Kelenteng Toapekong Belinyu

Kelenteng Fuk Tet Che
Bahasa Indonesia/ English
 
Kelenteng adalah tempat ibadah penganut agama Konghucu. Di beberapa daerah, kelenteng disebut dengan istilah tokong, bio, am, pekong, toa pekong, thai pakkung, pakkung miau, shinmiau. Di pulau Bangka, kelenteng lebih dikenal dengan nama toappekong.  Ciri khas dari Kelenteng  atau Toappekong adalah bangunannya bernuansa arsitektur Tionghoa yang sangat kental, dengan altar persembahan kepada Dewa-Dewa di dalamnya, serta patung Singa di beranda depan. 
 
Ada tiga agama/kepercayaan yang berpengaruh besar terhadap alasan dibangunnya kelenteng/Toappekong, yaitu Budha, Tao, dan Konghucu. Di dalam kelenteng/Toappekong yang dipengaruhi agama Budha, terdapat patung Budha atau Hud-Co (orang suci setingkat Boddhisatva atau Budha). Pada umumnya juga akan ditemukan pula patung Kuan Yin (Hokkian: Kwan Im), yang merupakan Dewi Cinta Kasih. Ada pula patung atau gambar Dewa Akhirat Giam Lo Ong. Sementara pada kelenteng/Toappekong yang dipengaruhi Tao, terdapat patung Ma Co Po yang merupakan dewa pelindung para pelaut. Ma Co Po berarti Ibu yang Keramat yang dianggap sebagai Dewi Laut. Ada juga yang menyebutnya Dewi Ma Co. Ada pula kelenteng/Toappekong yang dibangun sebagai bentuk penghormatan kepada orang yang di masa hidupnya telah banyak berjasa dan menjadi teladan hidup bagi masyarakat. Selain dewa-dewi tersebut, ada pula patung Delapan Dewa yang salah satunya adalah Sun Go Kong. Lalu ada, Dewa Obat Han Tan Kong, Kung Tze, Dewa Tanah dan Bumi Thai Pak Kung, 4 Raja Alam Semesta Fa Kong Sui Sien, hingga Dewa Perang Koan Kong, dan masih banyak lagi.
 
Di pulau Bangka dapat ditemukan beberapa kelenteng/Toappekong tua dan indah yang  berusia ratusan tahun, terutama kota yang dahulunya pernah menjadi pusat penambangan timah, seperti yang ada di kota Belinyu. Keberadaan kelenteng/Toappekong tidak terlepas dari sejarah pertambangan timah di pulau Bangka. Belinyu dan Klabat pada masa pemerintahan Hindia Belanda tercatat sebagai salah satu distrik pertambangan paling penting. Catatan terkait pertambangan di distrik ini menunjukkan bahwa aktifitas pertambangan timah sudah dimulai sejak abad ke 17 di daerah Panji. Belinyu kemudian menjadi salah satu Keresidenan yang makmur dengan pertambangan timah sebagai pusat aktifitas perekonomian hingga abad ke 19. Bahkan Blinyu pernah memiliki Pusat Listrik Tenaga Diesel terbesar se Asia Tenggara di daerah Mantung.  
 
Sebagai daerah pertambangan, otomatis Belinyu menerima ribuan buruh tambang yang didatangkan langsung dari Tiongkok. Menurut Mary F. Somers Heidhues, bahwa kebanyakan para penambang asal Tiongkok ini datang dari kota pelabuhan Kanton (Guangzhou), dan diperkirakan mereka berasal dari wilayah-wilayah pegunungan di provinsi Guangdong. Belinyu menjadi salah satu distrik yang menerima gelombang arus besar orang Tiongkok ke pulau Bangka yang terjadi di sekitar 1834-1843. 
 
Pada 1849, Residen van Olden pernah memberikan sebuah catatan tentang jumlah penambang Tionghoa di Belinyu, yang juga mencatat asal mereka. Selain peranakan, yaitu orang Tionghoa yang lahir di Bangka, dicatat pula yang berasal langsung dari Tiongkok seperti dari “Kee” atau “Hakka’, dari Hoklo (Chaozhou), “Poentie” Guandong, dan “Makouw”, Makao. Jumlah mereka saat itu sudah mencapai belasan ribu jiwa, yang terdiri dari laki-laki, perempuan dan anak-anak. Letnan Tionghoa dari Belinyu, Liem Asam (Letnan tahun 1863-1898, Kapitan Kehormatan 1899-1913), sendiri pernah mengirim surat kepada pemerintahan Hindia Belanda tentang kelompok-kelompok yang telah ada di pertambangan Bangka, yaitu: Kong tjoe (Guangzhou), Tie tjoe (mungkin Chaozhou), Nam hioeng (mungkin Nanxiong, daerah pedalaman Jiayingzhou dan sebuah perkampungan orang Hakka), Tjhauw tjoe (Chaozhou), Loei tjoe (Leizhou), Liam tjoe (Lianzhou), Ko tjoe (Gaozhoe), Kongsie (Guangxi).
 
Kedatangan orang-orang Tiongkok dalam jumlah banyak ini tentu saja membawa pula adat istiadat dan kebiasaan hidup mereka, dari bahasa, teknologi, hingga agama/kepercayaan. Terlebih ketika pemerintah Hindia Belanda mengambil kebijakan memberikan izin langsung kepada para pejabat Tiongkok atau para pedagang untuk memasukkan kuli-kuli tambang timah dari Singapura bahkan langsung dari Tiongkok, sehingga terbentuklah komunitas Tionghoa yang cukup besar di kota-kota tambang di pulau Bangka. Jejak keberadaan para pendatang ini  terlihat pada beragam aspek kehidupan pada masyarakat di pulau Bangka, baik berupa hasil akulturasi budaya yang terlihat mulai dari bahasa, kuliner, bangunan, pakaian pengantin, dan lain sebagainya, hingga berupa produk budaya yang masih kental sebagaimana bentuk aslinya,  yang dapat dilihat hingga saat ini seperti rumah ibadah orang Tionghoa berupa kelenteng atau Toappekong
 
Berikut ini dua buah kelenteng/ Toappekong peninggalan abad 17 – 18 yang masih bisa dilihat di Kota Belinyu:
 
1. KELENTENG LIANG SAN PHAK KUNG MIAW
 
Kelenteng Liang San Phak Kung Miaw berada di daerah Panji, dekat Belinyu. Panji sendiri diperkirakan merupakan salah satu lokasi operasi pertambangan Tionghoa pertama (selain Belo dan Tempilang). Terhubung dengan Teluk Kelabat, Panji merupakan salah satu dari pemukiman tertua, bahkan lebih tua dari Belinyu sendiri.   Kelenteng Liang San Phak Kung Miaw ini tidak jauh dari puing reruntuhan sebuah benteng dan makam dari seorang Kapitan Cina, Bong Kiong Fu (Huang Xuxi) atau “Bong Kap” tertanggal 1795. Penduduk Belinyu menyebut tempat ini sebagai Benteng Kuto Panji¹.
 
 
Konon kelenteng Liang San Phak Kung Miaw menyimpan beberapa barang-barang peninggalan Bong Khiong Fu seperti sepasang patung dewa Thai Pak Kung (Toappekong) dari kayu yang dibawa dari daratan Tiongkok, bernama Liong San Phak dan Siat Li Ciaw. Selain itu terdapat pula sepasang lonceng kelenteng yang juga merupakan peninggalan Bong Khiong Fu.
 
 
2. KELENTENG FUK TET CHE
 
Kelenteng Fuk Tet Che dibangun sekitar tahun 1896. Lokasi kelenteng terletak di Kampung Tengah, kecamatan Belinyu, kabupaten Bangka. Kelenteng yang sudah berusia ratusan tahun ini hingga kini masih difungsikan sebagai tempat ibadah oleh warga Tionghoa.
Adapun Dewa/Dewi yang dipuja di kelenteng ini antara lain: Dewa Bong Kwet Chung Pak Kung, Dewa Kwan Ti/Guang Gong, Dewi Kwan Im, Budha Maitreya. Hal ini terlihat pada altar untuk sembahyang yang ada di dalam kelenteng.Kelenteng yang atapnya dihiasi sepasang Naga dan didominasi warna merah ini, dengan hiasan ornamen-ornamen cantik di bagian dalam berupa relief dan lukisan sebagai motif, serta isi kelenteng, yang konon masih asli dari Tiongkok.

¹ Mary F.Somers Heidhuis, hal.15-16; setelah Mentok dan Belo, pertambangan meluas ke bagian timur, Panji, dekat Blinyu, yang dikatakan telah ada sebagai sebuah perkampungan pada masa Majapahit, adalah salah satu dari pertambangan yang dibangun berikutnya.
 
Referensi:
  1. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, 2005.”Dokumentasi Benda Cagar Budaya dan Situs Provinsi Kepulauan Bangka Belitung”, tidak diterbitkan.
  2. Mary F. Somers Heidhues,  2008. “Timah Bangka dan Lada Mentok, peran Masyarakat Tionghoa dalam Pembangunan pulau Bangka abad XVIII   s.d XX”, Yayasan Nabil.
  3. Nio Joe Lan, 1961.”Peradaban Tionghoa, selajang pandang”, Penerbit Keng Po Djakarta.
  4. Google.com, Wikipedia.

 
Kelenteng is a place of Confucius worship. In some areas,Kelenteng is called tokong, bio, am, pekong, toa pekong, thai pakkung, pakkung miau, shinmiau. In Bangka Island, Kelenteng is commonly known as Toappekong. Chinese architecture is the characteristics of Kelenteng/Toappekong, with tribute altar to the Gods in it, and the stone lion at the front.
 
Buddhism, Taoism and Confucianism are those three beliefs that give big influence to a reason to build kelenteng or Toapekkong. In Kelenteng/ Toappekong influenced by Buddhism.  People can find Buddhist or Hud-Co statue (Boddhisatva or Buddhist Saint-level). In general people will also find Kuan Yin Statue (Hokkian: Kwan Im), the goddess of Love. There is also the god of Hereafter statue, Giam Lo Ong. While at Kelenteng/Toapekong influenced by Taoism, there is statue of Ma Co Po, the goddess of Sailing Protector. Ma Co Po means the Sacred Mother who is considered as the goddess of Sea. Some people call her Ma Co. There are also Kelenteng / Toappekong built to respect a noble person who has become the role model in the society. Besides these gods and goddess, there is also the statue of Eight Gods, one of it is Sun Go Kong. Then, there is Han Tan Kong, gods of medicine, Kung Tze,  Thai Pak Kung the lord of the soil and ground,  Fa Kong Sui Sien as Four Kings of Universe, and Koan Kong the gods of war, and many more.
 
In Bangka Island, people can find several hundred-year-old and beautiful Kelenteng / Toappekong, especially in Belinyu as the central of tin mining in the past. The existence of Kelenteng / Toappekong shall not be separated from the history of tin mining in Bangka Island. Belinyu and Klabat were listed as one of the most important mining districts during the Dutch East Indies colonial era.  In the record, mining activities has started since the 17th century in Panji area. Then, Belinyu became one of the prosperous Residency with tin mining as center of economic activity until the 19th century. Belinyu even ever had the largest Diesel Power Plant in South East Asia at Mantung.
               
As mining area, Belinyu automatically had thousands of miners imported directly from Tiongkok/ China. According to Mary F. Somers Heidhues1 , most of these Chinese miners came from  Canton Port (Guangzhou), and assumed they came from mountainous areas in Guangdong province. Belinyu became one of districts that accepted a large number of Tiongkok people to Bangka Island during 1834-1843.
In 1849, Resident van Olden was once gave the recorded number and the origin of Chinese miners in Belinyu. Besides the half-caste, the Chinese born in Bangka, there is also the record of native Chinese from Tiongkok, such as from "Kee" or "Hakka", Hoklo (Chaozhou), "Poentie" Guandong, and "Makouw", Macao. At that time, their population had reached tens thousands of lives, consisting of men, women and children. Chinese Lieutenant from Belinyu, Liem Asam (Lieutenant in 1863-1898, the Honorary Captain in 1899-1913), once sent a letter to the Dutch East Indies government about groups in Bangka mining: Kong tjoe (Guangzhou), Tie tjoe (possibly Chaozhou), Nam hioeng (probably Nanxiong, rural area of Jiayingzhou and Hakka village), Tjhauw tjoe (Chaozhou), Loei tjoe (Leizhou), Liam tjoe (Lianzhou) , Ko tjoe (Gaozhoe), Kongsie (Guangxi).
 
The arrival of Chinese people in large numbers undoubtedly brought their customs and life habits, from language, technology, and religion / belief.  Especially when the Dutch East Indies government took policy of granting direct permission to Chinese officials or merchants to send tin mines workers from Singapore even from Tiongkok, a quite large Chinese community established in mining towns in Bangka Island. The existence of this immigrants can be seen from various aspects of society life in Bangka Island, from cultural acculturation of the language, culinary, building, wedding dress, and so on, to the genuine cultural products which can seen until now, such as Kelenteng or Toappekong.
Below are two Kelenteng / Toappekong (17th - 18th centuries) that can still be seen in Belinyu:
 
1. KELENTENG LIANG SAN PHAK KUNG MIAW
Kelenteng Liang San Phak Kung Miaw is located in Panji area, Belinyu. Panji is assumed as one of the first Chinese mining operations locations besides Belo and Tempilang. Being connected to Kelabat Bay, Panji is one of the oldest settlements, even older than Belinyu. Kelenteng Liang San Phak Kung Miaw is not far from a fortress ruins and the tomb of Chinese Captain, Bong Kiong Fu (Huang Xuxi) or "Bong Kap" (1795). Belinyu people call this place as  Benteng Kuto Panji ( Kuto Panji Fortress).1
 
People say that Kelenteng Liang San Phak Kung Miaw keeps some relics belonged to Bong Khiong Fu such as a pair of Thai Pak Kung statue (Toappekong) from wood that brought from China mainland, named Liong San Phak and Siat Li Ciaw. Besides that there are also a pair of bell which is also a relic belonged to Bong Khiong Fu.
 
2. KELENTENG FUK TET CHE
Kelenteng Fuk Tet Che was built around 1896. It is located in Kampung Tengah, Belinyu sub-district, Bangka regency. The hundreds-year-old Kelenteng is still functioned as worship place. The   gods / goddesses worshipped in this Kelenteng such as: Bong Kwet Chung Pak Kung, Kwan Ti / Guang Gong, Kwan Im, and Buddha Maitreya. Those can be seen from the altar in the Kelenteng. The roof of the Kelenteng is decorated with a pair of dragons and dominated by red color. It has beautiful ornaments inside with motif of relief and paintings. The things in Kelenteng are considered as original from China.
 
¹Mary F.Somers Heidhuis, page. 15-16; after Mentok and Belo, mining extends to the east, Panji, near Belinyu, which is said has been existed as a settlement since Majapahit era. It is one of the mines that built later

Penulis: Yuyun Tri Widowati
Translator: Rita Eviyanti
Editor: Yuliarsih (Ind.)/ Rosy Handayani (Eng.)
Photo: Yuyun Tri Widowati

Destinasi Lainnya

Bangka Belitung, Culinary
Kota Pangkalpinang, Culture and Arts
Beach/Marine, Kabupaten Bangka Tengah
Beach/Marine, Kabupaten Bangka Barat
Beach/Marine, Kabupaten Belitung

Destinasi Terkait

Culture and Arts, Kabupaten Bangka
Culture and Arts, Kabupaten Bangka
Culture and Arts, Kabupaten Bangka
Culture and Arts, Kabupaten Bangka
Bangka Belitung, Kota Pangkalpinang, Culture and Arts, Kabupaten Bangka, Kabupaten Belitung, Kabupaten Bangka Tengah, Kabupaten Bangka Barat, Kabupaten Bangka Selatan, Kabupaten Belitung Timur