Mantung

Mantung adalah bagian dari sejarah industri di Pulau Bangka yang lokasinya tak jauh dari pelabuhan Tanjung Gudang, Belinyu. Daerah ini pada masa penjajahan Belanda  merupakan sentral pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) yang menyuplai tenaga listrik di Pulau Bangka. Tidak ada catatan pasti mengenai asal-usul nama Mantung. Meskipun demikian, konon di sini dulu tinggal seseorang bernama Thung, yang biasa di panggil “Paman Thung” sehingga muncul sebutan “Man Thung”.
 
PLTU Mantung oleh Orang Belanda disebut “Central Mantoeng” dan  sementara sebagian masyarakat sekitar menyebutnya Kran Mantung. Hal ini karena sebenarnya Mantung terbagi menjadi dua bagian, yaitu Sentral Mantung dan Kran Mantung. Kran berasal dari bahasa Belanda “Cran” atau “Crane” yang berarti Derek/Katrol yang memang ada di sana sebagai alat untuk bongkar muat batubara kiriman dari Muara Enim, Palembang. Batubara ini oleh masyarakat Belinyu disebut “Stengkol”, berasal dari Bahasa Belanda Steng Coal (Arang Batubara). Hingga tahun 1990-an, crane ini masih berfungsi baik dan masih bekerja untuk bongkar muat batubara guna mensuply listrik di sekitar kawasan Belinyu. Dianggap tidak efisien dan berpolusi, maka diputuskan untuk mengganti PLTU batubara Mantung menjadi PLTD yang menggunakan tenaga diesel. Namun seiring  makin menurunnya aktivitas penambangan timah oleh PT. Timah, naiknya harga bahan bakar minyak, serta mesin pembangkit listrik yang rusak, supply listrik pun berkurang dan akhirnya berhenti total.
 
Ada 4 turbin di PLTU Mantung, namun hanya 2 atau 3 saja yang di pakai, sementara yang lainnya untuk cadangan saja. Ketiga Turbin ini mampu melayani secara keseluruhan kebutuhan listrik di Pulau Bangka. Untuk kawasan Parit Tiga dan Jebus, daya listrik dihantar melalui 2 buah tiang transmisi di Pulau Ludai dan Pantai Tanjung Ru.
 
Keberadaan PLTU Mantung menjadi sumber mata pencaharian masyarakat Belinyu pada masa itu. Hampir sebagian masyarakat di sana adalah karyawan PT. Timah dan PLTU Mantung. Berbagai fasilitas perusahaan pun diterima oleh karyawannya, berupa rumah dinas yang disebut Bedeng, pelayanan bis antar jemput karyawan yang dibagi dalam 3 shift dengan rute mulai dari Gerasi PT. Timah langsung ke Mantung dan sebaliknya. Kendaraan ini juga biasa dimanfaatkan oleh warga untuk ikut sekedar menumpang dengan rute yang sama karena memang saat itu kendaraan masih sangat sulit dan terbatas. Mantung  saat ini hanya masih menyisakan puing-puing serta bangunan-bangunan eks gudang di sekitar pantai. Namun, daerah ini pernah menjadi pembangkit listrik terbesar di Asia Tenggara di masa itu.

Penulis : Risnawati (dari berbagai sumber)
Editor: Yuliarsih

Destinasi Lainnya

Bangka Belitung, Culinary
Kota Pangkalpinang, Culture and Arts
Beach/Marine, Kabupaten Bangka Barat
Beach/Marine, Kabupaten Bangka Tengah
Nature, Kota Pangkalpinang, Culture and Arts

Destinasi Terkait

Kabupaten Bangka, Heritage
Kabupaten Bangka, Heritage
Kabupaten Bangka, Heritage
Kabupaten Bangka, Heritage
Kabupaten Bangka, Heritage