Setiap Objek Wisata Bangka Belitung Harus Miliki Perbedaan yang Khas

Pangkalpinang – Perbedaan khas yang ada di setiap objek wisata di Bangka Belitung akan membuat wisatawan mengunjungi satu objek ke objek wisata lainnya. Dengan demikian wisatawan akan menghabiskan waktu lebih lama untuk mengeksplor objek-objek wisata di Bangka Belitung.

Demikian dikatakan Budiman Ginting, Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan, Sekretariat Daerah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, saat membuka kegiatan Forum Koordinasi PD/Lintas PD Perencanaan Babel yang diselenggarakan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, di Ren’z Hotel, Pangkalpinang, Senin (5/3/2018).

Budiman yang menuturkan pengalaman berwisatanya beranggapan bahwa perbedaan di setiap objek wisata membuat wisatawan mau berkunjung.

“Orang kalau ke Bali pasti dilanjutkan ke Lombok. Itu karena ada perbedaan antara Bali dan Lombok. Walau pun Bali dengan Lombok itu sangat dekat. Kenapa mereka mau ke Lombok, karena beda.

Begitu sampai di Lombok, sudah kelihatan perbedaan Bali dan Lomboknya, dan semua menarik. Sehingga dua-duanya tetap dikunjungi,” tutur Budiman.

Hal tersebut juga beliau harapkan dapat diterapkan di objek wisata yang ada di Bangka Belitung.

“Begitu juga dengan Bangka Belitung. Begitu orang sampai di Tanjung Pandan, lalu ke objek-objek wisata yang ada, misalnya Tanjung Kelayang, Tanjung Tinggi, pulau-pulau kecil, dan lain-lainnya. Itu kan mirip semuanya yang kita tampilkan. Hamparan pantai, alam, dan kuliner. Nah, begitu orang datang ke Pulau Bangka, harus ada yang berbeda di daerah ini selain pantai, karena pantai sudah pasti,” harap Budiman.

Selain itu, Budiman juga mengajak seluruh peserta forum koordinasi bagaimana mengelola suatu objek wisata yang terlihat biasa, namun luar biasa.

“Saya pernah ke Bali mengunjungi Monkey Forest seluas 6,4 hektar. Jadi bentuknya hutan monyet. Sebenarnya di dalamnya tidak ada yang luar biasa. Hanya atraksi monyet-monyet itu saja. Tapi pengunjungnya bisa 2.000 orang dalam satu hari. Nah itu bagaimana tekniknya?” tutur Budiman.

Kemudian, lanjut Budiman, kalau kita pergi ke Garuda Wisnu Kencana Bali, itu ada sekitar 300 hektar. Tidak tanggung-tanggung besarnya, bukit saja dibelah. Dibikin patung raksasa. Itu juga suatu tempat yang kalau seharian tidak cukup, mesti menginap. Makanya didalam komplek tersebut sudah disiapkan hotel-hotel.

Forum koordinasi yang bertujuan menyelaraskan kegiatan atau program antara kabupaten/kota dengan provinsi ini menghadirkan beberapa narasumber yang mengisi materi pada hari pertama, yakni Rivai (Kepala Disbudpar Babel), Sutarjo (Kepala Bidang Analisis Lingkungan Strategis, Asisten Deputi Manajemen Strategis, Kementerian Pariwisata RI), dan Rusdi (Bappeda Babel).

48 peserta yang hadir berasal dari Bidang Pengembangan Kebudayaan Disbudpar Babel, Bidang Pemasaran Pariwisata Disbudpar Babel, Bidang Destinasi Pariwisata Disbudpar Babel, Bidang SDP, Ekraf, dan Kelembagaan Disbudpar Babel, Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Kepemudaan, dan Olah Raga, Dinas Pendidikan, Dinas PUPR, Bappeda, Dinas Perhubungan kabupaten/kota se-Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Penulis : Ernawati Arif (Prahum Disbudpar Babel)

Foto      : Rafiq Elzan