Geotrek Timah Bangka, Melabrak Mitos Waktu Rawan

 
 
Waktu rawan. Itulah yang saya dengar dari Ita seorang operator wisata asli Bangka sambil menerangkan mengenai Pulau Bangka di atas bus pariwisata yang membawa kami dari Pangkalpinang menuju titik perhentian berikutnya di Tirta Tapta, Pemali, Sungailiat. Wisata itu adalah satu rangkaian dari acara besar Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Provinsi Bangka Belituing (Babel) yang menyelenggarakan Seminar Internasional Wisata Bahari (International Seminar on Marine Toursim) 21 – 22 September 2011.
 
Saya sebagai Kepala Pusat Perencanaan dan Pengembangan Kepariwisataan (P-P2Par) ITB diminta untuk menjadi moderator salah satu sesi seminar bersubtema “eco(marine)tourism.” Tentu cukup moderator. Tidak menjadi pembicara. Sebagai seorang ahli Geologi, saya tidak mau “sok tahu” tentang wisata bahari. Tetapi tugas berikutnya benar-benar sesuai kompetensi: menjadi interpreter  salah satu wisata yang diberi judul “Tin Geo Track.”
 
“Tin Geo Track” alias Geotrek Timah tadinya dirancang oleh panitia hanya sebagai sebuah ‘test case” apa yang pernah diusulkan oleh P-P2Par 2009 lalu. Untuk itulah, pesertanya dibatasi hanya bagi para operator wisata di Babel. Namun rupanya para peserta seminar tidak mau tahu. Mereka mendaftar juga pada pilihan Geotrek Timah, sehingga panitia tidak dapat menolak. Jadilah wisata yang tadinya hanya untuk 20 peserta, membengkak menjadi 36 peserta.
 
Penjelasan singkat di halaman teduh Hotel Aston yang baru berdiri 2010 lalu bersama-sama dengan Hotel Novotel dan Santika di Pangkalpinang, memberi gambaran terlebih dahulu kondisi geologi Pulau Bangka yang merupakan bagian dari batuan dasar granit. Granit yang membawa mineral kasiterit SnO2 sebagai mineral bijih timah semakin diperkaya ketika granit melapuk, tererosi dan endapan pasir kasiteritnya terakumulasi di endapan sungai, pantai, atau lepas pantai.
 
Begitulah, dengan kandungan timahnya ini, bagaimana sejak abad-abad ke 4 hingga 5, Bangka telah dieksploitasi oleh para pendatang dari Cina yang jago di dalam eksplorasi, menambang, dan mengolah timah. Nama Bangka pun konon berasal dari bahasa Cina ‘wangka’ yang berarti timah. Bahasa Sansakerta pun menyebut timah dengan ‘vanka,’ yang  mungkin mengadopsi dari bahasa Cina.
 
Lokasi kedua bergeser ke Museum Timah Indonesia di tengah Kota Pangkalpinang. Museum yang didirikan oleh PT Timah menyajikan secara lengkap sejarah eksplorasi dan eksploitasi timah di Bangka dan Belitung. Bangka yang maju sekarang ini bagaimana pun tidak lepas dari peran para penambang timah, walaupun  menghasilkan permukaan pulau yang bopeng penuh lubang galian timah (dikenal sebagai ‘kolong’)yang cenderung liar, dimana-mana, dan tidak terkendali.
 
Ketika melihat wajah Bangka seperti itu, mungkin sangat cocok mengambil peribahasa “nasi telah menjadi bubur” dengan konotasi positif. Apa salahnya jika kemudian buburnya diberi bumbu dan ditambah lauk-pauk yang tepat, malah mungkin akan menjadi hidangan yang lebih nikmat daripada nasi. Begitulah geotrek timah Bangka menganalogikan kondisi yang dianggap rusak karena keberadaan kolong dan aktivitas tambang timah untuk dimanfaatkan sebagai objek geowisata (yang mudah-mudah jika dikelola dengan baik dapat menguntungkan secara ekonomi).
 
Selesai dari Museum Timah, bus beranjak ke arah Sungailiat. Saat itu waktu telah menunjukkan pukul 10.20. Di atas bus dalam perjalanan sekitar satu jam lebih ke stop berikutnya, matahari yang panas di pagi hari semakin terasa menyengat di luar bus wisata yang ber-AC ini. Saat itulah, pegiat wisata Ita mengemukan bahwa jam-jam 11 hingga 13 akan menjadi waktu rawan untuk kegiatan wisata. Wisatawan biasanya sudah merasa capek, mengantuk, apalagi hawa di luar bus di Bangka begitu terik menyengat.
 
Setelah berhenti sebentar di tempat wisata mata air panas Tirta Tapta (yang airnya terasa hangat karena hawa di luar panas), geotrek menuju stoptrek berikutnya yang bakal menjadi ujian geowisata di jam-jam rawan tersebut: lokasi tambang timah aktif di Pemali.
 
Ketika bus berhenti di jalan tambang yang panas dan berdebu, benar saja para penumpang enggan untuk keluar bus. Namun dengan dipelopori saya, panitia, dan beberapa rekan yang telah saya tulari virus geotrek, akhirnya semua keluar. Ketika mendapat pembagian pinjaman helm proyek sebagai standar keselamatan di lokasi tambang, antusiasme berwisata timbul kembali. Berfoto dengan helm proyek berlatar belakang lokasi tambang menjadi sentuhan pertama melabrak waktu rawan itu.
 
Dan alhamdulillah, minat ingin mengetahui kegiatan tambang timah dengan sistem open-pit (galian terbuka) tinggi. Bahkan jika panitia tidak ketat dengan waktu, para peserta kelihatan merasa kurang waktu dan sedikit terburu-buru menyaksikan aktivitas penambangan serta pengolahan pemisahan kasiterit dari pasir dan batu. Lucunya, banyak orang Bangka asli sendiri belum pernah tahu dan menyaksikan bagaimana timah ditambang dan diolah.
 
Geotrek berikutnya setelah makan siang di lokasi wisata pantai Tanjung Pesona adalah penjelajahan batu-batu granit yang muncul  baik di Tanjung Pesona, ataupun di stop terakhir, Pantai Parai. Memang, batu-batu granit ini tidak seeksotis batu yang sama di Belitung, namun dengan interpretasi, semua bisa menjadi menarik. Geotrek Timah “Tin Geo-Track” pun ditutup di Rock Island, Pantai Parai.
Namun, mudah-mudahan virus geotrek terus mewabah di Bangka dan menjadi salah satu desakan untuk menjaga lingkungan.

Penulis adalah mantan Kepala P-P2Par ITB, staf dosen di Teknik Geologi ITB, koordinator Kelompok Riset Cekungan Bandung, dan anggota IAGI.

 
Bangka Tin Geo-Track, Making Critical Time A Nonsense
 
Critical time. That’s what I heard from Ita, a native Bangkanese tour operator, when she loaded us with information about Bangka Island on a tourism bus taking us from Pangkalpinang to the next destination, Tirta Tapta Pemali in Sungailiat. The trip was actually a part of grand programme, An International Seminar on Marine Tourism, held by Culture and Tourism Office of Kepulauan Bangka Belitung (Babel) Province on 21 – 22 September 2011.
 
As the head of Tourism Planning and Development Center (P-P2Par) of Bandung Institute of Technology (ITB), I was asked to become a moderator in that occasion. Just a moderator, of course, in one seminar session with eco(marine)tourism as the subtopic. Not a speaker. As a geologist I didn’t want to act like a know-all person on marine tourism. However, the next job suited my competence, an interpreter in a Tin Geo-Track field trip.
 
Tin Geo Track was previously planned by the seminar committee as a test case on what have been suggested by P-P2Par in 2009. That’s why the participant was limited just for tour operator in Babel. Apparently, the seminar participants didn’t seem care. They registered to follow this trip too and the committee had no choice but to allow them. Therefore, the previously 20 seats available turned out to be 36 participants.
 
The brief words, on a shady yard of Aston Hotel built in 2010 along with Novotel and Santika in Pangkalpinang, gave pre-geological condition understanding of Bangka Island which is a part of granite bedrock. Granite containing kasiterit SnO2 as tin ore mineral is enriched when it was weathered and eroded. The kasiterit sand is then accumulated in river, beach, and offshore sedimentation.
 
That’s why, owing to the tin ore, Bangka had been exploited by Chinese immigrants who were expertise in exploring, mining, and processing it. It even said that the name of Bangka was a Chinese-derived word – wangka – meaning tin. Sanskrit also refers tin as vanka, which was probably adopted from Chinese.
 
The second destination was Indonesia Tin Museum in downtown Pangkalpinang. This museum established by state-owned tin company, PT. Timah, displays a complete history of tin exploration and exploitation in Bangka Belitung. In fact, the progress of Bangka at this present can’t be separated from the role of tin miners, even though their activities cause pockmarks-like surface of tin open pit – locally known as kolong – everywhere and tends to be uncontrolled.
 
It’s no use crying over a spilt milk. That’s probably the phrase coming to our mind when we see this condition because what is done cannot be undone. It’s like overcook rice into porridge – but in positive connotation. It’s nothing wrong with the porridge. It can even be more delicious than rice if it is eaten with proper side dishes. That’s how when we draw an analogy between Bangka tin geo track and the present condition. The considered damage condition due to kolong and mining activities can be exploited as geotourism destination – which hopefully profitable if it is well managed.
 
Leaving the museum, we drove to Sungailiat. It was 10.20 a.m. The morning sun burnt the outer side of air-conditioned bus. That’s when Ita said about touring critical time happened between 11 a.m. to 13 p.m. Tourists usually feel tired and sleepy especially when the temperature outside the bus is absolutely hot.
 
After enjoying the Tirta Tapta hot spring – which water was warm due to the hot temperature outside the pool – the trip continued to the next stopping track. This destination, active tin mine in Pemali, would become a geotourism test in the critical time.
 
My, it really is a critical time! When the bus stopped on the hot and dusty mining road, the passengers didn’t want to get off the bus. Together with the committee and some friends whom I have infected geotrack virus, I finally could encourage them to get off. By gum, they’re alive! After they got safety helmets as mining safety standard, their enthusiasm were back. Taking picture wearing safety helmet with a background of mining location became the first touch in making nonsense of the critical time.
 
Thanks God, they were really interested to find out open pit tin mining activity. In fact, it seemed that they needed more time than the committee could give them in a firm time arrangement. They seemed to be in a hurry in enjoying the activities including process of separating kasiterit from sand and stone. The funny thing was even native Bangka participants hadn’t known and seen how tin was mined and processed.
 
The next geo-track was after lunch located in Tanjung Pesona beach. Here was the exploration of granite boulders either standing on Tanjung Pesona or Parai beach as the last stop. Indeed, the granite boulders are not as exotic as those in Belitung, but by the help of interpretation, everything can be interesting. The Tin Geo-Track was then closed in Rock Island, Parai Beach.
 
Hopefully, geotourism track virus will become an epidemic in Bangka and an insistence to safeguard the environment.

The writer is the former head of P-P2Par ITB, lecturer of Geological Engineering ITB, Coordinator of Bandung Basin Research Group, and member of the Indonesian Geologists Association (IAGI)
English Translator: SAS
Sumber: 
http://blog.fitb.itb.ac.id/BBrahmantyo/?p=1370
Penulis: 
DR. Budi Brahmantyo

Artikel Lainnya

13 Jul 2017 | Rusni
10 Jan 2017 | Rusni
31 Dec 2016 | Yuyun Tri Widowati
31 Dec 2016 | Yuyun Tri Widowati

Artikel Populer

07 Sep 2015 | Rusni
14 Jan 2015 | Syekh Ahmad Sobri (Translator)
09 Mar 2015 | BPS Babel dan Disbudpar Babel
27 Apr 2015 | DR. Budi Brahmantyo