava, and warm pumpuk. “Hmm… I want more!”
 
**
To Pice, to Pice, There's a grand bridge,
Rumbling water, rumbling water, foammy froth
Many fish in the rain season, they are called CEMPEDIK,
Not Linggang, Not Kelik, Eat them a bowl but wanting more

Penulis: Yeni Srihartati
Translator: Syekh Ahmad Sobri
Editor: Yuliarsih (Bahasa Indonesia)/ Rosy Handayani (English)
Photos: Yeni Srihartati

Destinasi Lainnya

Bangka Belitung, Culinary
Kota Pangkalpinang, Culture and Arts
Beach/Marine, Kabupaten Bangka Barat
Beach/Marine, Kabupaten Bangka Tengah
Nature, Kota Pangkalpinang, Culture and Arts

Destinasi Terkait

Bangka Belitung, Nature, Special Interest
Bangka Belitung, Nature, Special Interest
Bangka Belitung, Nature, Culinary, Special Interest