Wisma Ranggam

 
Bahasa Indonesia/ English
 
Wisma Ranggam, atau yang dahulu lebih dikenal dengan sebutan Pesanggrahan Muntok, terletak di Jl. Imam Bonjol Kampung Sungai Daeng, Muntok. Pesanggrahan Muntok berubah nama menjadi Wisma Ranggam pada tahun 1976, ketika pengelolaannya dipegang oleh PT. Timah.
 
Pesanggrahan ini dibangun oleh Pemerintahan Kolonial Belanda pada tahun 1890 sebagai tempat peristirahatan pegawai Perusahaan Timah Belanda saat itu, Banka Tinwinning Berdrijf. Pada awalnya, bangunan ini merupakan bangunan kayu, yang kemudian dibangun kembali dengan bentuk yang masih sama pada tahun 1924, sampai kemudian dibangun dengan bentuk yang ada sekarang pada tahun 1927, dengan arsitek Antwerp J. Lakollo dari Ambon. Pada tahun 1930, pesanggrahan ini kemudian memiliki kolam renang yang disebut kolam renang air terjun.
 
 
Menempati lahan seluas 7.910 m2, Wisma Ranggam memiliki bangunan induk dan bangunan pelengkap. Di halaman depan terdapat tugu yang pada prasastinya ditanda-tangani oleh Bung Hatta pada tanggal 17 Agustus 1951. Tulisan prasasti tersebut menyebutkan kalimat "Kenang-kenang Menoembing di Bawah Sinar Gemerlap Terang Tjoeatja, Kenang-kenang membawa Kemenangan, Bangka, Djogdjakarta, Djakarta, Hidoep Pancasila, Bhineka Tunggal Ika”. Bung Hatta memang pernah diasingkan ke Muntok dan ditempatkan di Pesanggrahan Menumbing bersama beberapa pemimpin Indonesia.
 
Pada tahun 1897, pesanggrahan ini selama 7 bulan digunakan sebagai tempat pengasingan Pangeran Hario Pakuningprang dari Surakarta yang membelot dari Belanda saat ditugaskan melawan pasukan Aceh pada Perang Aceh. Pangeran Hario Pakuningrang kemudian wafat dan dimakamkan di Kebon Nanas, Mentok.
 
Selanjutnya, Pesanggrahan sempat menjadi tempat para Bapak Pendiri Bangsa setelah Agresi Militer Belanda kedua 19 Desember 1948 selama sekitar setengah tahun. Presiden RI Pertama, Ir. Soekarno diasingkan Belanda bersama-sama KH. Agus Salim, Mr. Ali Sastroamidjojo dan Mr. Moch. Roem . Sementara itu, Drs. M. Hatta (Wakil Presiden dan Perdana Menteri), Mr. AG. Pringodigdo, Mr. Asaat dan Komodor Surya Darma ditempatkan di Pesanggrahan Menumbing yang jaraknya sekitar 11 kilometer.
 
Di Pesanggrahan inilah isi perjanjian Roem-Royen dibahas dan tempat ini juga menjadi saksi penyerahan surat kuasa pengembalian pusat pemerintahan Indonesia dari Yogyakarta ke Jakarta oleh Ir. Soekarno kepada Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Untuk mengenang Bangka dan Wisma Ranggam, Mr. Moch Roem kemudian melahirkan kata-kata “Van Banka begint de Victorie” (Dari Bangka dimulai kemenangan).

Wisma Ranggam, used to called Pesanggrahan Muntok (Pesanggrahan = pension), is located on Jl. Imam Bonjol in Kampung Sungai Daeng in Muntok. This pension is then called Wisma Ranggam in 1976, when PT Timah (TIN) held the management of the building.
 
This pension was built by the Dutch colonial government in Indonesia in 1890 as the resting place for the employees of the Dutch tin company at that time,  Banka Tinwinning Berdrijf. At first the building was made of wood. Later on in 1924, the building was rebuilt with the same form. In 1927, the building was constructed with the shape that exist now with the design from architect Antwerp J. Lakolla from Ambon. In 1930, the building had a swimming pool called “waterfall swimming pool”.
 
Occupying an area of ​​7910 m2, the pension has a main building with annex buildings. On the front yard, there is a monument with an inscription stone signed by Bung Hatta, one of the Indonesia Founding Fathers; in August 17th, 1951. It was written on the inscription stone: “Memories of Menoembing under the shine of the sparkling weather, Memories of bringing the victory, Bangka, Djogdjakarta, Djakarta, Long Live Pancasila, Unity in Diversity”. Bung Hatta had indeed been exiled to Muntok and placed in Menumbing Pension together with several leaders of Indonesia at that time.
 
In 1987, Prince Hario Pakuningprang of Surakarta was exiled to this building for 7 months as he defected from The Dutch Colonial Government when he was assigned to fight against the Aceh people in Aceh War. Prince Hario Pakuningrang then died and was buried in Kebon Nanas in Muntok.
 
Afterward, the pension became the place of exile of the founding fathers of Indonesia for around half year after the 2nd Dutch Military Offensive (also known as Operation Crow) December 19th 1948 took place. The first president of the Republic of Indonesia, Ir. Soekarno, was exiled by the Dutch Colonial Government together with KH. Agus Salim, Mr. Ali Sastroamidjojo dan Mr. Moch. Roem. Bung Hatta (Vice-President and Prime Minister), Mr AG. Pringodigdo, Mr. Asaat and Komodor Surya Darma were placed in the pension in Menumbing hill, about 11 kilometers away from Pesanggrahan Mentok, after that.
 
In this building then the content of Roem - Royen Agreement was discussed. This building also witnessed the submission of the power of attorney to return the Indonesian government capital from Jogjakarta to Jakarta by Ir. Soekarno to Sri Sultan Hamengku Buwono IX. To commemorate Bangka Island and Wisma Ranggam, Mr. Moch. Roem then bore the words “Van Banka begint de Victorie” (From Bangka, the victory begin)

Naskah: RB
Translasi: Rusni Budiati
Sumber: BPBC Jambi

Destinasi Lainnya

Bangka Belitung, Culinary
Kota Pangkalpinang, Culture and Arts
Beach/Marine, Kabupaten Bangka Tengah
Beach/Marine, Kabupaten Bangka Barat
Nature, Kota Pangkalpinang, Culture and Arts

Destinasi Terkait

Nature, Heritage, Kabupaten Bangka Barat
Heritage, Kabupaten Bangka Barat
Heritage, Kabupaten Bangka Barat
Heritage, Kabupaten Bangka Barat
Heritage, Kabupaten Bangka Barat