Neraca Satelit Pariwisata Daerah Babel 2011

ANALISIS NERACA SATELIT PARIWISATA

 

A. Analisis Pengeluaran Pariwisata

1.Struktur Pengeluaran Wisatawan Lokal Kepulauan Bangka Belitung
Jumlah wisatawan lokal (warga Kepulauan Bangka Belitung) yang melakukan kunjungan wisata di wilayah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada tahun 2011 mencapai 1.787.440 perjalanan.
Pengeluaran untuk perjalanan wisatawan lokal ini secara keseluruhan mencapai Rp. 229,63 milyar. Keseluruhan pengeluaran ini meliputi 10 dari 17 jenis pengeluaran diantaranya untuk Akomodasi; Makanan, Minuman dan Tembakau; Angkutan Air; Belanja/Cinderamata dan pengeluaran lainnya. Data yang lebih rinci dapat dilihat pada Tabel 5.1. dibawah ini.
Rata-rata pengeluaran wisatawan lokal Kepulauan Bangka Belitung yang melakukan perjalanan wisata di Kepulauan Bangka Belitung Tahun 2011 adalah sebesar Rp. 613.747,-. Jika dilihat dari struktur jenis pengeluarannya, yang terbesar adalah untuk Makanan, Minuman dan Tembakau yang mencapai 51,70 persen. Ini sesuai dengan kondisi yang ada di Kepulauan Bangka Belitung yang memiliki wisata kuliner cukup banyak.
Jenis pengeluaran yang cukup besar adalah Angkutan Air sebesar 10,78 persen dari total struktur pengeluaran wisatawan lokal, lebih besar dari Angkutan Darat yang hanya sebesar 4,63 persen. Hal ini dikarenakan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yang berbentuk kepulauan sehingga memerlukan angkutan sungai, danau dan penyeberangan seperti penduduk yang berasal dari Kota Pangkalpinang melakukan perjalanan wisata ke Belitung.
Pengeluaran lainnya yang relatif besar adalah Akomodasi dan Belanja/Cinderamata dengan masing-masing berkontribusi terhadap struktur pengeluaran adalah 10,23 dan 9,15 persen.
Tabel 5.1.
Struktur Pengeluaran Wisatawan Lokal Tahun 2011
Menurut Produk Barang  dan Jasa yang Dikonsumsi
Jenis Pengeluaran
Rata-rata Pengeluaran (Rp)
Total Pengeluaran (juta Rp)
Persen
(1)
(2)
(3)
(4)
1.   Akomodasi
62.664
23.483
10,23
2.   Makanan, Minuman & Tembakau
316.776
118.713
51,70
3.   Angkutan Darat
28.386
10.638
4,63
4.   Angkutan Air
66.071
24.760
10,78
5.   Angkutan Udara
0
0
0,00
6.   Bahan Bakar Pelumas
40.293
15.100
6,58
7.   Sewa Kendaraan
0
0
0,00
8.   Paket Perjalanan
17.387
6.516
2,84
9.   Pramuwisata
0
0
0,00
10. Jasa Hiburan & Rekreasi
6.879
2.578
1,12
11. Belanja/Cinderamata
56.036
21.000
9,15
12. Kesehatan
8.240
3.088
1,34
13. Lainnya
10.014
3.753
1,63
Jumlah
612.747
229.629
100,00
 
2.Struktur Pengeluaran Wisatawan lokal ke Luar Provinsi Kepulauan Bangka Belitung
 
Wisatawan Nusantara yang dibahas disini adalah warga Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yang melakukan perjalanan wisata ke luar wilayah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Tujuan perjalanan wisata luar Kepulauan Bangka Belitung adalah masih di wilayah hukum Republik Indonesia.
Tabel 5.2.
Struktur Pengeluaran Wisatawan lokal
Ke Luar Bangka Belitung
Menurut Produk Barang  dan Jasa yang Dikonsumsi,
Tahun 2011
 
Pada Tahun 2011 jumlah wisatawan dari Kepulauan Bangka Belitung yang melakukan perjalanan wisata ke luar Bangka Belitung tetapi masih di wilayah Republik Indonesia mencapai 377.943 kunjungan.  Total pengeluaran yang dikeluarkan oleh wisatawan Kepulauan Bangka Belitung di wilayah Bangka Belitung ini sebesar Rp. 23,76 milyar, sehingga pengeluaran rata-rata setiap kunjungan sebesar Rp. 62.856,-.
Struktur pengeluaran wisatawan dari Kepulauan Bangka Belitung yang melakukan perjalanan wisata ke luar Bangka Belitung ini dapat dilihat pada Tabel 5.2. Pada tabel tersebut dapat diihat bahwa pengeluaran terbesar adalah untuk Angkutan Air yaitu baik Laut maupun Sungai, Danau dan Penyeberangan yang mencapai 26,05 persen. Pengeluaran yang relatif cukup besar berikutnya adalah pengeluaran Lainnya sebesar 25,58 persen. Pengeluaran untuk bahan bakar pelumas mencapai 11,69 persen atau rata-rata sebesar Rp. 7.348,-. Pengeluaran yang juga relatif besar atau lebih dari 10 persen adalah pengeluaran untuk Angkutan Udara dan Makanan, Minuman dan Tembakau yaitu masing-masing sebesar 10,49 dan 10,24 persen,
 
3.Struktur Pengeluaran Wisatawan Nusantara ke Kepulauan Bangka Belitung
 
Wisatawan Nusantara adalah warga negara Republik Indonesia yang melakukan perjalanan wisata ke wilayah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Pada Tahun 2011 terdapat 144.567 kunjungan wisatawan nusantara ke wilayah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Total pengeluaran yang dibelanjakan  mencapai Rp. 312,58 milyar,  sehingga rata-rata pengeluaran setiap kunjungan adalah sebesar Rp. 2.162.146,-. Pengeluaran wisatawan nusantara ini merupakan pengeluaran terbesar diantara wisatawan yang ada di Kepulauan Bangka Belitung. Data lengkap tentang struktur pengeluaran wisatawan nusantara yang berkunjung ke Kepulauan Bangka Belitung dapat dilihat pada Tabel 5.3.
Pada Tabel 5.3. tersebut dapat kita lihat bahwa pengeluaran terbesar yang dibelanjakan oleh para wisatawan nusantara adalah untuk Makanan, minuman dan tembakau yang mencapai lebih dari 35 persen. Pengeluaran lainnya yang cukup besar adalah pengeluaran untuk Angkutan dan Akomodasi yaitu Angkutan Air dan Udara serta Akomodasi dengan masing-masing mencapai  14,93; 13,17 dan 11,27 persen. Hal ini sesuai dengan kondisi wisatawan yang memerlukan transportasi dan tempat menginap.
 
Tabel 5.3.
Struktur Pengeluaran Wisnus ke Kepulauan Bangka Belitung
Menurut Produk Barang  dan Jasa yang Dikonsumsi, Tahun 2011
 
Jenis Pengeluaran
Rata-rata Pengeluaran (Rp)
Total Pengeluaran (juta Rp)
Persen
 
(1)
(2)
(3)
(4)
 
1.   Akomodasi
243.660
35.225
11,27
 
2.   Makanan, Minuman & Tembakau
765.074
110.604
35,38
 
3.   Angkutan Darat
164.093
23.722
7,59
 
4.   Angkutan Air
322.738
46.657
14,93
 
5.   Angkutan Udara
284.664
41.153
13,17
 
6.   Bahan Bakar Pelumas
18.134
2.622
0,84
 
7.   Sewa Kendaraan
14.273
2.063
0,66
 
8.   Paket Perjalanan
0
0
0,00
 
9.   Pramuwisata
19.090
2.760
0,88
 
10. Jasa Hiburan & Rekreasi
19.090
2.760
0,88
 
11. Belanja/Cinderamata
212.153
30.670
9,81
 
12. Kesehatan
51.544
7.452
2,38
 
13. Lainnya
47.632
6.886
2,20
 
Jumlah
2.162.146
312.575
100,00
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Terdapat dua pengeluaran lainnya yang relatif besar yaitu pengeluaran untuk biaya transportasi angkutan darat dan belanja/pembelian cinderamata yang masing-masing mencapai 7,59 dan 9,81 persen. Pada Kepulauan Bangka Belitung memang mempunyai suatu fenomena yang memang setiap wisatawan khususnya wisatawan nusantara jika akan pulang akan berbelanja cinderamata/oleh-oleh khas Kepulauan Bangka Belitung yaitu makanan ringan seperti kerupuk, kemplang, getas, kericu dan sejenisnya.
Pengeluaran yang terendah adalah untuk biaya pramuwisata, hiburan & rekreasi serta sewa kendaraan dengan masing-masing sebesar 0,88; 0,88; dan 0,66 persen.
 
4.Struktur Pengeluaran Wisatawan Mancanegara ke Provinsi Kepulauan Bangka Belitung
 
Provinsi Kepulauan Bangka Belitung selain menjadi tujuan wisatawan lokal maupun domestik, juga menjadi tujuan wisata mancanegara. Banyaknya wisatawan mancanegara ke Provinsi Kepulauan Bangka Belitung tahun 2011 mencapai 7.603 orang. Total pengeluaran yang mereka belanjakan mencapai Rp. 53,14 milyar. Dengan demikian rata-rata pengeluaran per kunjungan mencapai sekitar Rp. 6,99 juta (sekitar US $ 759,-). Data tentang struktur pengeluaran wisatawan mancanegara ke Kepulauan Bangka Belitung dapat diihat pada Tabel 5.4.
Pengeluaran terbesar yang dikeluarkan wisatawan mancanegara dalam perjalanan wisata ke Kepulauan Bangka Belitung sebagian besar untuk keperluan Akomodasi dan Makanan, Minuman & Tembakau yang masing-masing  mencapai 32,02 dan 22,47 persen. Hal ini sesuai dengan rata-rata lama tinggal wisatawan mancanegara yang lebih lama dibandingkan dengan wisatawan nusantara yaitu rata-rata 7,46 hari. Pengeluaran untuk akomodasi jika digabung dengan pengeluaran Makanan, Minuman & Tembakau maka akan mencapai lebih dari 50 persen.
Pengeluaran lainnya yang relatif besar adalah pengeluaran untuk Penerbangan Domestik, Transport Lokal dan Hiburan dengan masing-masing berproporsi sebesar 15,38; 9,02 dan 8,49 persen terhadap total pengeluaran wisman. Hal ini sesuai, karena wisman sebelum ke Kepulauan Bangka Belitung memerlukan penerbangan lainnya dari pintu masuk/bandara internasional dan bukan mustahil singgah ke tempat wisata lainnya di luar Kepulauan Bangka Belitung. 
Adapun pengeluaran terkecil adalah untuk keperluan kesehatan dan kecantikan yang hanya sebesar 0,92 persen. Pengeluaran ini adalah mencatat pengeluaran wisman untuk hal berobat ataupun melakukan pijat/mengunjungi spa, refleksi dan tempat-tempat sejenisnya.
 
 
Tabel 5.4.
Struktur Pengeluaran Wisatawan  Mancanegara  ke Kepulauan Bangka Belitung Menurut Produk Barang dan Jasa yang Dikonsumsi,
Tahun 2011
 
5.Struktur Pengeluaran Wisatawan Nasional Kepulauan Bangka Belitung ke Luar Negeri
Perjalanan wisata warga Kepulauan Bangka Belitung ke luar negeri tentu melalui tahap persiapan, saat berada di luar negeri dan ketika kembali berada di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Pada bagian ini hanya akan dianalisis pengeluaran wisatawan lokal Kepulauan Bangka Belitung ke luar negeri pada tahap persiapan dan saat kembali berada di Kepulauan Bangka Belitung. Untuk pengeluaran selama di luar negeri tidak dapat di analisis karena kurangnya data yang lengkap. Data tentang Struktur pengeluaran wisatawan lokal yang ke luar negeri dapat disimak pada Tabel 5.5.
Tabel 5.5
Struktur Pengeluaran Wisatawan Nasional Kepulauan Bangka Belitung
ke Luar Negeri  Menurut Produk Barang  dan Jasa yang Dikonsumsi,
Tahun 2011
 
Pada tahun 2011 tercatat jumlah perjalanan wisata warga Bangka Belitung ke luar negeri mencapai 10.126 kunjungan. Total pengeluaran yang dibelanjakan mencapai Rp. 14,9 milyar yang terbagi kedalam sebelas jenis pengeluaran. Pengeluaran terbesar adalah untuk biaya Belanja yang mencapai 35,12 persen. Pengeluaran persiapan untuk ke luar negeri lainnya adalah paket perjalanan yang disiapkan yaitu sebesar Rp. 2,23 milyar atau 14,99 persen.
Pengeluaran baik sebelum berangkat  (persiapan) maupun setelah kembali berada di Kepulauan Bangka Belitung ini lebih kecil dibandingkan dengan pengeluaran selama berada di luar negeri. Karena pada pengeluaran selama berada di luar negeri terdapat pengeluaran makanan, minuman & tembakau serta transport selama di luar negeri. Namun karena keterbatasan data maka untuk pengeluaran selama berada di luar negeri tidak kami tampilkan sebagai pembanding.
 
6.Struktur Pengeluaran Pemerintah dan Swasta untuk Investasi Pariwisata
 
Untuk mengukur besarnya investasi di sektor pariwisata baik secara langsung maupun tidak langsung digunakan data Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) yang diturunkan dari data Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Tahun 2011. Dalam pemahaman PDRB, investasi dimaksud juga sebagai PMTB. Total investasi yang ditujukan untuk mendukung kegiatan pariwisata di Kepulauan Bangka Belitung untuk tahun 2011 adalah 788,92 milyar yang terdiri dari berbagai jenis barang modal, baik bangunan, mesin, kendaran dan lainnya. Nilai PMTB Kepulauan Bangka Belitung pada tahun yang sama mencapai  10,3 trilyun, sehingga investasi pariwisata ini berperan 7,63 persen terhadap total investasi. Investasi ini merupakan investasi yang berasal dari institusi swasta dan  BUMN/BUMD.
Dari tabel 5.6. dapat dilihat struktur investasi sektor pariwisata baik yang bersifat langsung maupun tidak langsung dirinci menurut 9 jenis barang modal. Berdasarkan tabel tersebut dapat dilihat bahwa investasi terbesar dalam bentuk barang modal bangunan baik berupa hotel & akomodasi, bangunan restoran, maupun bangunan untuk tempat-tempat rekreasi.
Tabel 5.6.
Struktur Investasi  Pariwisata Tahun 2010-2011
Yang Bersifat Langsung Maupun Tak Langsung,
(Milyar Rupiah)
 
Jenis Barang Modal
2010
2011
(1)
(2)
(3)
1. Bangunan Hotel & Akomodasi  lainnya
302,12
468,88
2. Bangunan Restoran & sejenisnya
37,06
49,20
3. Bangunan Bukan Tempat Tinggal
41,73
54,51
4. Bangunan OR, rekreasi,  hiburan,seni & budaya
30,66
40,18
5. Infrastuktur (Jalan, Jembatan, Pelabuhan dll)
39,80
52,95
6. Bangunan Lainnya
25,93
26,87
7. Mesin dan Peralatan
13,82
16,56
8. Alat Angkutan
24,29
23,18
9. Barang modal Lainnya
45,57
56,60
Jumlah
561,00
788,92
 
 
Harapan yang  tinggi pada kalangan swasta untuk semakin sadar dan memahami pentingnya investasi di bidang pariwisata ini untuk menangkap peluang semakin banyaknya wisatawan yang berkunjung ke Indonesia khususnya ke Kepulauan Bangka Belitung di tahun-tahun mendatang. Kemampuan serta peluang swasta sangat besar untuk saat ini, sehingga bisa mengambil peran yang lebih besar dalam pengembangan dan pembangunan fasilitas dan akomodasi untuk menampung jumlah wisatawan yang mulai meningkat jumlahnya.
Dari seluruh investasi pariwisata terlihat bahwa investasi terkait sektor pariwisata pada tahun 2011 mengalami peningkatan yang cukup besar dibanding tahun sebelumnya yaitu mencapai 40,63 persen. Hal ini disebabkan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sejak tahun 2010 dengan “Visit Babel Archipelago”nya sedang giat-giatnya membenahi dan melengkapi sarana dan prasarana dalam kepariwisataan. Pada tahun 2011 investasi mencapai Rp 778,25 milyar sedangkan pada tahun 2010 hanya sebesar Rp. 561 milyar. Peningkatan total investasi yang terkait di sektor pariwisata ini disertai dengan peningkatan investasi tiap jenis barang modal.
 Investasi pada jenis barang modal berupa bangunan pada tahun 2011 mencapai 88,82 persen dari seluruh investasi pariwisata, dengan jenis barang modal bangunan terbesar adalah bangunan berupa hotel dan akomodasi lainnya sebesar Rp. 468,88 milyar. Hal ini dibuktikan dengan penambahan jumlah hotel dan akomodasi lainnya sebesar 8 unit. Investasi jenis barang modal berupa bangunan yang juga cukup besar adalah barang modal bangunan bukan tempat tinggal, dalam hal ini adalah ruko-ruko maupun pertokoan. Seperti diketahui Kepulauan Bangka Belitung merupakan provinsi baru yang sedang melengkapi sarana dan prasarana yang dibutuhkan oleh masyarakat, maka investasi ini mencapai Rp. 54,23 milyar. Sedangkan investasi pada infrastruktur (jalan, jembatan, pelabuhan dll) mencapai Rp. 52,45 milyar.
Investasi berupa mesin dan peralatan meliputi seluruh pengadaan mesin dan peralatan di industri pariwisata Kepulauan Bangka Belitung. Jenis barang modal ini berperan 2,46 persen pada tahun 2010 dan  menurun hanya 2,10 persen di tahun 2011 terhadap seluruh investasi pariwisata. Pengadaan jenis barang ini bisa terjadi di hotel dan akomodasi lain, restoran, tempat-tempat rekreasi ataupun kantor pemerintah yang mengurus kepariwisataan.
 Investasi berupa alat angkutan pada industri pariwisata tahun 2011 hanya sebesar 2,94 persen dari seluruh investasi pariwisata. Sama halnya dengan mesin dan peralatan bahwa pengadaan jenis barang ini bisa terjadi di hotel dan akomodasi lain, restoran, tempat-tempat rekreasi ataupun kantor pemerintah yang mengurus kepariwisataan seperti dinas Pariwisata pada pemerintah daerah tingkat propinsi dan pemerintah daerah tingkat kabupaten/kota.  
Terlihat pada tabel di bawah bahwa, pemerintah masih perlu melakukan investasi untuk bangunan bukan tempat tinggal dan bangunan yang berhubungan dan menunjang kegiatan kepariwisataan seperti bangunan untuk olahraga, rekreasi, hiburan, seni dan budaya dengan nilai yang masih relatif sangat kecil bila dibandingkan dengan pihak swasta. Umumnya fasilitas bangunan ini lebih bersifat kepada pelayanan publik dan masyarakat sehingga nilainya pun tidak akan memenuhi profit keekonomian. Begitu juga pembangunan infrastruktur (jalan, jembatan, pelabuhan dll) yang terkait pariwisata kalau dilihat secara besaran nilainya memang juga masih terlalu kecil. Tetapi sesuai dengan tugas pemerintah sebagai agen pembangunan di segala bidang maka cerminan ini lebih kepada pelayanan masyarakat untuk menunaikan tujuan wisatanya.
Tabel 5.7.
 Struktur Investasi Pariwisata Tahun 2011,
 Baik Langsung Maupun Tidak Langsung
  (Juta Rupiah)
Jenis Barang Modal
Swasta/RT/ BUMN/
BUMD
Pemerintah
Jumlah
Pusat
Daerah
Bangunan Hotel & Akomodasi  lainnya
468.878,40
 
 
468.878,40
Bangunan Restoran & Sejenisnya
49.202,40
 
 
49.202,40
Bangunan Bukan Tempat Tinggal
54.227,34
29,19
248,18
54.504,71
Bangunan OR, rekreasi, hiburan,seni & budaya
39.644,48
106,83
426,76
40.178,06
Infrastuktur (Jalan, Jembatan, Pelabuhan)
52.453,37
69,09
428,83
52.951,29
Bangunan Lainnya
26.871,99
 
 
26.871,99
Mesin dan Peralatan
9.852,00
1.602,32
5.104,68
16.559,00
Alat Angkutan
20.582,69
397,01
2.197,99
23.177,69
Barang modal Lainnya
56.538,09
7,52
52,06
56.597,66
J  U  M  L  A  H
778.250,76
2.211,96
8.458,48
788.921,20
Distribusi (%)
98,65
0,28
1,07
100,00
 
Tahun 2011 kontribusi pemerintah dalam hal berinvestasi unutuk pariwisata di Kepulauan Bangka Belitung hanya 0,28 persen dari pemerintah pusat  dan 1,07 persen dari pemerintah daerah, selebihnya dan yang terbesar adalah investasi swasta/RT/BUMN/BUMD yaitu 98,65 persen seperti pada tabel 5.7 yang terlihat peranan masing-masing institusi dalam melakukan investasi di bidang pariwisata dan yang terkait.
 
7.Struktur Pengeluaran Pemerintah untuk Promosi Pariwisata
 
Dalam rangka upaya meningkatkan jumlah wisman maupun wisnus diperlukan berbagai usaha yang terencana dan terintegrasi. Salah satu cara untuk memperkenalkan citra dan potensi pariwisata Kepulauan Bangka Belitung adalah dengan melakukan promosi secara intensif dan ekstensif baik di dalam maupun luar negeri.
Sektor pariwisata sangat sensitif terhadap isu perubahan dan kejadian luar biasa, oleh karenanya maka upaya untuk membangun opini yang lebih baik tentang Kepulauan Bangka Belitung, baik sosial maupun politik sangat penting untuk dilakukan. Upaya yang dilakukan adalah membangun informasi yang lebih proporsional mengenai situasi dan kondisi yang sebenarnya, sekaligus memperkenalkan budaya bangsa dan sumber daya pariwisata lainnya. Dengan demikian pariwisata tetap diharapkan secara berkesinambungan menjadi penghasil devisa terbesar di masa mendatang.
Promosi pariwisata yang efektif dan efisien yang dilakukan melalui kerjasama antara pemerintah dengan swasta akan berdampak positif bila dapat menarik lebih banyak minat wisman untuk mengunjungi Kepulauan Bangka Belitung. Dari sisi penyediaan (supply), dilakukan pembinaan usaha-usaha yang bergerak di sektor pariwisata serta promosi pariwisata untuk penduduk Bangka Belitung sendiri agar lebih mengenal budaya daerahnya.
Untuk tujuan-tujuan di atas, kemudian Pemerintah mengalokasikan sedikit anggarannya untuk sejumlah kegiatan yang mendukung pengembangan pariwisata. Pengeluaran pemerintah yang dimaksud di sini adalah pengeluaran yang digunakan untuk kegiatan operasional, bukan investasi, dengan ciri-ciri produk yang dibeli habis digunakan pada saat dipakai. Dalam  kajian  ini, jenis-jenis pengeluaran  yang  dicakup  adalah 1) promosi pariwisata, 2) perencanaan dan koordinasi pembangunan pariwisata, 3) penyusunan statistik dan informasi pariwisata, 4) penelitian dan pengembangan pariwisata, 5) penyelenggaraan dan pelayanan informasi pariwisata, 6) keamanan dan perlindungan pariwisata, 7) pengawasan dan pengaturan, dan  8) lainnya.
Sebagian besar sumber pembiayaan kegiatan pemerintah di atas berasal dari anggaran rutin baik dari APBN maupun APBD, termasuk di dalamnya kegiatan yang bersumber dari anggaran Kantor Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata beserta seluruh jajarannya dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Propinsi dan Kabupaten/Kota sepanjang berhubungan dengan sektor kepariwisataan. Jadi lingkup pengeluaran ini lebih luas dari lingkup investasi pariwisata.
Tabel 5.8 memperlihatkan pengeluaran pemerintah Kepulauan Bangka Belitung yang berhubungan dengan promosi dan pembinaan pariwisata pada tahun 2011 sebesar Rp 42,7 milyar, Pengeluaran ini terbagi atas perencanaan dan koordinasi pengembangan pariwisata yang merupakan pengeluaran pemerintah terbesar dengan porsi 38,30 persen dari total pengeluaran atau sebesar Rp 16,4 milyar. Pengeluaran terbesar berikutnya adalah penyusunan statistik dan infrastruktur pariwisata sebesar Rp. 7 milyar dengan porsi 16,45 persen, Porsi promosi pariwisata baik di dalam maupun di luar daerah dan porsi penelitian dan pengembangan hampir sama yaitu masing-masing sebesar 15,62 persen dan 14,22 persen. Hal ini dikarenakan memang Kepulauan Bangka Belitung yang pada dasarnya sudah memiliki potensi wisata yang cukup bagus, hanya tinggal dikembangkan dan diperkenalkan secara nasional maupun internasional.
 
Tabel 5.8.
Struktur Pengeluaran Pemerintah untuk Promosi dan Pembinaan
Sektor Pariwisata Tahun 2011
 (juta rupiah)
 
Jenis Aktivitas
Pengeluaran
Persen
(1)
(2)
(3)
1. Promosi Pariwisata
6.669,08
15,62
2. Rencana dan Koordinasi  Pengembangan Pariwisata
16.351,28
38,30
3. Penyusunan Statistik dan  Infrastruktur Pariwisata
7.024,94
16,45
4. Penelitian dan Pengembangan
6.072,48
14,22
5. Penyelenggaraan & Pelayanan  Infrastruktur Pariwisata
3.634,48
8,51
6. Pengamanan dan Perlindungan Wisatawan
900,33
2,11
7. Pengawasan dan Pengaturan
1.252,11
2,93
 8. Lainnya
790,04
1,85
Jumlah
42.694,75
100,00
 
Penyelenggaraan dan pelayanan infrastruktur pariwisata mengeluarkan sebesar Rp. 3,6 milyar atau 8,51 persen dari total pengeluaran pemerintah untuk sektor pariwisata. Sementara itu untuk pengawasan dan pengaturan hanya  2,93 persen yang disebabkan pihak swasta sudah mengambil peranan yang cukup banyak dalam sektor ini. Pengamanan dan perlindungan terhadap wisatawan hanya mengambil porsi 2,11 persen dan dan ini diharapkan untuk sangat diperhatikan karena keselamatan merupakan prioritas utama bagi para wisatawan dalam menentukan tempat pilihan tujuan pariwisata, dan sektor ini harus menjadi porsi perhatian besar dari pemerintah. Dan pengeluaran pemerintah untuk yang lainnya  adalah sebesar 1,85 persen atau Rp. 790,04 juta.
 
B.  Dampak Ekonomi Pariwisata
               
                Kegiatan wisatawan atau sektor pariwisata di suatu daerah akan berdampak terhadap perekonomian biasanya disebut dengan dampak ekonomi pariwisata, diartikan sebagai dampak dari pengeluaran wisatawan mancanegara, nusantara dan lokal  terhadap sejumlah variabel ekonomi makro, sesuai dengan teori ekonomi permintaan.  Di samping pengeluaran oleh wisatawan, dihitung pula dampak dari pengeluaran oleh pemerintah dan investasi yang berkaitan dengan dunia pariwisata karena kedua hal tersebut juga memberikan pengaruh yang cukup besar terhadap perekonomian khususnya di Kepulauan Bangka Belitung.
             Pengeluaran wisatawan (mancanegara, nusantara dan lokal), investasi dibidang kepariwisataan dan pengeluaran pemerintah untuk promosi dan pengembangan pariwisata adalah bagian dari permintaan. Timbulnya pengeluaran-pengeluaran di sektor kepariwisataan tersebut akan berdampak positif bagi penciptaan sejumlah variabel makro ekonomi, disamping dampak negatif seperti meningkatnya impor dan dampak non-ekonomi.
             Secara lebih konkrit, kinerja ekonomi dari dampak kepariwisataan yang diukur dari pengeluaran-pengeluaran wisatawan akan mempengaruhi output, nilai tambah bruto, upah dan gaji, pajak tak langsung dan penyerapan tenaga kerja.  Secara global tabel 5.9. memperlihatkan besaran dampak pariwisata terhadap pembentukan output, nilai tambah bruto (NTB), upah/gaji, pajak tak langsung dan penyerapan tenaga kerja di Kepulauan Bangka Belitung.
 
Tabel 5.9.
Dampak Pariwisata Terhadap Perekonomian Kepulauan Bangka Belitung Tahun 2011
U R A IA N
Output          (Rp Juta )
PDRB               ( Rp juta)
Upah / Gaji         (Rp juta)
Pajak Tak Langsung       (Rp juta)
Kesempatan          Kerja (orang)
(1)
(2)
(3)
(4)
(5)
(6)
A. Total Ekonomi
42.706.852
29.851.276
5.857.532
518.259
590.140
B. Nilai Ekonomi Pariwisata
2.090.460
1.443.380
401.803
33.721
18.043
     1. Wisnus
436.581
309.953
73.815
7.008
4.589
     2. Wisnus keluar
30.318
20.979
6.130
316
202
     3. Wislok
322.390
214.529
53.595
5.093
3.308
     4.  Wisnas
19.733
14.900
4.380
302
145
     5. Wisman
74.996
53.144
12.431
1.587
1.187
     6. Investasi
1.146.999
788.921
238.983
18.424
7.644
     7. Promosi
59.444
40.953
12.469
990
967
C. Peranan Pariwisata (%)
4,89
4,84
6,86
6,51
3,06
     1. Wisnus
1,02
1,04
1,26
1,35
0,78
     2. Wisnus keluar
0,07
0,07
0,10
0,06
0,03
     3. Wislok
0,75
0,72
0,91
0,98
0,56
     4.  Wisnas
0,05
0,05
0,07
0,06
0,02
     5. Wisman
0,18
0,18
0,21
0,31
0,20
     6. Investasi
2,69
2,64
4,08
3,55
1,30
     7. Promosi
0,14
0,14
0,21
0,19
0,16
 
            
  1. Dampak Terhadap Output
 
                Output sektor produksi terbentuk karena permintaan domestik dan luar provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Untuk menghasilkan output komoditi sektor-sektor ekonomi tersebut diperlukan masukan antara (intermediate input) berupa bahan-bahan dan jasa untuk proses produksi termasuk jasa faktor produksi. Dorongan permintaan terhadap produk barang dan jasa akan berpeluang menciptakan perubahan nilai produksi. Permintaan atau pengeluaran wisatawan mancanegara (wisman), wisatawan domestik/nusantara (wisnus), wisatawan lokal (wislok), pre dan post trip wisatawan Kepulauan Bangka Belitung yang berwisata keluar provinsi dan ke luar negeri, investasi pemerintah dan swasta di sektor pariwisata, dan biaya promosi kepariwisataan serta belanja pemerintah untuk pariwisata  akan berdampak menciptakan output di seluruh sektor ekonomi. Dampak yang ditimbulkan secara ekonomi adalah dampak langsung berupa konsumsi langsung barang dan jasa dan dampak tak langsung berupa interaksi antar sektor yang terjadi akibat perubahan output barang dan jasa yang dikonsumsi.
                Pada Tabel 5.9. ditunjukkan sebaran nilai output sektoral akibat dampak langsung dan tidak langsung atas pengeluaran wisatawan. Berdasarkan model Input Output tahun 2011 Kepulauan Bangka Belitung (up dating), dengan struktur pengeluaran institusi kepariwisataan sebagaimana Sub-bab terdahulu, diperoleh nilai output secara keseluruhan sebesar Rp 2.090 miliar yang tersebar di seluruh sektor ekonomi. Kontribusi nilai output akibat kegiatan pariwisata tersebut terhadap perekonomian Kepulauan Bangka Belitung mencapai 4,89 persen. Dampak pengeluaran wisatawan nusantara (wisnus) tampak terlihat paling besar memberikan andil terhadap penciptaan output, yaitu Rp. 436 miliar, atau  sebesar 1,02 persen terhadap penciptaan output Kepulauan Bangka Belitung.  Diikuti oleh dampak pengeluaran wisatawan lokal (wislok) yang juga memberikan dampak penciptaan output sebesar Rp. 322 milyar atau 0,75 persen. Sedangkan konsumsi wisman berdampak relatif masih rendah terhadap nilai output sektoral, yakni sebesar  Rp 74,9  miliar  atau hanya sekitar 0,18  persen  dari output Kepulauan Bangka Belitung.
Kemudian investasi di bidang pariwisata baik oleh swasta maupun pemerintah berdampak paling besar yaitu mencapai Rp 1.147 miliar atau 2,69 persen dari output Kepulauan Bangka Belitung. Sedangkan biaya promosi dan pembinaan pariwisata berdampak menciptakan output sebesar Rp 59,4 miliar atau dengan porsi 0,14 persen dari total output Kepulauan Bangka Belitung.
Tabel 5.10.
Distribusi Persentase Dampak Konsumsi Wisatawan,
Investasi dan Belanja Pemerintah & Swasta Terhadap Output, Tahun 2011
 
                Dari tabel 5.10 tampak sektor Bangunan/Konstruksi memberikan  output  terbesar dari dampak adanya kegiatan pariwisata di Kepulauan Bangka Belitung, yakni sebesar 33,59 persen dari total output yang tercipta.    Dampak ini merupakan dampak langsung dan tidak langsung untuk menunjang dan memenuhi permintaan wisatawan. Dari kondisi tersebut dapat dikatakan sektor Bangunan/Konstruksi di Kepulauan Bangka Belitung memiliki kepekaan yang tinggi terhadap adanya kegiatan pariwisata.  Hal ini dipengaruhi oleh investasi baik yang dilakukan oleh pemerintah maupun swasta yang cukup tinggi sebesar 60,67 persen terhadap total investasi. Provinsi Kepulauan Bangka Belitung memang sedang membenahi dan melengkapi sarana dan prasarana yang dibutuhkan demi memajukan diri dan sektor pariwisata, terlebih setelah adanya “Visit Babel Archipelago 2010” yang mempromosikan Kepulauan Bangka Belitung baik nasional maupun internasional.
Pembentukan output, dampak dari pariwisata, sektor lainnya yang juga cukup tinggi diperlihatkan oleh sektor industri pengolahan dan restoran yang berada pada urutan kedua dan ketiga dalam penciptaan output, yaitu dengan share masing-masing sebesar 19,76 dan 9,25 persen dari dampak pariwisata keseluruhan. Pada sektor industri pengolahan, penambahan nilai produksi di sektor industri ini karena beberapa jenis barang industri merupakan konsumsi wisatawan yang banyak dibeli, seperti souvenir, cinderamata, produk garmen, industri logam dan industri pengolahan lainnya. Sedangkan dari sektor restoran, terbukti dengan menjamurnya restoran di seluruh Kepulauan Bangka Belitung yang memang terkenal mempunyai wisata kuliner yang cukup beragam.
                Kemudian, dampak pariwisata terhadap sektor yang cukup penting di Kepulauan Bangka Belitung karena banyak digeluti masyarakat, yaitu pertanian, juga tampak cukup tinggi, yakni sebesar 6,87 persen dari total output yang tercipta. Dari sektor ini, yang cukup berperan adalah sub sektor perikanan terlebih memang merupakan potensi dan ditunjang geografis Kepulauan Bangka Belitung.
                Pengamatan lain dari analisis dampak output yang diakibatkan pengeluaran kepariwisataan adalah melihat komposisi institusi pengeluaran yang menimbulkan perubahan output sektor-sektor ekonomi. Tabel 5.10. menunjukkan bahwa output yang terbesar dihasilkan oleh dampak pengeluaran investasi yaitu dengan porsi sekitar 54,87 persen dari total output yang terbentuk akibat adanya kegiatan kepariwisataan di Kepulauan Bangka Belitung. Diikuti oleh dampak output akibat pengeluaran wisatawan nusantara dan lokal dengan masing-masing berperan sebesar 20,88 dan 15,42 persen sedangkan pengeluaran wisman hanya mencapai 3,59 persen.   Dengan demikian, peranan wisatawan domestik menjadi peluang cukup besar dalam ikut mendorong perkembangan pariwisata dan dinamika ekonomi Kepulauan Bangka Belitung, disamping wisman yang selama ini menjadi primadona devisa negara.
 
  1. Dampak Terhadap Nilai Tambah Bruto
 
                Nilai Tambah Bruto (NTB) merupakan bagian dari output, yaitu merupakan nilai barang dan jasa akhir yang dihasilkan oleh seluruh unit ekonomi atau jumlah balas jasa yang diterima oleh faktor-faktor produksi yang ikut serta dalam proses produksi. Besarnya NTB yang dihasilkan biasanya sejalan dengan nilai output yang dihasilkan oleh sektor-sektor ekonomi. Dengan demikian adanya permintaan produk pariwisata juga akan memberi perubahan pada besarnya NTB seluruh unit usaha di Kepulauan Bangka Belitung.
                Tabel 5.9. juga memperlihatkan struktur NTB (PDRB) Kepulauan Bangka Belitung akibat adanya permintaan produk pariwisata dengan kontribusi sebesar 4,84 persen terhadap perekonomian, atau mencapai Rp 1.443 miliar pada tahun 2011.  NTB paling besar diciptakan oleh pengeluaran pada investasi yang dilakukan oleh pemerintah dan swasta dengan peran 2,64 persen dari PDRB Kepulauan Bangka Belitung atau dengan nilai penciptaan sebesar Rp. 788,9 miliar.  Kemudian  disusul oleh pengeluaran wisatawan nusantara dan lokal, dengan dampak penciptaan NTB masing-masing sebesar Rp. 309,9 miliar dan Rp. 214,5 miliar atau berperan masing-masing 1,04 dan 0,72 persen dari PDRB.   Sementara itu, dampak konsumsi wisman memberikan share sebesar 0,18 persen atau tercipta hingga Rp. 53,14 miliar. Potensi besar dari pengeluaran wisatawan terhadap perekonomian Kepulauan Bangka Belitung menjadi pendorong usaha-usaha non pariwisata untuk ikut mendukung kegiatan di bidang kepariwisataan.
 
 
Tabel 5.11.
Distribusi Persentase Dampak Konsumsi Wisatawan, Investasi dan Belanja Pemerintah & Swasta Terhadap  Nilai Tambah Bruto, Tahun 2011
 
               
                Dampak kegiatan pariwisata terhadap nilai tambah (value added) di sektor-sektor ekonomi disajikan pada Tabel 5.11. Dampak pariwisata terhadap penciptaan NTB tertinggi tampak pada sektor bangunan/konstruksi,  yaitu mencapai 32,43 persen dari total penciptaan NTB akibat adanya kegiatan pariwisata. Sebagaimana dampak terhadap output, dipengaruhi oleh investasi yang dilakukan oleh pemerintah dan swasta terhadap sektor tersebut dengan kontribusi mencapai 58,79 persen. Kemudian disusul oleh penciptaan NTB pada sektor industri pengolahan dan restoran, dengan porsi masing-masing sebesar 17,15 dan 8,29 persen terhadap total NTB yang tercipta (NTB Pariwisata). Seperti pada dampak terhadap output, hal ini dimungkinkan karena sektor industri pengolahan dan restoran berhubungan langsung dengan konsumsi wisatawan yaitu cinderamata dan wisata kuliner.
Sektor pertanian, khususnya subsektor perikanan yang merupakan konsumsi utama pada wisata kuliner yang dilakukan oleh para wisatawan, juga sangat penting dalam aktivitas pariwisata sebagai dampak tidak langsung maupun langsung.  Sehingga sumbangan nilai tambah yang tercipta di sektor tersebut cukup tinggi, yaitu sebesar 8,88 persen dari total NTB pariwisata.  Selanjutnya, penciptaan nilai tambah sektor perdagangan tampak memberikan sumbangan yang juga cukup tinggi, yakni sebesar 5,82 persen  dari  total NTB pariwisata.  Kondisi ini merefleksikan bahwa kegiatan pariwisata juga merupakan sumber pendapatan yang cukup potensial untuk para pelaku usaha di sektor pertanian yang merupakan potensi yang dimiliki oleh Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. 
Dilihat dari komposisi sumber terciptanya NTB di bidang kepariwisataan, pengeluaran investasi memberi dampak terbesar yaitu 54,66 persen terhadap total NTB yang tercipta akibat kegiatan kepariwisataan. Selanjutnya disusul oleh pengeluaran wisatawan nusantara dan lokal yang memberi dampak masing-masing sebesar 21,47 dan 14,86 persen dari total NTB pariwisata. NTB yang tercipta akibat pengeluaran wisman memberikan kontribusi sebesar 3,68 persen. 
Sedangkan pengeluaran untuk promosi, pengeluaran wisatawan lokal yang keluar Kepulauan Bangka Belitung serta wisatawan lokal yang keluar negeri memberi dampak masing-masing sebesar 2,84; 1,45 dan 1,03 persen dari total NTB pariwisata.
 
3.Dampak Terhadap Upah dan Gaji
 
                Upah dan gaji adalah balas jasa yang diterima oleh pekerja yang didasarkan pada latar belakang (background) pendidikan, kemampuan (skill), kompetensi pekerjaan maupun sektor usahanya. Dalam memproduksi barang dan jasa, faktor tenaga kerja merupakan bagian penting dari proses produksi disamping barang modal dan teknologi. Tingkat upah dapat pula mencerminkan pendapatan yang diterima oleh masyarakat yang pada akhirnya mempengaruhi perekonomian nasional melalui konsumsi.  Upah dan gaji dalam model ini merupakan bagian dari nilai tambah berupa balas jasa faktor tenaga kerja.
                Permintaan terhadap produk barang dan jasa dalam kegiatan pariwisata berdampak pula terhadap permintaan upah dan gaji di setiap sektor ekonomi. Sesuai dengan asumsi linearitas pada model Input Output, perubahan upah dan gaji akan sejalan dengan perubahan nilai output yang dihasilkan. Pada Tabel 5.9. diperlihatkan peranan upah dan gaji yang merupakan dampak dari kegiatan pariwisata terhadap upah dan gaji secara makro di Kepulauan Bangka Belitung, yang besarnya mencapai Rp 401,8 miliar atau 6,86 persen terhadap total upah dan gaji Kepulauan Bangka Belitung. Sebagaimana dampak terhadap penciptaan NTB, pengeluaran untuk investasi juga memberi dampak paling besar terhadap upah dan gaji,  yaitu mencapai Rp. 238,9 miliar atau 4,08 persen dari total upah di Kepulauan Bangka Belitung. Disusul dampak pengeluaran wisatawan nusantara dan lokal yang berkontribusi masing-masing sebesar 1,26 dan 0,91 persen.
                Kemudian dampak yang bersumber dari pengeluaran wisman, wisnus outbond dan wisnas outbond memberikan peran masing-masing sebesar 0,21; 0,10 dan 0,07 persen dari total upah dan gaji Kepulauan Bangka Belitung. Sedangkan dampak pengeluaran untuk kebutuan promosi pariwisata oleh pemerintah masing hanya berperan sebesar Rp. 12,5 miliar atau  0,21 persen.
                Seperti dampak terhadap output dan NTB, jika diamati dari sisi sektoral, tampak permintaan sektor pariwisata memberikan dampak upah dan gaji terbesar pada sektor bangunan/konstruksi, yakni sebesar 38,85 persen terhadap pembentukan total upah yang bersumber dari kegiatan pariwisata (Tabel 5.12). Hal ini dikarenakan pengaruh investasi yang dilakukan oleh pemerintah dan swasta pada sektor tersebut yang mencapai 64,72 persen terhadap total investasi.
                Diikuti oleh dampak di sektor industri pengolahan dengan kontribusi sebesar 17,19 persen. Kemudian dampak upah gaji di sektor restoran dan pertanian yang masing-masing dengan porsi sebesar 7,28 dan 7,09 persen.  Selanjutnya dampak yang juga cukup tinggi tampak pada sektor jasa-jasa lainnya, yang berkontribusi sebesar 8,18 persen.  Dampak pada sektor ini terdiri dari sektor jasa hiburan dan rekreasi, jasa kesehatan dan kecantikan serta jasa pendidikan. Sektor perdagangan juga memiliki kontribusi yang cukup besar terhadap pampak pembentukan upah dan gaji sektoral yaitu sebesar 4,94 persen terhadap total pembentukan upah dan gaji yang bersumber dari kegiatan pariwisata.
             Tabel 5.12. juga menggambarkan komposisi masing-masing permintaan dilihat dari dampak upah dan gaji yang ditimbulkan, dimana seperti output dan NTB bahwa pengeluaran untuk investasi memberi dampak yang cukup dominan, yakni mencapai 59,48 persen dari seluruh upah dan gaji yang ditimbulkan akibat adanya kegiatan pariwisata (upah/gaji pariwisata).  Selanjutnya dampak pengeluaran untuk wisatawan nusantara dan lokal juga memberikan porsi yang cukup besar yaitu masing-masing sebesar 18,37 dan 13,34 persen terhadap total upah/gaji pariwisata.    Pengeluaran lainnya yang relatif besar memberikan dampaknya adalah pengeluaran untuk promosi dan untuk wisatawan mancanegara dengan masing-masing berkontribusi sebesar 3,10 dan 3,09 persen dari seluruh upah dan gaji yang ditimbulkan akibat adanya kegiatan pariwisata (upah/gaji pariwisata).
 
Tabel 5.12.
Distribusi Persentase Dampak Konsumsi Wisatawan, Investasi dan
Belanja Pemerintah dan Swasta Terhadap Upah dan Gaji, Tahun 2011
               
4.       Dampak Terhadap Pajak Tak Langsung
                Pajak tak langsung (PTL) merupakan salah satu komponen dalam nilai tambah bruto yang harus dibayar oleh sektor produksi atau penjualan dan biasanya dibebankan pada harga barang dan jasa yang dibeli konsumen. Bagi pemerintah, pajak tak langsung merupakan salah satu sumber penerimaan negara. Dengan mengetahui struktur pajak tak langsung pada setiap sektor, pemerintah secara makro dapat melihat potensi pajak yang dimilikinya.
Pada Tabel 5.9. sebelumnya, tercatat bahwa pajak tak langsung yang dihasilkan dari kegiatan pariwisata di Kepulauan Bangka Belitung mencapai sekitar Rp. 33,7 miliar atau memberi sumbangan pada pajak tak langsung di Kepulauan Bangka Belitung sebesar 6,51 persen. Sumbangan terbesar diberikan dari sumber pengeluaran untuk investasi yang dilakukan oleh pemerintah maupun swasta dengan kontribusi sebesar 3,55 persen terhadap total pajak tak langsung di Kepulauan Bangka Belitung.  Selanjutnya pengeluaran untuk wisatawan nusantara dan lokal memberikan dampak terhadap PTL dengan sumbangan masing-masing sebesar Rp. 7 miliar dan Rp. 5,1 milyar atau sebesar  1,35 dan 0,98  persen. Sedangkan pengeluaran untuk wisatawan mancanegara berkontribusi menimbulkan PTL sebesar 0,31 persen terhadap total PTL di Kepulauan Bangka Belitung.
                Bila ditinjau dari sektor ekonomi, pajak tak langsung terbesar dalam kaitan kegiatan kepariwisataan diberikan oleh sektor bangunan/konstruksi, sebagaimana dalam penciptaan output dan nilai tambah.  Sektor ini menyumbang PTL sebesar 27,02 persen dari keseluruhan pajak tak langsung yang ditimbulkan oleh kegiatan pariwisata.  Disusul  pajak  tak  langsung  dari  sektor industri pengolahan dengan kontribusi sebesar 21 persen.  Selanjutnya dari sektor hotel dan restoran dengan masing-masing berkontribusi sebesar 9,94 dan 9,84 persen dari keseluruhan pembentukan pajak tak langsung yang ditimbulkan oleh kegiatan pariwisata.
                Tabel 5.13. memperlihatkan komposisi permintaan dilihat dari dampak terhadap pajak tak langsung yang ditimbulkan, dimana pengeluaran untuk investasi memberikan dampak terbesar, yakni mencapai 54,64 persen dari seluruh pajak tak langsung yang ditimbulkan dari adanya kegiatan pariwisata. Sementara pengeluaran wisatawan nusantara dan lokal berperan masing-masing sebesar 20,78 dan 15,10 persen. Selanjutnya pajak tak langsung akibat pengeluaran wisman memberi kontribusi 4,71 persen dan pengeluaran pemerintah untuk promosi wisata memberikan share sebesar 2,94 persen.
Tabel 5.13.
Distribusi Persentase Dampak Konsumsi Wisatawan, Investasi dan Belanja Pemerintah & Swasta Terhadap Pajak Tak Langsung, Tahun 2011
  1. Dampak Terhadap Tenaga Kerja
                Tenaga kerja merupakan salah satu faktor produksi dalam menciptakan output barang dan jasa. Dalam model Input Output, besarnya tenaga kerja yang terserap di setiap sektor secara linier mengikuti besarnya output yang dihasilkan. Dengan demikian, permintaan di sektor pariwisata juga akan memberi dampak terhadap penciptaan kesempatan kerja. Semakin besar permintaan di sektor pariwisata, baik konsumsi wisata maupun investasi di bidang pariwisata, maka akan semakin besar pula penciptaan kesempatan kerja di berbagai sektor terkait.
                Pada tahun 2011, tenaga kerja yang bekerja di berbagai sektor ekonomi terkait pariwisata mencapai sekitar 18 ribu orang atau 3,06 persen dari tenaga kerja Kepulauan Bangka Belitung (Tabel 5.9.).  Jumlah tenaga kerja terbesar di bidang kepariwisataan diciptakan oleh pengeluaran untuk investasi yang memberikan kontribusi sebesar 1,30 persen dari jumlah tenaga kerja di Kepulauan Bangka Belitung, sementara pengeluaran wisatawan nusantara dan lokal masing-masing memberikan kontribusi sebesar  0,78 dan 0,56 persen.  Selanjutnya pengeluaran wisman dan untuk keperluan promosi masing-masing memberikan kontribusi sebesar 0,20 dan 0,16 persen. Sedangkan permintaan pariwisata lainnya kurang memberi dampak berarti bagi penyerapan tenaga kerja di Kepulauan Bangka Belitung, dimana pengeluaran wisatawan nusantara dan nasional outbound hanya memberikan kontribusi masing-masing sebesar 0,03 dan 0,02 persen.
                Dilihat dari sektor ekonominya yang tampak pada tabel 5.14, jumlah tenaga kerja terbesar dampak dari kegiatan pariwisata diserap oleh sektor hotel yang mencapai 19,87 persen atau sekitar 3,5 ribu tenaga kerja. Disusul oleh sektor bangunan/konstruksi, pertanian dan industri pengolahan yang masing-masing menyerap sebesar 16,61; 16,56 dan 16,05 persen dari seluruh tenaga kerja yang ditimbulkan oleh adanya kegiatan pariwisata.  Perlu dipahami bahwa sektor pertanian walaupun tidak terkait langsung dengan kegiatan pariwisata, tetapi memiliki dampak daya serap tenaga kerja sangat besar karena sifat padat karyanya.
Tabel 5.14
Distribusi Persentase Dampak Konsumsi Wisatawan, Investasi dan Belanja Pemerintah & Swasta Terhadap Tenaga Kerja, Tahun 2011
 
  1.           Ringkasan Dampak Ekonomi Pariwisata
Stimulus perekonomian Kepulauan Bangka Belitung yang diciptakan oleh sektor pariwisata pada tahun 2011 seperti tergambar pada Diagram 5.1. mencapai total Rp 1.465,6 miliar yang diperoleh dari wisnus  Rp 312,6 miliar, wislok Rp 229,6 miliar, wisman inbound  Rp 53,14 miliar, wisatawan  Kepulauan Bangka Belitung  yang  melakukan perjalanan ke luar provinsi (wisnus outbound)  Rp 23,76 miliar,  wisatawan  Kepulauan Bangka Belitung  yang  melakukan perjalanan ke luar negeri (wisnas outbound)  Rp 14,9 miliar, investasi sektor pariwisata (pemerintah dan swasta) Rp 788,9 miliar, dan pengeluaran anggaran Pemerintah Pusat dan Daerah untuk promosi pariwisata Rp 42,7 miliar. Jumlah ini belum termasuk pengeluaran promosi yang dilakukan dunia usaha untuk keperluan pariwisata, karena datanya belum tersedia.
Diagram 5.1  Dampak Ekonomi Pariwisata
Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Tahun 2011
               Ket : Angka dalam trilyun rupiah kecuali tenaga kerja dalam juta orang
 
                Seperti disebutkan diatas, peranan pariwisata terhadap PDRB Kepulauan Bangka Belitung mencapai Rp 1.443,4 miliar atau 4,84 persen. Penyumbang terbesar PDRB pariwisata diantara sektor-sektor yang terkait adalah sektor bangunan/konstruksi sebesar Rp 468,1 miliar atau 32,43 persen dari total NTB seluruh sektor di Kepulauan Bangka Belitung.   Sedangkan  posisi  kedua adalah  sektor industri pengolahan dengan mencapai Rp. 247,5 miliar. Ini menunjukkan bahwa walaupun produk industri terkesan tidak terkait secara langsung dengan pariwisata, tetapi sesungguhnya mempunyai keterkaitan tidak langsung yang sangat besar. Begitupun halnya dengan sektor pertanian dan restoran yang masing-masing berkontribusi sebesar Rp. 128,1 milyar dan Rp. 119,6 milyar atau 8,88 dan 8,29 persen dari total NTB yang terbentuk akibat adanya kegiatan pariwisata.Dari sekitar 18,04 ribu tenaga kerja yang terlibat dalam kegiatan pariwisata, paling banyak terserap di sektor industri pengolahan dan sektor pertanian, yakni sebanyak 3,59 ribu orang. Diikuti oleh sektor bangunan/konstruksi, sektor pertanian dan sektor industri pengolahan dengan penyerapan tenaga kerja masing-masing sebesar  2,99; 2,98 dan 2,89 ribu orang.  Sementara sektor yang terkena dampak penyerapan tenaga kerja dari kegiatan kepariwisataan yang juga tampak cukup tinggi adalah perdagangan dan jasa-jasa lainnya dengan penyerapan tenaga kerja masing-masing sebanyak 1,3 dan 1,1 ribu orang. Jasa-jasa lainnya disini adalah jasa hiburan/rekreasi, jasa kesehatan dan kecantikan serta jasa keuangan.

 

Sumber: 
Bab V Nesparda Babel 2011
Penulis: 
BPS Babel dan Disbudpar Babel

Artikel Lainnya

13 Jul 2017 | Rusni
10 Jan 2017 | Rusni
31 Dec 2016 | Yuyun Tri Widowati
31 Dec 2016 | Yuyun Tri Widowati

Artikel Populer

07 Sep 2015 | Rusni
14 Jan 2015 | Syekh Ahmad Sobri (Translator)
09 Mar 2015 | BPS Babel dan Disbudpar Babel
27 Apr 2015 | DR. Budi Brahmantyo