Sambal Binjai/ Sudong

Pohon Binjai Sedang Berkembang
Bahasa Indonesia/ English
 
Bila mendengar nama Binjai, orang-orang Bangka yang mengenalnya pasti akan ngiler atau ngerenyem. Buah satu ini memang dikenal oleh masyarakat Bangka karena rasanya yang sangat asam dan sedikit manis serta baunya yang sangat harum. Buah sejenis mangga ini pada dasarnya sangat mirip dengan buah kemang, namun memiliki klasifikasi yang berbeda dengan nama ilmiah Mangifera caesia. Buah Binjai termasuk buah musiman sehingga agak sulit menemukannya bila bukan musimnya berbuah. Akan tetapi bila musim buahnya telah tiba, jalanan di pasar buah kota Pangkalpinang akan dipenuhi oleh keharuman buah Binjai yang dijual di kios-kios buah.
 
Buah Binjai pada dasarnya merupakan tanaman yang tersebar dibeberapa wilayah di Indonesia seperti Kalimantan, Sumatera, Jawa, dan Pulau Bali. Meskipun demikian keberadaan tanaman ini mulai jarang terlihat karena habitat alami tanamannya yang berada di tepi sungai banyak yang beralih fungsi. Tanaman yang hanya berbuah sekitar bulan-bulan November hingga Maret ini memang tidak banyak dimanfaatkan oleh masyarakat Bangka, selain untuk dijadikan sambal mengingat rasanya yang asam, namun keasamannya itu pula yang menarik bagi masyarakat Bangka.
 
 
Rasa asam buah Binjai yang menyegarkan sangat cocok dijadikan sambal atau biasa disebut Sudong oleh orang-orang tua dahulu. Sudong sangat cocok dinikmati dengan ikan atau cumi bakar dan juga sebagai teman lalapan seperti pucuk daun singkong, kacang botor atau kecipir, pucuk daun pepaya, dan lainnya. Bahkan, terkadang orang Bangka membawa Sudong sebagai bekal saat berkebun untuk dinikmati dengan nasi putih saja. Untuk membuat Sudong dibutuhkan buah Binjai yang telah masak, biasanya kulit buah telah berwarna kuning kecoklatan. Setelah dikupas, daging buah dipotong lalu dicincang dan dicampur dengan bumbu sambal terasi yang telah dihaluskan.
 
Kelebihan Sudong dibandingkan dengan sambal lainnya adalah dapat disimpan selama beberapa bulan dalam wadah tertutup. Semakin lama Sudong disimpan biasanya semakin enak untuk dinikmati. Meskipun Sudong memiliki daya simpan yang lama, namun Sudong belum banyak diupayakan untuk menjadi produk lokal sebagai oleh-oleh bagi wisatawan yang berkunjung ke Pulau Bangka. Pun demikian dengan rumah makan yang ada di Pulau Bangka, masih jarang yang menyediakan sajian Sudong dalam daftar menu mereka. Beberapa rumah makan yang menyediakan Sudong atau Sambal Binjai di Kota Pangkalpinang antara lain adalah Nad Kantin dan Dayang Kantin. Sementara itu di Desa Namang, Pondok Pelawan juga menyediakan Sudong sebagai salah satu menunya bila musim Buah Binjai. Mengingat Binjai merupakan buah musiman, maka untuk menikmati Sudong harus bertepatan dengan musim Binjai berbuah.

 
Whenever Bangkanese hear the word binjai, especially those who are familiar with it, they will drool over the fruit. This type of mango has the same genus to kemang but different species; kemang is known as mangifera kemanga while binjai is mangiferacaesia. Unfortunately, this strongly odorous with an acid-sweet or sour taste fruit is a seasonal fruit and cannot be found every day. However, when it comes to the season, its nice smell will fill along the street in the middle ofPangkalpinang fruit market.
 
Binjai is widely grown in several places in Indonesia, like Kalimantan, Sumatera, Java, and Bali. However, Binjai tree is a bit difficult to find nowadays because it loses its natural habitat along riverbanks. The sourness of the fruit which is ripe around November to March makes Bangkanese rarely use it except as ingredient to make sambal. In fact, it is the taste that interests Bangkanese.
 
The refreshing sour binjai is a good match for sambal. In the old days, sambal binjai is called Sudong. It goes with fish or roasted squid. It also matches for boiled of shoots of cassava or papaya leaves, winged bean, and others. Sometimes, Bangkanese even take it to their garden as a side dish to eat rice. It is also a simple relish to make. Just get a ripe yellowish brown binjai. Peel the skin, chop the flesh and mix it with ground shrimp paste and chilies.
 
The advantage of Sudong over other sambal is that it can be kept for several months in a sealed container. The longer it is kept, the more delicious it will be. In spite of its durability, there are not many people try to process it into a typical souvenir for visitors coming to this Island. Restaurants also rarely add this relish in their menus. Among the few restaurants are Nad and Dayang canteens in Pangkalpinang. In its season, sudong is also served in Pondok Pelawan in Namang village. In short, to simply enjoy this sambal, just come in its season.

Penulis: Hera Riastiana
Translator: S.A. Sobri
Editor: Yuliarsih (Ind.)/ Rosy Handayani (Eng.)
Photo: Rusni, Yuyun TW

Destinasi Lainnya

Bangka Belitung, Culinary
Kota Pangkalpinang, Culture and Arts
Beach/Marine, Kabupaten Bangka Tengah
Beach/Marine, Kabupaten Bangka Barat
Beach/Marine, Kabupaten Belitung

Destinasi Terkait

Bangka Belitung, Culinary
Bangka Belitung, Culinary
Bangka Belitung, Culinary
Bangka Belitung, Culinary
Bangka Belitung, Culinary