Tugu Proklamasi di Mentok

 
Bahasa Indonesia/ English
 
Ketika berkunjung ke Pesanggrahan Mentok (WismaRanggam), di Kabupaten Bangka Barat, tepat di muka bangunan gedung tempat tinggal Bung Karno selama diasingkan di Mentok (1948/1949) berdiri sebuah TUGU. Banyak orang yang mengunjungi Wisma Ranggam akan penasaran dan bertanya-tanya, untuk apa tugu ini dibangun? Kapan? Siapa yang membangun?
 
Ternyata tugu ini memiliki nilai historis yang sangat penting bagi masyarakat Bangka, khususnya warga Mentok. Tugu yang dikenal sebagai TUGU PROKLAMASI ini  diresmikan langsung oleh BUNG HATTA pada tanggal 17 Agustus 1951, ketika beliau kembali ke Bangka guna meninjau bekas-bekas pengasingannya di Kota Mentok pada tahun 1948-1949. Ketika itu, Bung Hatta diasingkan ke Mentok bersama-sama dengan para tokoh pemimpin RI  seperti: Ir. Soekarno, H. Agus Salim,  Mr. Mohammad Roem, Mr. Assa’at, Mr. Pringgodigdo, Komodor Suryadarma, serta Ali Sastroamidjoyo.
 
Pengasingan tujuh tokoh pemimpin RI ke Mentok/Bangka, menjadikan posisi Bangka menjadi strategis, karena hubungan  BANGKA-JAKARTA-JOGYAKARTA sangat intens pada waktu itu. Hal ini dikarenakan dengan begitu banyaknya pejabat Belanda, maupun Komisi PBB untuk Indonesia atau UNCL yang mondar-mandir ke Pulau Bangka untuk melakukan perundingan dengan Soekarno dan Hatta beserta kabinetnya yang diasingkan ke Mentok. Pesanggrahan Mentok/Wisma Ranggam adalah tempat dimana konsep Perjanjian Roem Royen untuk penyelesaian konflik antara Indonesia dan Belanda digodog. Perjanjian tersebut dimulai pada tanggal 14 April 1949 – 7 Mei 1949 di Hotel Des Indes, Jakarta, delegasi Indonesia dipimpin oleh Mohammad Roem. Selama masa perundingan tersebut, pemimpin Indonesia Ir.Soekarno dan Mohammad Hatta tetap berada di  Mentok/Bangka. Baru pada tanggal 6 Juli 1949, para pemimpin Indonesia yang diasingkan itu kembali ke Yogyakarta, ibukota sementara Republik Indonesia.
 
Mengingat fakta bahwa kota Mentok pernah dijadikan tempat pengungsian tokoh-tokoh penting dalam sejarah Repbulik Indonesia tersebut, dimana kedua proklamator Soekarno-Hatta beserta menteri-menteri utamanya diasingkan dalam satu kota,  muncullah prakarsa untuk membangun tugu peringatan  di kota Mentok.
 
Berlokasi di halaman depan Pasanggrahan Mentok/Wisma Ranggam, Kampung Sungai Daeng,  tugu yang mulai dibangun secara gotong royong  oleh Masyarakat Mentok pada tanggal 26 September 1950, dan selesai pada awal tahun 1951. Adapun tokoh-tokoh yang menjadi pemrakarsa antara lain: M. Hasan Ali - A. Anwar - M. Nur Alia - Helmi Zen – Ramli Achmad - K. Hutabarat - Liu Nam Sian - Abdullah Tjit Achmad -  Hassanusu Tahir. 
 
Pembangunan ini tidak lain sebagai TANDA bahwa MENTOK/BANGKA MEMILIKI ANDIL DALAM MEMPERJUANGKAN KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA. Hal ini tertulis dalam inskripsi tugu yang fotonya saya temukan kemudian, yaitu seharusnya di badan tugu utama inskripsi di tugu utama terdapat lempengan yang bertuliskan:
 
PROKLAMASI REPUBLIK INDONESIA
17 Agustus 1945 
Kenang – kenang Menumbing.
Di bawah sinar gemerlap terang cuaca
Kenang – kenang membawa kemenangan. Bangka, Djokdjakarta, Djakarta.
Hidup Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika
 
Lempengan itu tertera tandatangan salah satu proklamator kemerdekaan RI Drs.Mohammad Hatta. Bangunan Tugu Proklamasi  yang sketsa dan denahnya digambar oleh DJINAL TUNGGAK, serta yang deskripsi sanjak/inkripsi pada tugu dibuat oleh M. HASAN ALI, ini ternyata memiliki makna khusus dalam pemilihan bentuk maupun jumlahnya. Bentuk tugu yang besar ataupun yang kecil adalah segilima, memiliki ukuran  yang besar tingginya 17 kaki (sesuai tanggal 17), yang kecil tingginya 1,7 meter. Tugu besar memiliki jumlah anak tangga sebanyak 8 buah (menggambarkan bulan ke 8 - Agustus), apabila jumlah anak tangga ini ditambahkan dengan tanah maka ada 9 buah undakan, yang bila dikalikan 5 (bentuk segilima) menjadi 45 – sesuai dengan tahun proklamasi 1945. Bentuk tugu, tinggi, jumlah anak tangga, serta hasil perkaliannya memiliki makna Hari Proklamasi 17 Agustus 1945.
 
Many people wondering about a monument in front of a Pesanggrahan Mentok or Wisma Ranggam, a building occupied by Bung Karno, the first president of Indonesia, in his exile in 1948/1949 in Bangka Barat regency. They are interested to find out why, when, and who built the monument.
 
In fact, the monument has an important historic value for Bangkanese, especially those living in Mentok. The monument, known as Proclamation Monument, was inaugurated by Bung Hatta, the first vice president of Indonesia, on 17 August 1951 in his official visit to Mentok as his exiled town. He was in exile together with other national leaders like Ir. Soekarno, H. Agus Salim, Mr. Mohammad Roem, Mr. Assa’at, Mr. Pringgodigdo, Commodore Suryadarma, and Ali Sastromidjoyo.
 
Of course, since the exile of those leaders, Bangka became a strategic region because of the intense relation to Jakarta and Yogjakarta. Many officials of Netherlands and United Nation commission for Indonesia (UNCI) came to Bangka to negotiate with Soekarno, Hatta, and their cabinet in exile. Wisma Ranggam was the place where the concept of Roem Royen agreement was drawn up to iron out the conflict between the two nations. The negotiation was started on 14 April to 7 May 1949 in Des Indes Hotel, Jakarta. The Indonesian delegation was led by Mohammad Roem. Ir. Soekarno and Mohammad Hatta were still in their exile in Mentok during the negotiation. They returned from exile on 6 July 1949 to Yogyakarta, the temporary republican capital.
 
Considering the fact that Mentok is a historic place of where the Indonesian Proclaimers, Soekarno-Hatta, and their main ministers were exiled in the same town, there was an initiative to build a monument.
 
People started to work together to build the monument in front of Wisma Ranggam in Kampung Sungai Daeng on 26 September 1950. The initiators of the monuments were M. Hasan Ali, A. Anwar, M. Nur Alia, Helmi Zen, Ramli Achmad, K. Hutabarat, Liu Nam Sian, Abdullah Tjit Achmad, and Hassanusu Tahir.
 
This monument is a proof that Mentok or Bangka has a contribution to fight for Indonesian Independence. This is written on a slab of the monument inscription which photo I found latter. The inscription was supposed to be on the main part of the monument. The inscription is as follows:
 
THE PROCLAMATION OF THE REPUBLIC OF INDONESIA
17 August 1945
Reminiscence of Menumbing
Under the Shiny day
Reminiscence of Victory
Bangka, Yogyakarta, Jakarta
Long Live Pancasila, Bhineka Tunggal Ika
 
Signed by Drs. Mohammad Hatta, designed by Djinal Tunggak, and the inscription was written by M. Hasan Ali, the monument has a special meaning in shape. Both small and big monuments are five-sided monuments. The big one is 17 ft and the small one is 1.7 m. Both of them refer to the date (17).  The big monument has eight stairs to refer to the month (August). If it is counted from the ground, there will be nine stairs, which will be 45 to symbolize the year (1945) if it is multiply by five (the pentagonal shape). In brief, the meaning of the monument is the independence day of Indonesia 17 August 1945.
Naskah: Yuyun Tri Widowati
English Translator: S.A. Sobri
Editors: Yuliarsih (Bahasa Indonesia)/ Rosy Handayani (English)
Photo: Yuliarsyah Chacha

Destinasi Lainnya

Bangka Belitung, Culinary
Kota Pangkalpinang, Culture and Arts
Beach/Marine, Kabupaten Bangka Tengah
Beach/Marine, Kabupaten Bangka Barat
Nature, Kota Pangkalpinang, Culture and Arts

Destinasi Terkait

Nature, Heritage, Kabupaten Bangka Barat
Heritage, Kabupaten Bangka Barat
Heritage, Kabupaten Bangka Barat
Heritage, Kabupaten Bangka Barat
Heritage, Kabupaten Bangka Barat