Lestarikan Pengobatan Tradisonal Melalui Kajian

 

Kajian Pengobatan Tradisional di Hotel Puri 56, Pangkalpinang, Senin (2/10/2017).

 

Pangkalpinang – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Disbudpar Babel) melaksanakan Forum Group Discussion (FGD) tentang Pengobatan Tradisonal, di Puri 56 Hotel and Resto, Pangkalpinang, Selasa (2/10/2017). FGD ini membahas hasil penelitian yang dilakukan di wilayah kesatuan Mapur, Bangka.

Teungku Sayyid Deqy sebagai peneliti mengemukakan interaksi antar sistem medis tradisional dengan medis modern serta etiologi penyakit dengan studi kasus patah tulang (fraktur), perkawinan sedarah (incest), dan melahirkan (partus).

Deqy menjelaskan terdapat sejumlah kendala yang dihadapi selama proses penelitian untuk setiap studi kasus. “Hambatannya itu di waktu. Untuk sebuah penelitian ini masih terlalu singkat. Kemudian, proses penelitiannya pun cukup unik, seperti untuk menumpulkan anak-anak autis, itu tidak mudah. Karena selain mereka memiliki dunianya sendiri, orang tuanya pun akan tersinggung,” kata Deqy saat ditemui usai FGD.

Untuk kasus patah tulang, lanjut Deqy, terkendala karena sifatnya yang eksidentil. Tidak dapat diketahui secara pasti kapan bisa mendapati korban dengan keluhan patah tulang. Selain itu, Deqy juga melakukan penelitian dengan metode leave in, yakni ikut tinggal di rumah dukun yang mengobati patah tulang. Hal serupa juga terjadi untuk kasus melahirkan.

Menanggapi kegiatan ini, Akhmad Elvian selaku sejarahwan Bangka Belitung mengatakan kajian ini berkaitan erat dengan upaya untuk menggali, melindungi, dan memanfaatkan pengetahuan pengobatan trdisional untuk kepentingan saat ini. Selain itu, pengobatan tradisional dari berbagai suku di Indonesia, khususnya di Bangka Belitung memiliki berbagai keunikan yang harus dilestarikan.

“Pengobatan tradisional di berbagai etnik grup suku bangsa itu bermacam-macam varian dan bentuknya. Dan yang paling menarik di Bangka Belitung, pengobatan tradisional masih berkaitan dengan hal-hal supranatural yang kadang-kadang tidak bisa diselesaikan dengan cara-cara pendekatan ilmiah. Selain itu, pengobatan yang menggunakan bahan-bahan herbal atau syarat-syarat tertentu dalam pengobatan dengan pengetahuan tradisional perlu dikembangkan,” kata Elvian.

Disamping itu, Elvian juga mengatakan bahwa masyarakat yang masih tinggal di desa-desa di Bangka Belitung masih mengenal pengobatan secara tradisional. Jika tidak dilakukan upaya-upaya untuk melestarikannya, maka dikhawatirkan akan punah dan beralih kepada pengobatan modern. Padahal, pengobatan tradisional dan modern dapat saling beriringan.

Dari segi kepariwisataan, menurut Elvian pengobatan tradisional dapat dikemas sebagai daya tarik wisata. Walau pun tidak semua jenis pengobatan dapat dijadikan daya tarik wisata.

Kegiatan kajian ini dilatarbelakangi oleh kurangnya data kebudayaan Bangka Belitung. Menurut Yuyun Triwidowati Kepala Seksi Sejarah dan tradisi mengatakan bahwa saat ini data yang ada belum dikaji secara mendalam. Hingga saat ini, kekurangan akan kajian masih menjadi kendala dalam pengusulan WBTB (Warisan Budaya Tak Benda) asal Bangka Belitung.

Hasil kajian selanjutnya akan diseminarkan dengan melibatkan para ahli terkait dari masing-masing bidang, untuk kemudian dibukukan dan disosialisasikan kepada masyarakat.

 

Penulis             : Ernawati Arif

Editor               : Yuliarsih

Updater           : Rafiq Elzan

Dokumentasi : Rafiq Elzan