Kue Cang

 
Bahasa Indonesia/ English
 
Di hamparan pasir pantai yang putih, langit yang biru, dengan angin yang bertipu sepoi-sepoi dan air laut yang surut jauh, masyarakat keturunan Cina di Pulau Bangka menyalakan hio lalu bersembahyang, melempar kue cang, mandi dan mendirikan telur pada tengah harinya. Ritual ini dilaksanakan setiap bulan 5 tanggal 5 dalam penanggalan Imlek dalam rangka merayakan tradisi Peh Cun. Tradisi ini sebenarnya telah berusia lebih dari dua ribu tahun, meskipun demikian masyarakat keturunan cina di Pulau Bangka masih tetap mempertahankan budaya leluhurnya. Setiap kali perayaan Peh Cun, mereka berkumpul bersama keluarga di pantai sambil berekreasi menikmati suasana pantai.
 
Kue Cang dalam perayaan Peh Cun, memiliki makna penting bagi masyarakat Cina yaitu sebagai bentuk penghormatan kepada seorang menteri dalam sejarah Cina yang berbakti kepada negara, bernama Qu Yuan. Meskipun sebenarnya ada beberapa cerita mengenai asal mula mengenai Kue Cang dan perayaan Peh Cun, namun semuanya menceritakan tentang pengorbanan orang-orang yang berbakti baik kepada keluarga maupun kepada negaranya sebagai bentuk perwujudan dari ajaran Konfucius mengenai laku bakti. Kue Cang tersebut dibuat dengan maksud untuk melindungi tubuh dari Qu Yuan yang telah meninggal di sungai agar tidak makan oleh ikan-ikan. Oleh karena itu terdapat ritual melempar kue Cang ke sungai atau laut dalam perayaan Peh Cun. Pada perayaan Peh Cun oleh masyarakat keturunan Cina di Pulau Bangka, Kue Cang tidak hanya dibuang kelaut saja, akan tetapi juga dimakan dan dibagikan kepada keluarga yang tidak dapat merayakan Peh Cun karena dalam kondisi berkabung.
 

Kue Cang pada dasarnya terbuat dari beras ketan yang berbentuk segitiga dan dibungkus dengan daun bambu biasanya dikonsumsi dengan sirup yang terbuat dari gula pasir. Akan tetapi hal tersebut berbeda dengan Kue Cang yang dibuat di Pulau Bangka. Kue Cang yang dikenal oleh masyarakat di Pulau Bangka lebih dikenal dengan nama Bacang oleh masyarakat di luar Pulau Jawa. Selain itu, alih-alih menggunakan daun bambu, masyarakat biasa membuat Kue Cang dengan menggunakan daun pandan. Kue Cang dibuat dengan isian seperti daging babi, daging sapi, dagi ayam, udang, atau jamur bagi masyarakat keturunan Cina yang vegetarian. Pada perkembangannya, Kue Cang tidak hanya dibuat dan dinikmati oleh masyarakat keturunan Cina akan tetapi masyarakat melayu di Pulau Bangka juga mengadopsi Kue Cang dalam ragam kulinernya. Masyarakat melayu biasa menggantikan bahan isian kue cang dengan bahan yang diperbolehkan untuk dimakan dalam ajaran agama Islam seperti daging ayam, daging sapi, atau udang.  Kue Cang tidak hanya dapat dinikmati pada perayaan Peh Cun, akan tetapi juga dapat dinikmati setiap hari yang biasanya tersedia di kios-kios kue tradisional.


 
On the white sandy beach, under the blue sky, with gentle breeze and the low tide, Chinese descendants of Bangka Island light up the hio [incense] and pray, throw cakes, bathe and set up the standing eggs at midday. This ritual is held every 5th day of the 5th month of the Lunar calendar in celebration of the Peh Cun tradition. This tradition is actually already more than two thousand years old and the Chinese descendants of the island of Bangka still retain this culture. Every time Peh Cun celebration, they gather with family on the beach while enjoying the beach.
 
Kue Cang in Peh Cun celebration has an important meaning for the Chinese people as a form of respect to a devoted minister in the history of Chinese Kingdom, named Qu Yuan. Although there are actually some versions for the origins of Kue Cang and the Peh Cun festival, all of them tell about the sacrifice of the devoted people both to their families and to their country as the manifestation of Confucius' teaching on consecrated behavior. The Kue Cang is made with the intention to protect the body of Qu Yuan that died in the river so that the fish would not eat the body. Therefore, in Peh Cun Festival, there is a ritual of throwing Kue Cang into the river or sea. At the celebration of Peh Cun by Chinese descendants on Bangka Island, not all Kue Cang are thrown off to the sea, but some are also eaten and distributed to families who cannot celebrate Peh Cun for they are still in mourning time.
 
Kue Cang is basically made of glutinous rice shaped in triangles and wrapped in bamboo leaves, and they are usually served with syrup made from sugar. However, Kue Cang in Bangka island is quite different. Kue Cang known by the people in Bangka Island is better known as Bacang by people outside Java Island. In addition, instead of using bamboo leaves, local people make Kue Cang using Pandanus leaves. Kue Cang are made with fillings like pork, beef, chicken, shrimp, or mushrooms for vegetarians. In its development, Kue Cang is not only made and enjoyed by the Chinese descendants but also by the Malayans people in Bangka Island that adopted Kue Cang in their culinary variety. The Malayans replace the ingredients of cang pie with ingredients and fillings that are allowed to be eaten by Muslims such as chicken, beef, or shrimp. Kue Cang is not only available in the Peh Cun celebration, but is also available in traditional cake kiosks.

Penulis: Hera Riastiana
Translator: Rusni B
Editor: RB
Photo: Hera Riastiana

Destinasi Lainnya

Bangka Belitung, Culinary
Kota Pangkalpinang, Culture and Arts
Beach/Marine, Kabupaten Bangka Tengah
Beach/Marine, Kabupaten Belitung
Beach/Marine, Kabupaten Bangka Barat

Destinasi Terkait

Bangka Belitung, Culinary
Bangka Belitung, Culinary
Bangka Belitung, Culinary
Bangka Belitung, Culinary
Bangka Belitung, Culinary