KV Senang

 
Bahasa Indonesia/ English
 
Ketika berkunjung ke Pulau Belitung menggunakan pesawat udara, orang akan menapakkan kaki di Bandara Hanandjoeddin yang berada di Kota Tanjungpandan. Kota Tanjungpandan dimulai sejarahnya dari berdirinya Kampung Gunong yang menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Balok dan Kampung Ilir yang ditinggali oleh warga keturunan Tionghoa yang menjadi pusat ekonomi.
 
Pada Tahun 1853, Kampung Gunong dijadikan sebagai pusat pemerintahan Kolonial Belanda di Belitung yang kemudian dipindahkan ke Kampong Ume. Permukiman yang berkembang selanjutnya adalah Kampung Pandan di kawasan sekitar Tanjungpendam sekarang. Pusat kota Tanjungpandan yang terletak disekitar Bundaran Batu Satam, tumbuh seiring berkembangnya perusahaan timah Belanda yang terletak di antara Kampung Pandan, Kampung Gunong, Kampung Ume dan Kampung Ilir (pecinan).
 
Kavling Senang, atau KV Senang yang sekarang terletak di pinggiran Bundaran Batu Satam Kota Tanjung pandan, awalnya terletak di balik kompleks bangunan yang dibangun sekitar tahun 1890an. Dulu, KV Senang dibangun sebagai tempat nongkrong dan bersantai saat jam istirahat para ambtenaar, para pekerja kantor, sopir dan penjaga toko-toko di Belitung saat itu. Di area ini terdapat kedai-kedai kopi, warung makanan serta rumah bola (bilyard). Di KV Senang biasanya orang datang untuk mengobrol sambil menikmati kopi.
 
 
Salah satu kedai kopi tertua di Belitung yaitu Warung Kopi Ake, awalnya berjualan kopi menggunakan gerobak di bawah Tugu Jam Gede pada tahun 1922 sebelum masuk ke KV Senang. Warung Mak Jannah yang saat ini masih berjualan mie Belitong, telah dikelola oleh generasi keempat. Warkop Ake dan Mie Mak Jannah seolah telah menjadi trademark KV Senang. Warkop Ake sampai saat ini masih mempertahankan meja batu marmer yang sudah digunakan hampir seabad lamanya.
 
Sejak tahun 2012, kawasan KV Senang telah direvitalisasi dan sering menjadi tempat para pegiat seni dan budaya untuk menampilkan karya-karya mereka. Meskipun di KV Senang sedang tidak ada pertunjukan, kawasan ini sudah mulai dikunjungi warga sejak pagi hari untuk mencari sarapan pagi atau sekedar ngobrol sambil menikmati kopi. Sering kali tempat ini menjadi tempat mencari informasi tentang hal-hal yang sedang diminati warga. Tak heran, di area ini bisa saja terlihat para pejabat seperti gubernur atau bupati sedang menikmati kopi sambil berbincang-bincang dengan warga. Di KV Senang juga terdapat toko-toko souvenir. Area ini baru akan sepi menjelang tengah malam, ketika pemilik kedai-kedai kopi beristirahat untuk kembali bekerja pada pagi hari.
 
When going to Belitung Island by plane, one would land on Hanandjoeddin Airport in Tanjungpandan. The history of Tanjungpandan itself was started since the establishment of Kampong Gunong that became the central of Balok Kingdom government and Kampong Ilir that was the settlement of Chinese descendants that also became the economic center of the area.
 
In 1853, Kampung Gunong became the central area of Dutch colonial government in Belitung Island. The government central area then was moved to Kampong Ume. The area developed afterward was Kampung Pandan in what is now become the area of Tanjungpendam. The recent city center of Tanjungpandan around Batu Satam roundabout has grown along with the growth of Dutch tin mining company in colonial era. This area was the area between Kampong Pandan, Kampong Gunong, Kampong Ume and Kampong Ilir (Chinatown).
 
Kavling Senang (senang Plot), or abbreviated as KV Senang, is now located on the opposite of the Batu Satam roundabout of Tanjungpandan. Previously, this area is located behind building complex that was built aroun 1890s. In the past, KV Senang was the place for ambtenaar (government officers), office workers, drivers and shopkeepers to hang out and relax during their break time. In the area were coffee shops, food stalls and clubhouse (for billiards). People usually come to KV Senang to have some chit chat while enjoying cups of coffee.
 
One of the oldest coffee shops in Belitung is Warung Kopi Ake or Warkop Ake that was started as a coffee cart under Jam Gede (big clock) Monument in 1922 before entering KV Senang. Warung Mak Jannah, which is still selling Belitong Noodle in KV Senang, has been there for 4 generations.  Warkop Ake and Mak Jannah noodle have become the trademark of KV Senang. Even Warkop Ake still retains to use an old marble stone table that has been used for almost a century.
 
Since 2012, KV Senang area has been revitalized and often used by artists   to perform and show their works. Although in KV Senang there is no performance/ show at that time, this area has been visited by the locals since morning as people can have breakfast there, or just to chat with others while enjoying coffee.  This area is also a place to find the recent information about the hot topics people are talking about. No wonder, in this area people can see top officers like governor or regents enjoying coffee while chatting with locals. There are also souvenir shops in KV Senang. This area will be deserted by midnight, when the keepers of coffee shop close the doors so that they can rest and come to work again in the morning.

Penulis: Rusni/ Hera R
Photo: Rusni

Destinasi Lainnya

Bangka Belitung, Culinary
Kota Pangkalpinang, Culture and Arts
Beach/Marine, Kabupaten Bangka Tengah
Beach/Marine, Kabupaten Bangka Barat
Nature, Kota Pangkalpinang, Culture and Arts

Destinasi Terkait

Nature, Kabupaten Belitung
Nature, Kabupaten Belitung
Nature, Kabupaten Belitung
Nature, Kabupaten Belitung
Nature, Kabupaten Belitung, Special Interest