Haul Kute Seribu

 
Haul Kute Seribu merupakan sebuah acara yang dilakukan oleh umat muslim di Kota Muntok dengan tujuan untuk mendoakan dan mengingat jasa para ulama atau tokoh masyarakat yang telah meninggal. Haul Kute Seribu di Kota Muntok ini biasanya dilaksanakan pada hari kedua atau ketiga setelah Hari Raya Idul Adha dan dipusatkan di Kampung Tanjung, atau lebih tepatnya yaitu di Surau Tanjung dan di depan pemakaman Kute Seribu.
 
Acara Haul Kute Seribu dimulai dengan pembacaan kitab Qasidah Burdah. Pada pagi hari, masyarakat kampung Tanjung telah berkumpul di Surau Tanjung yang kecil dan sempit untuk membaca syair-syair dalam Qasidah Burdah. Setelah itu, acara kemudian dilanjutkan dengan arak-arakan menuju ke Pemakaman Kute Seribu dengan diiringi tabuhan kendang dan lantunan shalawat bagi Nabi Muhammad SAW. Di Pemakaman Kute Seribu, orang-orang biasanya melakukan ziarah, mendoakan arwah dari tokoh-tokoh yang memiliki jasa besar bagi Kota Muntok, membaca Surah Yasin, Tahlilan, dan Tausiyah, lalu ditutup dengan acara makan bersama.
 
Pada awalnya, acara Haul Kute Seribu hanya dilakukan oleh keturunan para tumenggung untuk mengingat dan juga mendoakan para Tumenggung yang telah berjasa bagi Kota Muntok. Namun, kemudian masyarakat turut melaksanakan Haul untuk mendoakan tokoh-tokoh pendiri kota Muntok dan ulama-ulama yang telah melakukan syiar Islam di Muntok pada masa lalu. Dalam acara ini disisipkan pula pembacaan manaqib yaitu pembacaan semacam biografi dan silsilah keturunan dari tokoh-tokoh tersebut. Khususnya keturunan dari bangsawan yang bergelar Abang dan Yang di Kota Muntok yang telah ditetapkan oleh Sultan Mahmud Baddarudin I melalui Undang-Undang Gelar bagi keturunan Encek Wan Abdul Jabar putra dari Abdul Hayat atau Lim Tiaw Khian yang berasal dari Johor. Undang-undang gelar berbunyi antara lain: kalau ia laki-laki bergelar ‘Abang’ sama tingginya dengan Mas Agus, dan ‘Yang’ bagi perempuan sama tingginya dengan Mas Ayu yang ada di Palembang dan tidak boleh sekali ini orang lain memakai gelaran itu selain dari Keturunan Encek Wan Abdul Jabar.
 
Para tokoh, ulama, dan tumenggung tersebut dimakamkan di pemakaman Kute Seribu yang dahulunya merupakan sebuah benteng yang bernama Benteng Kute Seribu. Benteng tersebut dibangun seiring dengan perkembangan kota Muntok menjadi kota yang multietnis pada masa lalu yang juga sering diliputi bentrokan antar etnis. Pada tahun 1760, benteng tersebut diperbaiki dengan bantuan Susuhunan sebesar seribu ringgit dan seribu pikul emas menyusul serangan dari pasukan Raja Ali. Oleh karena itu, benteng tersebut dinamakan Benteng Seribu.
 
 
Rangkaian terakhir dari acara Haul Kute Seribu adalah makan bersama dengan menu khas masyarakat Kampung Tanjung adalah Nasi Kebuli. Nasi Kebuli merupakan salah satu kuliner masyarakat Kampung Tanjung yang mengadopsi budaya Arab mengingat komposisi masyarakat Kampung Tanjung yang terdiri dari keturunan Arab selain keturunan Johor-Siantan.

Penulis: Hera Riastiana
Photo: Dishubparinfo Bangka Barat (2015)

Destinasi Lainnya

Bangka Belitung, Culinary
Kota Pangkalpinang, Culture and Arts
Beach/Marine, Kabupaten Bangka Tengah
Beach/Marine, Kabupaten Bangka Barat
Heritage, Kabupaten Bangka Barat

Destinasi Terkait

Culture and Arts, Kabupaten Bangka Barat
Culture and Arts, Kabupaten Bangka Barat
Culture and Arts, Kabupaten Bangka Barat
Culture and Arts, Kabupaten Bangka Barat
Bangka Belitung, Culture and Arts, Heritage, Kabupaten Bangka Barat