Kain Tradisional dan Hutan Adat Dibahas Dalam Seminar Kajian Tradisi

Pangkalpinang – Kain Tradisional dan Hutan Adat dibahas tuntas dalam Seminar Kajian Tradisi Bangka Belitung 2018 yang diselenggarakan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Disbudpar Babel), di Hotel Grand Sahid, Pangkalpinang, Selasa (30/10/2018).

Kepala Disbupar Babel diwakili Kepala Bidang Kebudayaan Zuardi mengatakan bahwa seminar ini bertujuan sebagai bentuk pelestarian karya budaya.

“Seminar Kajian Tradisi ini sebagai bentuk pelestarian terhadap karya budaya yang ada di Bangka Belitung,” kata Zuardi saat membuka acara.

Zuardi mengatakan hasil kajian sangat penting bagi pengusulan Warisan Budaya Tak Benda Indonesia.

“Kajian ini sangat penting sekali. Makin banyak kajian karya budaya yang kita lakukan, makin baik, karena ini sangat dibutuhkan saat kita mengajukan WBTB nanti,” kata pria yang akrab disapa Jo.

Dua peneliti, yakni Bambang Haryo Suseno (Kain Tradisional) dan Yulian Fachrurozi (Hutan Adat) telah melakukan penelitian sejak Juni lalu. Bambang juga menampilkan hasil karya lukisannya bersama keempat rekannya, yang bertemakan Cual di area pintu masuk ruangan acara.

Dalam paparan hasil kajiannya, Bambang menjelaskan bahwa Cual memiliki karakter tersendiri, yakni menggunakan teknik rintang warna yang menghasilkan ragam hias yang indah.

“Kain Cual ditenun secara manual dengan teknik ikat dengan benang pakan, ditambah dengan teknik sungkit untuk benang emas atau perak. Sebuah tradisi menenun kain yang memiliki kekhasan dalam teknik rintang warna, sehingga menghasilkan ragam hias yang indah,” jelas Bambang.

Bambang yang juga merupakan Kepala Bidang Kebudayaan, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bangka Barat ini menambahkan bahwa sebagai WBTB Indonesia, mendalami kajian Cual sebagai bekal pengajuan Warisan Budaya Dunia UNESCO.

“Kain Cual sudah menjadi WBTB Indonesia tahun 2015. Pentingnya mendalami kajian ini secara mendetail, agar kedepannya kita memiliki modal yang kuat untuk mengajukannya sebagai Warisan Budaya Dunia UNESCO,” katanya.

Hasil kajian yang dipaparkan oleh kedua peneliti dibahas bersama Toto Sucipto dan Melati Erzaldi sebagai nara sumber, serta Semiarto Aji Purwanto sebagai editor.

Bahasan juga mendapatkan masukan dalam diskusi bersama para peserta yang berasal dari instansi pemerintah, pengrajin, dan pihak terkait lainnya berjumlah lima puluh orang. Selanjutnya, hasil kajian akan dituangkan dalam bentuk buku sebagai bahan pembelajaran untuk menambah khasanah tentang karya budaya Bangka Belitung.

 

Ernawati Arif (Pranata Humas Disbudpar Babel)