Menyenangi Tradisi Akar Pelestarian

Kegiatan Kajian Lagu Daerah Melayu Bangka, Puri 56 Hotel and Resto, Pangkalpinang, Kamis (5/10/2017).

 

Pangkalpinang – Peningkatan pelestarian tradisi daerah Kepulauan Bangka Belitung dilakukan dalam bentuk kajian. Beberapa penelitian dilakukan untuk mendalami sejumlah kajian, antara lain kajian pengobatan tradisional, kajian lagu daerah, kajian alat musik, kajian kuliner, dan kajian permainan tradisional.

Menanggapi hal ini, Baidjuri Tarsa Maestro Seni Pertunjukan mengapresiasi upaya pemerintah dalam melestarikan tradisi Bangka Belitung. Menurutnya menyenangi tradisi itu sendiri merupakan dasar utama yang sangat penting dalam upaya pelestarian.

“Kegiatan seperti ini sudah bagus sebagai upaya pelestarian tradisi. Tahap demi tahap, kalau dilaksanakan terus-menerus dan rutin, nantinya akan jadi jauh lebih baik. Memang untuk melestarikan tradisi kita, dibutuhkan sinergi dari semua aspek kehidupan, seperti masyarakat, pemerintah, generasi muda, seniman, bersama-sama melakukan upaya pelestarian. Yang penting harus menyenanginya dulu. Kalau tidak menyenangi tradisi yang ada, bagaimana mau melestarikannya,” kata Baidjuri saat ditemui usai kegiatan Kajian Lagu Daerah, di Puri 56 Hotel and Resto, Pangkalpinang, Kamis (5/10/2017).

Kegiatan Kajian Lagu Daerah diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Disbudpar Babel). Kegiatan ini merupakan agenda kedua dari lima agenda kajian yang telah dipersiapkan. Kajian pertama yang telah diforumkan, yakni Kajian Pengobatan Tradisonal yang diselenggarakan hari Senin (2/10). Selain para ahli dan pelaku terkait, penggiat budaya pun dilibatkan sebagai peserta.

Terkait perkembangan lagu daerah Bangka Belitung saat ini, Baidjuri menuturkan terdapat berbagai hal yang perlu diurai dan dijabarkan. Hal ini dikarenakan persoalan lagu daerah yang begitu kompleks, mulai dari penggunaan bahasa, dialek, cengkok, dan lain sebagainya.

“Perkembangan lagu daerah kita cukup bagus. Namun masih perlu ditelaah lagi dan dimantapkan lagi, terutama dari segi bahasa. Kadang kita tidak bisa menebak dari mana asal lagunya, karena bahasanya kadang membingungkan Dialeknya juga demikian. Apakah itu dari Pangkalpinang, Sungailiat, atau dari mana kita tidak tahu. Untuk irama dan cengkok juga masih harus diperhatikan,” tutur Baidjuri.

Sementara dari sisi peneliti, Dwi Oktarini menjelaskan terdapat sejumlah kendala dalam proses penelitian yang dilakukannya. “Kendala besar dalam proses penelitian adalah pembagian masalah region. Ketika menyebut satu lagu daerah Bangka, ternyata tidak bisa dikotak-kotakkan. Misalnya penelitian ada di Bangka, ternyata seniman yang ada di Bangka menciptakan lagu juga untuk daerah dengan menggunakan kosa kata dari daerah lain, dan akhirnya itu akan menjadi menglobal. Selain itu, kita juga kekurangan lagu tradisional yang tidak diketahui penciptanya, dengan arti itu tradisi lisan. Sedangkan kita tidak terlalu ke tradisi lisan,” jelas Dwi.

Dwi juga menyampaikan harapannya untuk penelitian agar dapat dilakukan dengan cara bersinergi dari banyak pihak. Bukan hanya di Pemerintah daerah melalui Disbudpar Babel, tapi juga dari seniman, lembaga adat, masyarakat, atau sekolah, harus bersinergi dalam melestarikan tradisi yang ada di Bangka.

Melalui forum ini, Dwi menambahkan, sebagai awalan untuk mengangkat apa saja persoalan yang dihadapi para seniman, khususnya terkait dengan kajian lagu daerah. Selain itu, sangat dibutuhkan suatu inventarisasi yang memadai terhadap pokok bahasan yang menjadi kajian.

Penulis            : Ernawati Arif

Editor               : Yuliarsih

Updater           : Rafiq Elzan

Dokumentasi : Rafiq Elzan