Cheng Beng

Orang-orang Indonesia Tionghoa di Pulau Bangka pada mulanya didatangkan untuk melakukan pekerjaan penambangan timah di Pulau Bangka. Para penambang tersebut kemudian banyak yang tinggal dan berasimilasi dengan masyarakat Melayu di Pulau Bangka.  Pada saat ini orang-orang Indonesia Tionghoa yang berasal dari Pulau Bangka banyak yang berpindah keluar Pulau Bangka baik dikota-kota besar di Indonesia seperti Jakarta dan Surabaya, maupun ke luar negeri seperti Australia dan Singapura. Mereka kembali ke Pulau Bangka untuk melaksanakan ritual Ceng Beng dan berkumpul dengan keluarga yang masih tinggal di Pulau Bangka, sebagai salah satu wujud bakti terhadap keluarganya. Upacara penghormatan kepada leluhur ini adalah manifestasi dari laku bakti yang menjadi inti dalam ajaran Konfucius. Setiap anak memiliki tanggungjawab untuk melayani orang tuanya baik ketika mereka masih hidup maupun setelah meninggalnya.
 
Somers (2008) menyebutkan pulau Bangka sebagai tanah leluhur karena banyaknya orang-orang Indonesia Tionghoa yang kembali ke pulau Bangka pada hari-hari besar keagamaan untuk merayakan perayaan tersebut bersama keluarganya yang masih tinggal di Pulau Bangka. Salah satu perayaan dimana orang-orang Indonesia Tionghoa berkumpul untuk merayakannya bersama-sama dalam satu ikatan kekeluargaan adalah Ceng Beng. Ceng Beng merupakan sebuah ritual yang biasanya dilaksanakan setiap tanggal 4 atau 5 bulan April. Ritual ini bertujuan untuk memberikan penghormatan kepada para leluhur dengan melakukan serangkaian aktifitas ritual dimulai dari persiapan upacara, sembahyang, hingga ziarah kubur.
 
 
Persiapan upacara penghormatan kepada leluhur dalam perayaan Ceng Beng dilakukan dengan menyiapkan bahan-bahan sesajian untuk diletakkan diatas kubur berupa buah-buahan, daging, arak, kue, hio, uang kertas, dan beberapa sajian tambahan yang merupakan kesukaan dari orang yang meninggal. Setelah melakukan persiapan, seluruh anggota keluarga biasanya melakukan sembahyang bagi arwah leluhur yang telah meninggal baik dirumah, kelenteng, maupun di kubur. Pada dini hari yaitu pukul 01.00, biasanya telah dimulai kegiatan bersih-bersih kubur yang dilakukan hingga pukul 05.00. Orang Indonesia Tionghoa di Pulau Bangka percaya, semakin siang membersihkan kubur maka akan membuat arwah leluhur menjadi kecewa karena keluarga yang masih hidup terlambat memberikan sesajian kepadanya.
 
Di Kota Pangkalpinang, perkuburan Yayasan Sentosa merupakan salah satu perkuburan bagi orang-orang Indonesia Tionghoa terluas. Di pemakaman ini terdapat salah satu makam tertua yaitu makam Boen Pit Liem. Tidak hanya di Pangkalpinang, pemakaman orang-orang Indonesia Tionghoa banyak ditemukan di berbagai wilayah di Pulau Bangka karena masih tersedianya wilayah untuk lokasi pemakaman. Oleh karena itu, perayaan Ceng Beng di Pulau Bangka dirayakan di lokasi-lokasi pemakaman. Pada saat ini perayaan Ceng Beng juga diwarnai dengan kegiatan menyalakan petasan dan kembang api.
 
Perjalanan kembali yang dilakukan oleh orang Indonesia Tiongho ini bukan hanya sekedar sebuah perjalanan untuk melaksanakan ritual tradisi yang telah berlangsung semenjak lama dalam kehidupan mereka, akan tetapi perjalanan ini juga dapat dinilai sebagai sebuah perjalanan wisata. Orang-orang Indonesia Tionghoa yang merantau ke luar pulau Bangka melakukan perjalanan kembali ke Pulau Bangka pada suatu waktu tertentu dan hal ini dilakukan secara berulang dalam satu periode untuk merayakan Ceng Beng merupakan sebuah tindak wisata, atau motivasi yang menjadi latar dari tindakan tersebut menimbulkan sebuah aktifitas kepariwisataan.
 

1. Menurut Leo Suryadinata, dalam bukunya Chinese Indonesians: State Policy, Monoculture and Multiculture, istilah orang Tionghoa Indonesia cenderung menekankan ketionghoaan, sementara orang Indonesia Tionghoa cenderung menekankan “keindonesiaan” mereka. Oleh sebab itu, pergeseran dari Tionghoa Indonesia ke Indonesia Tionghoa dibutuhkan untuk meruntuhkan gambaran stereotip bahwa mereka merupkan kelompok terpisah. Istilah Indonesia Tionghoa juga menaikkan rasa nasionalis diantara suku Tionghoa di Indonesia (dikutip oleh Aimee, 2010)

Penulis: Hera Riastiana

Destinasi Lainnya

Bangka Belitung, Culinary
Kota Pangkalpinang, Culture and Arts
Beach/Marine, Kabupaten Bangka Tengah
Beach/Marine, Kabupaten Bangka Barat
Heritage, Kabupaten Bangka Barat

Destinasi Terkait

Bangka Belitung, Kota Pangkalpinang, Culture and Arts
Bangka Belitung, Kota Pangkalpinang, Culture and Arts
Bangka Belitung, Culture and Arts
Bangka Belitung, Culture and Arts
Bangka Belitung, Culture and Arts