Selada Bangka

 
Bahasa Indonesia/ English
 
Meskipun dikenal sebagai daerah penghasil timah putih, masyarakat di Pulau Bangka juga banyak yang bekerja sebagai petani, terutama berkebun sahang. Sahang adalah sebutan orang Bangka Belitung untuk lada atau merica. Karena umumnya kebun-kebun sahang berada jauh dari perkampungan, biasanya para petani lada akan lebih banyak tinggal di hume di kebun atau di ladang. Mereka akan kembali ke kampung pada hari Kamis atau Jum’at untuk melaksanakan Sholat Jum’at berjamaah.

Karena biasanya pada hari Jum’at para petani pulang ke rumah mereka, suasana di kampung-kampung di Bangka menjadi lebih ramai. Pada hari itu juga biasanya diadakan “Pekan”. Pekan sebenarnya adalah hari pasar, dimana para penduduk kampung serta pedagang dari luar akan berjualan di pasar desa atau di depan rumah mereka. Di masa lalu, suasana hari pekan terasa seperti hari raya karena penduduk kampung juga memanfaatkan hari ini untuk berkumpul dengan keluarga serta tetangga tetangga yang mungkin sudah 1 minggu tidak mereka temui.

Hari pekan yang hanya sehari itu, juga menjadi kesempatan untuk mencicipi makanan-makanan khas di daerah tersebut. Sekarang, suasana hari Pekan tidak semeriah dahulu sebab banyak penduduk yang tidak lagi menginap di kebunnya karena sekarang sudah memiliki kendaraan bermotor yang memudahkan untuk pergi ke kebun atau ke pasar di kota. Meskipun demikian, masih ada kampung-kampung di Pulau Bangka yang tetap menjadikan hari Jum’at sebagai hari Pekan, misalnya di Bencah dan Nyelanding di Kecamatan Air Gegas di Bangka Selatan.

Salah satu kuliner yang bisa di dapatkan pada saat hari pekan itu adalah “Selada Bangka”. Walaupun namanya Selada Bangka,  apabila kita membeli makanan ini di perkampungan pada hari pekan, kita akan jarang sekali menemukan daun selada pada makanan ini, karena memang selada sangat jarang ditanam di Bangka. Justru, kita akan menemukan mie yang lebih dominan di piring selada kita.

 

 

Selada Bangka adalah kuliner yang mirip dengan gado-gado. Hidangan ini didominasi oleh mie kuning, kecambah/ tauge pendek dan kuah kacang. Selain itu, di dalam hidangan selada, kita juga akan menemukan kentang rebus dan mentimun. Tentu saja yang membuat salad ini nikmat adalah kuah kacang tanah yang dibumbui dengan bawang merah, bawang putih, kemiri, gula kabung (gula aren) dan yang terpenting adalah belacan atau terasi Bangka yang sudah terkenal enaknya. Ketika dihidangkan, biasanya Selada Bangka juga diberikan telur rebus serta topping kerupuk atau kemplang. Kadang-kadang juga ditambah dengan emping goreng. Jangan lupa mencicipi kuliner ini ketika berada di perkampungan di Bangka pada hari pekan. Di beberapa tempat,  penduduk juga sudah mulai menjual makanan ini pada hari Kamis.


 
Altough Bangka is well known as white tin producer, the local people of Bangka Island also work as farmers, especially as white pepper farmers. Sahang is the local word for pepper in Bangka Belitung. Since pepper plantations or paddy fields were usually far from the villages, most farmers usually stay in hume (huts) in their plots. They would return to the village on Thursday of Friday to do Friday Prayer in congregation.
 
Since the farmers returned to their homes only on Fridays, the atmosphere of the villages in Bangka would be merrier. On that day there would be “Pekan”. Pekan is actually the market day, when locals and traders from the cities would sell their products at the village market or in front of their houses. In the past, the Pekan day would feel like a feast day since the locals also use that day to gather and meet their families and neighbors that they did not meet for a week as they stayed in their plots.
 
The only Pekan day is also the day to taste typical dishes in the area. Recently, Pekan day is not as merry as it used to be in the past since most farmers no longer stay in the huts on their plots. Farmers now can go to and fro from the village to the plantation by motorcycles and cars, and they can also go to the city to buy things as traveling to the cities is easy now. Nonetheless, there are still villages in Bangka Island that make Friday as Pekan day, for instance in Bencah and Nyelanding in Air Gegas Sub-district, South Bangka.
 
One of the culinary can be found on the pekan day is “Selada Bangka”. Despite its name is Selada, which also means “lettuce”, we would hardly find lettuce in this dish when we buy Selada Bangka on Pekan day in the villages, as this vegetable is rarely cultivated in Bangka Island. Instead, we will find that Selada Bangka is dominated by noodle on our plate.
 
Selada Bangka is a dish like Gado-Gado (hodgepodge). It is dominated by yellow noodle, short bean sprouts and peanut sauce. We can also find cucumber and boiled potatoes. Beside the freshness of the vegetables, the delicacy of this dish lies on the peanut sauce. The peanut sauce is prepared with ingredients like onion, garlic, nutmeg, palm sugar and most importantly, belacan Bangka (Bangkanese shrimp paste) that has been famous as one of the best belacan in Indonesia. Usually, Selada Bangka is served with boiled egg and kerupuk or kemplang as the topping. Sometimes, there are also fried Melinjo chips (gnettum gnemon). Do not forget to try this culinary when you are in the villages in Bangka on Pekan day. In some villages, locals also sell this food on Thursday.

Naskah: RB
Photos: Rusni

Destinasi Lainnya

Bangka Belitung, Culinary
Kota Pangkalpinang, Culture and Arts
Beach/Marine, Kabupaten Bangka Tengah
Beach/Marine, Kabupaten Bangka Barat
Nature, Kota Pangkalpinang, Culture and Arts

Destinasi Terkait

Bangka Belitung, Culinary
Bangka Belitung, Culinary
Bangka Belitung, Culinary
Bangka Belitung, Culinary
Bangka Belitung, Culinary