Ketupat Lepas

 
Bahasa Indonesia/ English
 
Ketupat Lepas disebut juga dengan ketupat tolak bala, adalah ketupat yang dianyam sedemikian rupa dan akan terlepas jika bagian ujung dan pangkalnya ditarik. Jika biasanya ketupat berbentuk kotak atau persegi yang tertutup rapat dan memiliki ruang kosong  untuk diisi beras, maka ketupat yang satu ini hanya dianyam dengan bentuk memanjang agak renggang atau longgar tanpa isi dan dua ujungnya terpisah.
 
Ketupat Lepas pada jaman dulu sering disajikan pada acara–acara pembacaan do’a di rumah-rumah warga terutama yang sedang hajatan yang bertujuan untuk melepaskan (menolak) bala. Pada acara Rebo Kasan, setiap rumah menyediakan Ketupat Lepas sejumlah anggota keluarga yang ada di rumah tersebut. Setelah pembacaan do’a  barulah para jemaah yang hadir mulai menarik/melepaskan anyaman ketupat tersebut sambil menyebut nama keluarga masing-masing sebagai pertanda melepas bala yang sewaktu-waktu akan datang.
 
Pada awalnya, upacara pelepasan ketupat tidak hanya sampai pada penarikan hingga lepas saja, tetapi juga dilanjutkan dengan melarung helai daun kelapa yang telah terlepas tersebut ke laut, yang mengandung arti bahwa bencana yang disimbolkan dengan dua helai daun kelapa tersebut telah dibuang ke laut. Upacara ini dulunya masih dilakukan di tepi pantai, tidak hanya untuk sebagai penolak bala saja tetapi juga bermaksud sebagai pengharapan agar hasil tangkapan yang merupakan mata pencaharian utama nelayan melimpah.
 
Upacara adat ini, meskipun tidak ada tuntunannya dengan ibadah agama tertentu, sekarang dilaksanakan di tempat-tempat ibadah. Acara ini akan diakhiri dengan menikmati hidangan bersama hantaran warga sekitar tempat ibadah tersebut untuk para peserta dan tamu yang datang menghadiri acara tersebut. Masyarakat yang masih melaksanakan adat ini adalah warga di daerah Merawang, Kabupaten Bangka dengan tujuan melestarikan budaya setempat.
 
Ketupat Lepas or ketupat tolak bala( ketupat to avert disaster), is a type of ketupat whose container is hand woven in such a way and will be opened if it supper and lower ends are pulled. Ketupat usually has a square-shaped container made of tightly handwoven young coconut leaves and has empty space to be filled by rice, but this ketupat is made by simply handweaving an elongated shape slightly loosely without fillings with two separate ends.
 
In the past, it was often presented at prayers-saying events in the houses of residents, especially those making a celebration which is intended to aims put an end to (avert) disaster. During the event of Rebo Kasan, each house provides Ketupat Lepas according to the number of family members living in the house. After the prayers-saying session ends,the guests attending the event begin disassemble the hand woven young coconut leaves covering the ketupat while saying their respective family’s name as a sign of averting disaster that might occur at any time.
 
At the beginning, the ceremony of disassembling the ketupat did not end after pulling the handwoven young coconut leaves, but it was followed by having the disassembled coconut leaves washed away by the sea, which means that the disaster symbolized by the two coconut leaves has been thrown into the sea. In the past, this ceremony was done on the beach and was not only intended to avert disaster but also to request abundant catches, which were fishermen’s main activities to make a living.
 
This traditional ceremony, despite the absence of relationship with particular religious teachings, is now carried out in places of worship. The event will be ended by enjoying the feast along with meals from residents around the place of worship for the participants and guests attending the event. The tradition is kept, especially for the people in Merawang, Bangka Regency with a view to preserving their local culture.

Penulis : Risnawati
Translator: Rita Eviyanti
Editor: Yuliarsih (Idn)/ Rosy Handayani (Eng.)

Destinasi Lainnya

Bangka Belitung, Culinary
Kota Pangkalpinang, Culture and Arts
Beach/Marine, Kabupaten Bangka Tengah
Beach/Marine, Kabupaten Bangka Barat
Nature, Kota Pangkalpinang, Culture and Arts

Destinasi Terkait

Culture and Arts, Kabupaten Bangka
Culture and Arts, Kabupaten Bangka
Culture and Arts, Kabupaten Bangka
Culture and Arts, Kabupaten Bangka, Heritage