Kue Ganepo

 
 
Penamaan Ganepo pada kue ini menurut cerita yang berkembang dalam masyarakat di Pulau Bangka khususnya di Kota Muntok berkaitan dengan euforia Pesta Olahraga Negara-Negara Berkembang atau Games of The New Emerging Forces (GANEFO) yang berlangsung pada tahun 1963.  Pada masa itu,  Indonesia menjadi tuan rumah perhelatan pesta olahraga bagi negara-negara berkembang yang menjadi tandingan penyelenggaraan olimpiade dunia.
 
Kue ini dibuat ketika masyarakat berada pada masa-masa susah, bahan pangan sulit dijangkau sehingga masyarakat mensubtitusinya dengan bahan-bahan lain. Singkong merupakan bahan pangan yang paling mudah dijangkau oleh masyarakat pada masa lalu, sehingga singkong menjadi salah satu komoditas yang paling banyak diolah masyarakat dalam pengolahan makanan. Salah satunya adalah dengan mengubah singkong menjadi tepung yang dapat dimanfaatkan untuk membuat kue, menggantikan tepung terigu. Sebenarnya singkong telah dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai bahan untuk makanan ringan, namun pengolahan singkong menjadi bolu merupakan sesuatu yang baru yaitu sebagai pengaruh kuliner dari barat pada masa penjajahan Belanda di Indonesia. Teknik membuat kue berlapis pada dasarnya berasal dari Belanda, yang kemudian diadopsi oleh masyarakat Indonesia dalam budaya kulinernya.
 
 Kekhasan rasa Kue Ganepo, berasal dari rasa singkong yang telah ditepungkan. Proses penepungan tersebut biasanya dilakukan dengan cara memarut singkong yang telah dikupas dan dibersihkan dengan menggunakan parutan nanas. Setelah diparut, singkong diperas dengan menggunakan kain hingga kering. Parutan singkong tersebut kemudian di letakkan pada nampan bambu dan dijemur hingga kering. Setelah kering singkong parutan singkong biasanya masih dalam bentuk agak kasar, sehingga untuk mendapatkan tepungnya dapat ditumbuk. Pada saat ini proses penepungan ini sudah jarang dilakukan oleh masyarakat karena tepung gandum lebih mudah dan murah untuk didapatkan. Selain itu, prosesnya juga sangat bergantung pada cuaca yang panas agar dapat menghasilkan tepung dengan kualitas yang baik. Bila terlalu lembab, biasanya tepung singkong akan berbau dan memiliki rasa yang agak tengik.
 
Sekilas penampilan kue ini mirip dengan kue kontemporer Rainbow Cake yang dibuat dengan pewarna makanan, namun Kue Ganepo pada dasarnya menggunakan pewarna alami yaitu daun suji dan daun pandan yang memberi warna hijau pada adonan. Sementara itu untuk  warna merah digunakanlah air rebusan kembang belimbing wuluh, dan warna kuning dari warna tepung singkong. Setiap lapisan kue melalui proses pematangan dengan cara dikukus lapis demi lapis adonan, sehingga membutuhkan ketekunan dan kesabaran dalam membuat kue Ganepo ini. Kue ini sudah jarang dibuat, namun dalam beberapa perayaan seperti Festival Kue atau dalam acara perayaan ulang tahun Kota Muntok biasanya terdapat kue Ganepo yang disajikan untuk mengingatkan kembali masyarakat terhadap kekayaan pengetahuan kuliner lokal yang mereka miliki.
Penulis: Hera Riastiana
Editor: Rusni
Poto: Hera Riastiana
 

Destinasi Lainnya

Bangka Belitung, Culinary
Kota Pangkalpinang, Culture and Arts
Beach/Marine, Kabupaten Bangka Tengah
Beach/Marine, Kabupaten Bangka Barat
Heritage, Kabupaten Bangka Barat

Destinasi Terkait

Bangka Belitung, Culinary
Bangka Belitung, Culinary
Bangka Belitung, Culinary
Bangka Belitung, Culinary
Bangka Belitung, Culinary