Nasi Aruk

 
Bila masyarakat di negara-negara Afrika Utara mengenal kuskus sebagai makanan pokok mereka, maka masyarakat Pulau Bangka juga memiliki makanan pokok yang bentuknya hampir serupa dengan kuskus yaitu Beras Aruk atau Nasi Aruk. Nasi Aruk terbuat dari ubi kayu dan biasanya dikonsumsi sebagai pengganti nasi. Masyarakat di Pulau Bangka, terutama petani di kampung-kampung mengkonsumsi Nasi Aruk pada masa paceklik. Saat distribusi beras mulai merata dan masyarakat dapat dengan mudah menemukan beras, konsumsi terhadap nasi aruk pun mulai berkurang. Nasi Aruk hanya dapat ditemukan di daerah-daerah pelosok kampung yang masyarakatnya masih berladang.
 
 
Terdapat beberapa proses untuk membuat Nasi Aruk, dimulai dari proses pelembutan, pengeringan, hingga penyajian. Tahap pertama, ubi kayu yang telah dibersihkan dimasukkan ke dalam karung dan direndam di dalam air mengalir setidaknya selama enam hari. Setelah ubi kayu menjadi lembut dan teksturnya berubah, maka dimulailah proses selanjutnya dengan cara memeras ubi kayu yang direndam tersebut. Ampas ubi kayu dari hasil pemerasan tersebut kemudian disangrai hingga menjadi tepung lalu di dijemur. Selama proses penjemuran, ubi kayu tersebut diaduk perlahan atau diayak hingga menjadi butiran-butiran kecil hingga kering. Ubi kayu yang telah menjadi butiran kecil disebut dengan Beras Aruk.
 
Menyajikan Beras Aruk prosesnya tidak jauh berbeda dengan memasak nasi pada umumnya, akan tetapi untuk menambah aroma dan rasa gurih pada Nasi Aruk maka dapat ditambah dengan parutan kelapa muda dan ditambahkan garam secukupnya saat mengukusnya. Sebagai pengganti nasi, Nasi Aruk biasanya disajikan dengan lempah kuning atau lempah darat.
 
 
Saat ini, upaya untuk mengangkat nasi aruk menjadi makanan pengganti beras telah banyak dilakukan terutamanya untuk mengurangi ketergantungan masyarakat dalam mengkonsumsi beras mengingat harga beras pun semakin meningkat. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa Nasi Aruk memiliki kadar gula, protein dan lemak yang lebih rendah jika dibandingkan dengan beras. Sehingga Nasi Aruk dipercaya baik untuk dikonsumsi bagi penderita penyakit diabetes. Meskipun demikian konsumsi terhadap Nasi Aruk masih terbilang rendah, sebagian besar hanya diminati oleh orang-orang tua. Nasi Aruk sudah mulai disajikan di beberapa kampung di Pulau Bangka pada upacara atau pesta-pesta adat tertentu.  Sekarang Beras Aruk Bangka juga dijual dalam bentuk kemassan sehingga dapat dijadikan sebagai buah tangan ketika berkunjung ke Bangka Belitung.
 
Similar to Couscous, the staple food of North Africa, there is Nasi Aruk from Bangka Belitung made of cassava and usually consumed to substitute rice. Bangkanese, especially those living in the villages, eat this food in time of scarcity. When rice has been evenly distributed, the people eat less Aruk. In fact, we can only find it in remote villages where the people still depend on ladang or dry field.
 
The process of making this type of food is started from softening, drying, and serving. At the very first stage, wash the cassava tubers and put into a sack before being soaked for at least six days. After becoming soft and the texture has changed, the next process is to squeeze out the tubers to get the chaff. The chaff is then fried without oil to be flour before being dried. During the drying process, the flour was slowly stirred or sifted to be dried grains. Since it is similar in look to a grain of rice, then it is called Beras (rice) Aruk.
 
Serving Nasi Aruk is similar to rice. To have aromatic and delicious food, it is steamed with grated of young coconut and salt to taste. As rice substitution, Nasi Aruk is commonly served with Lempah Kuning (fish broth) and Lempah Darat (vegetable soup).  
 
Considering the raising of the rice price, there are many efforts to promote Nasi Aruk to substitute and decrease people’s dependency to consume rice. Some studies prove that Aruk has much lower level of sugar, protein, and fat. However, the consumption of Nasi Aruk is considered low and mostly eaten only by older people. Nowadays, this food has been started to be served in some traditional ceremonies in Bangka. It has even been sold in pack for tourist as a typical gift from Bangka Belitung.
Naskah: Hera Riastiana
Translator: S.A. Sobri
Editors: Yuliarsih (Bahasa)/ Rosy Handayani (English)

Destinasi Lainnya

Bangka Belitung, Culinary
Kota Pangkalpinang, Culture and Arts
Beach/Marine, Kabupaten Bangka Tengah
Beach/Marine, Kabupaten Bangka Barat
Nature, Kota Pangkalpinang, Culture and Arts

Destinasi Terkait

Bangka Belitung, Culinary
Bangka Belitung, Culinary
Bangka Belitung, Culinary
Bangka Belitung, Culinary
Bangka Belitung, Culinary