Ir. Sutedjo Sujitno Merangkai Sejarah di Bumi Timah

avatar Visit Bangka Belitung
Visit Bangka Belitung

Namanya Sutedjo Sujitno, ia telah menulis beberapa buku dan melakukan penelitian baik di bidang sejarah maupun di bidang pertambangan serta memberikan ceramah dalam berbagai seminar kesejarahan dan pertambangan. Sejarah Timah Indonesia adalah salah satu karya besar yang pernah dihasilkan oleh Sutedjo Sujitno melalui penelitian panjangnya. Karyanya yang lain yaitu Legenda Dalam Sejarah Bangka. Buku ini memberikan gambaran jati diri masyarakat Bangka melalui fakta-fakta sejarah dengan diperkuat oleh legenda yang hidup di dalam masyarakat Bangka. Melalui buku ini pula, ia berupaya membangkitkan semangat masyarakat Bangka untuk melakukan penggalian sejarah yang lebih mendalam, mengingat Pulau Bangka memiliki cerita sejarah yang unik, menarik dan belum banyak dikaji. 

Sutedjo Sujitno lahir di Madiun, 17 Januari 1938. Ibunya adalah seorang guru Taman Kanak-Kanak, sedangkan ayahnya adalah sorang kepala sekolah SD di Madiun bernama Soejitno Karto Darmojo yang aktif dalam pergerakan Muhammadiyah dan menjadi anggota dari Kepanduan Muhammadiyah yang dikenal dengan nama Hizbul Wathan. Hizbul Wathan merupakan sebuah gerakan kepanduan berdasarkan ajaran agama Islam, yang didirikan pada tahun 1918. Hizbul Wathan berkembang secara pesat sehingga menarik perhatian pemerintah Belanda dan kemudian membubarkannya. Pada saat itu ayah Sutedjo Sujitno sangat berperan aktif dalam pergerakan tersebut sehingga turut dicurigai oleh Belanda sebagai orang yang melawan. Kemudian orang tua Sutedjo pun  diasingkan ke Sumbawa oleh Belanda.

Sutedjo tinggal di Sumbawa hingga ia berusia tujuh tahun. Tahun 1945, di Sumbawa, ayah Sutedjo dianggap melakukan pergerakan melawan Belanda sehingga dipulangkan kembali ke tanah Jawa yang kemudian bermukim di Ngawi dan bertugas sebagai kepala sekolah SD di daerah tersebut. Hingga berakhirnya peristiwa PKI di Madiun pada tanggal 18 September 1948, orang tua Sutedjo kembali ke Madiun dan kemudian diangkat menjadi kepala sekolah SMP di sana. Meskipun kehidupan Sutedjo pada masa-masa kecilnya diwarnai oleh berbagai peristiwa yang sulit, namun Sutedjo memiliki masa kecil yang sama dengan anak-anak pada umumnya, bermain dan belajar. Bahkan, Sutedjo merupakan murid yang aktif dalam mengikuti berbagai kegiatan organisasi siswa di sekolahnya.

Tahun 1958, Sutedjo Sujitno lulus dari SMA 1 Madiun dan melanjutkan pendidikan ke Institut Teknologi Bandung dan merupakan murid yang berprestasi sehingga mendapatkan kemudahan berupa kebebasan untuk memilih jurusan pendidikan yang diinginkannya. Awalnya Sutedjo tertarik untuk mempelajari perkeretaapian mengingat Madiun merupakan kota pusat industri kereta api terbesar di Indonesia. Namun, Sutedjo memilih untuk menuruti pesan ayahandanya karena pada saat sebelum meninggal dunia ibundanya pernah berkeinginan agar anaknya memilih sekolah yang sama dengan sekolah tempat Presiden Soekarno pernah menimba ilmu. Oleh karena itu, Sutedjo memilih untuk melanjutkan pendidikannya di Institut Teknologi Bandung yang sebelumnya bernama Technische Hoogeschool te Bandoeng. Presiden Soekarno sendiri lulus dari Jurusan Teknik Sipil di Technische Hoogeschool te Bandoeng pada tahun 1926.

Setelah memantapkan hatinya untuk melanjutkan pendidikan di Institut Teknologi Bandung, Sutedjo memilih jurusan Tambang Eksplorasi mendekati aktifitas yang ia suka yaitu hiking. Tahun 1961 hingga 1962 terjadi peristiwa perebutan Irian Barat antara Indonesia dan Belanda dengan sekutunya yaitu Amerika. Imbas dari peristiwa tersebut, banyak tenaga pengajar di Institut Teknologi Bandung yang berkebangsaan Amerika dipulangkan ke negeri asalnya. Sebelum dosen-dosen berkembangsaan Amerika tersebut kembali ke negeri asalnya, Sutedjo berkesempatan untuk ikut  ujian pada mata kuliah yang mereka ajarkan meskipun sebenarnya ia sendiri belum pernah mengikuti mata kuliah tersebut.

Sebelum mengikuti ujian, Sutedjo berupaya mempersiapkan dirinya walaupun hanya memiliki waktu yang sedikit untuk itu. Ia pergi ke perpustakaan, mencari buku-buku yang terkait dengan materi ujian, dan membaca beberapa bagian dari buku yang didapatinya lalu menyerahkan seluruh upayanya itu pada kemurahan Tuhan. Semangat, usaha yang tak setengah-setengah, dan keikhlasan menjalani ujian pada enam mata kuliah yang sama sekali belum pernah diikuti mengantarkan Sutedjo pada keberhasilan untuk melaluinya.

Di tahun yang sama, 1961, Sutedjo untuk pertama kalinya datang ke Pulau Bangka. Saat itu, Sutedjo dalam misi menyelesaikan tugas akhirnya sebagai mahasiswa yaitu membuat skripsi. Institut Teknologi Bandung sendiri memiliki hubungan kerjasama yang baik dengan PN Tambang Timah yang sekarang berubah menjadi PT Timah Tbk. PN Tambang Timah membuka kesempatan bagi mahasiswa Institut Teknologi Bandung untuk magang di perusahaan. Oleh karena itu, Sutedjo memilih untuk melakukan penelitian skripsinya pada sebuah tambang di daerah Pemali dimana Sutedjo melihat keunikan pada lahan tambang di Pemali dalam arti deposit timah pada lahan tambang di tempat tersebut berbeda dengan deposit timah pada lahan tambang di daerah lainnya. Sutedjo menemukan kandungan timah primer pada lahan tambang di tempat itu sementara di tempat lainnya kandungan timah yang ada adalah timah aluvial.

Sutedjo melakukan penelitian skripsinya di Pemali selama sembilan bulan. Berdasarkan kaca mata penelitian, bagi Sutedjo penemuannya merupakan hal yang biasa. Perhatian nya justru tertarik pada kehidupan di Pemali itu sendiri dimana beliau mulai mengenal kehidupan masyarakat Bangka dengan banyak cerita-cerita mistisnya. Namun kemudian beliau sadar bahwa banyak cerita masyarakat Bangka yang memang mengandung hal-hal mistis dan hal tersebut merupakan tipikal dari cerita yang umum ada di dalam masyarakat Bangka. Tahun 1962, enam bulan setelah menyelesaikan penelitian untuk skripsinya di Pemali, Sutedjo pun lulus dari Institut Teknologi Bandung. Bagi Sutedjo, nasib baiklah yang membuatnya berhasil menyelesaikan kuliah dalam kurun waktu empat tahun karena pada masa-masa itu, memang tidak banyak mahasiswa yang mampu menyelesaikan kuliahnya dalam waktu yang singkat.

Setelah menamatkan pendidikannya di Institut Teknologi Bandung, Sutedjo kembali ke Bangka dan bekerja pada PN Tambang Timah yang pada saat itu tenaga ahli timah hampir seluruhnya adalah orang-orang Belanda. Setelah mereka kembali ke negara asalnya, PN Tambang Timah Bangka hanya dapat mengandalkan tenaga-tenaga muda yang baru lulus untuk “mengendalikan” perusahaan saat itu. Sutedjo ditempatkan di bidang eksplorasi tambang dan bertugas melakukan penelitian di seluruh wilayah di Bangka. Hasil penelitiannya menemukan bahwa keadaan timah di Pulau Bangka sangat lemah karena cadangan timah telah habis. Sutedjo justru menemukan cadangan timah yang besar di lautan Pulau Bangka bagian utara. Oleh karena itu pada tahun 1989 PT. Tambang Timah Persero mulai go offshore mining.

Tahun 1960-an merupakan tahun yang berat menurut Sutedjo. Keadaaan ekonomi pada saat itu khususnya di Bangka sangat memprihatinkan. Penyelundupan timah merajalela sehingga menyebabkan Perusahaan Tambang Timah Bangka harus mendatangkan bantuan dari tentara angkatan darat untuk memberantas penyelundupan tersebut. Salah satu markas tentara angkatan darat yang ditugaskan untuk memberantas penyelundupan timah di Bangka berada di komplek perumahan timah di Sungailiat. Bagian dapur dari rumah yang menjadi markas tentara angkatan darat tersebut menjadi ruang tahanan bagi para penyelundup timah tersebut. Pada waktu itu, Sutedjo kenal baik dengan tentara angkatan darat tersebut. Hingga suatu hari beliau dikejutkan oleh penangkapan orang-orang yang berpenampilan rapi dengan baju berbahan tetoron. Orang yang berpakaian tetoron tersebut turun dari sebuah truk dengan pengawalan beberapa orang tentara, tangan mereka diikat ke belakang, lalu kemudian dimasukkan ke dalam ruang tahanan. Karena merasa penasaran beliau pun bertanya.

“Kap, ada apa orang-orang itu ditangkap?” tanya Sutedjo keheranan

“Mereka adalah penyelundup” jawab sang kapten.

“Lho, bagaimana bisa mereka penyelundup” Sutedjo semakin bingung, di dalam bayangannya penyelundup adalah orang-orang dengan penampilan yang menyeramkan dan kasar.

“Yaa lihat saja penampilan mereka Su, coba pikirkan dari mana mereka bisa mendapatkan baju bagus itu?” jawab kapten lagi.

Sutedjo teringat saat ia melakukan praktek kuliah bersama dengan beberapa orang temannya di Pulau Buton, mereka terheran heran dengan hadirnya beberapa teknologi yang jarang ada di kota seperti Bandung namun dimiliki oleh sebagian besar masyarakat kampung di Pulau Buton. Salah satunya adalah radio transistor. Radio transistor tersebut mereka dapatkan saat berlayar ke Pulau Bangka, dari Bangka mereka mengambil timah lalu membawanya ke Singapura, di Singapura mereka berbelanja barang-barang seperti radio transistor lalu kembali ke pulau Buton.

Selesai melaksanakan tugas praktek, Sutedjo dan teman-temannya kembali ke Bandung dengan membawa oleh-oleh radio transistor yang dikira oleh orang-orang Buton rusak karena baterainya habis. Seperti itulah gambaran penyelundupan timah yang terjadi di Pulau Bangka menurut Sutedjo. Orang-orang seperti orang Buton tidak merasa mereka melakukan penyelundupan timah, apa yang mereka lakukan dianggap sebagai sebuah kegiatan yang  biasa, mengambil barang (timah) lalu mendistribusikannya ke Singapura.

Sutedjo menggambarkan kehidupan yang berat di tahun 1960-an yang diwarnai oleh berbagai peristiwa yang menegangkan seperti terjadinya Konfrontasi Malaysia-Indonesia dan peristiwa pemberontakan PKI. Selama peristiwa Konfrontasi Malaysia-Indonesia, Sutedjo dan karyawan perusahaan Tambang Timah Bangka ikut dalam latihan militer sebagai sukarelawan garis depan. Mereka dikenakan pakaian militer lengkap dengan tanda kepangkatan militernya. Sementara itu, pada saat yang bersamaan PKI mengontrol pergerakan buruh dan petani di Indonesia, salah satunya adalah Serikat Buruh Tambang Indonesia yang ada di Perusahaan Tambang Timah Bangka. Pasca peristiwa G 30 S PKI tahun 1965, terjadi penangkapan terhadap buruh-buruh tambang, teman-teman, dan beberapa orang yang beliau kenal karena dicurigai keterlibatannya dalam gerakan PKI.

Tahun 1967 Sutedjo menikah dengan seorang gadis cantik dari Kampung Dalam yang bernama Iszyar. Mereka dikaruniai lima orang anak dan sekarang memiliki enam orang cucu. Tahun 1969-1970 Sutedjo ikut di dalam berbagai pelatihan penelitian di luar negeri seperti penelitian laut dalam, di Departeman Marine Technology Center (MMTC) yang merupakan badan penelitian milik angkatan laut Amerika dan studi di Badan Geologi Amerika di Hawai dalam bidang geofisika serta beberapa studi yang lebih kecil lainnya seperti studi untuk penambangan marmer di Italy.

Tahun 1975, Sutedjo dipindahtugaskan ke kantor pusat PT. Tambang Timah di Jakarta untuk memimpin eksplorasi timah. Waktu itu PT. Tambang Timah merupakan perusahaan BUMN murni, maka wilayah eksplorasi terhadap timah meliputi seluruh wilayah di Indonesia dan tidak terbatas pada wilayah kerja PT. Tambang Timah. Sutedjo melakukan penelitian eksplorasi timah dari Aceh hingga Pulau Ubi di Sulawesi Timur. Dari hasil eksplorasi tersebut, Sutedjo dan teman-teman menemukan cadangan timah dalam jumlah yang besar di Kundur. Pada masanya, divisi eksplorasi timah dengan kegiatan eksplorasinya menjadi divisi acuan bagi penelitian mineral offshore. Selama itu pula, Sutedjo sering kali berpartisipasi di dalam berbagai penelitian, seminar dan konferensi yang berkaitan dengan timah.

Tahun 1992, Sutedjo pensiun dari PT. Tambang Timah dan menarik diri dari berbagai hal yang “berbau” teknis. Sutedjo memilih untuk mulai menulis, oleh karena itu beliau mulai melakukan penelitian untuk menulis Sejarah Timah di Indonesia. Tahun 1995 Sutedjo memberikan saran kepada Direktur Utama PT. Tambang Timah, Eri Riana, untuk membuat buku Sejarah Timah Indonesia bertepatan dengan peringatan lima puluh tahun Indonesia merdeka. Saran Sutedjo tersebut disambut baik oleh Direktur Utama PT. Tambang Timah bahkan disampaikan ke Menteri Pertambangan Indonesia pada waktu itu. Tak lama kemudian keluar instruksi dari menteri agar seluruh perusahaan tambang di Indonesia membuat buku sejarah pertambangan di Indonesia. Akan tetapi, tidak semua perusahaan tambang di Indonesia dapat memenuhi instruksi dari menteri tersebut. Pada waktu itu hanya PT. Tambang Timah yang siap untuk membuat buku, baru setelah lima tahun kemudian disusul oleh Pertamina. Sepuluh tahun setelah buku sejarah penambangan pertama kali dirintis, PT. Freeport pun turut membuat buku sejarahnya sendiri.

Buku sejarah timah yang ditulis oleh Sutedjo merupakan buku yang bercerita tentang timah secara keseluruhan, bukan berisi tentang perusahaan PT. Tambang Timah semata. Buku Sejarah Timah Indonesia pada dasarnya terbagi menjadi dua yaitu, yang pertama buku tentang timah dan interkoneksinya dengan sosial budaya di Bangka Belitung. Kedua, sejarah pengembangan teknologi yang memuat cerita tentang organisasi penambangan, lingkuan hidup, dan peralatan yang digunakan untuk menambang. Buku ini lahir dari seorang yang bukan ahlinya dalam menulis sejarah. Namun, buku ini pada akhirnya menjadi sebuah pembuktian bahwa keinginan kuat dan ketulusan dapat menghasilkan karya yang menjadi sumber pengetahuan bagi banyak orang. Setelah menulis Sejarah Timah di Indonesia, Sutedjo tetap meneruskan kesukaannya dalam menulis. Salah satunya adalah dengan menerima tawaran dari Gubernur Provinsi Aceh untuk menulis sejarah Aceh. 

Setelah berakhirnya masa Orde Baru dan ketika muncul perjuangan otonomi daerah, Sutedjo tergabung di dalam anggota presidium pembentukan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dengan menjadi ketua Pokja Proposal dan Strategi Perjuangan. Sebelum ia menjadi anggota presidium, Sutedjo pernah melontarkan sebuah pernyataan yang menurut beliau hanya pernyataan dalam obrolan biasa. Kebetulan saja, temannya mengobrol pada waktu itu berprofesi sebagai wartawan di salah satu media di Bangka. Pernyataan tersebut berbunyi bahwa orang Bangka bukan orang Sumatera karena punya esensi budaya sendiri. Tanpa ia sadari pernyataan tersebut dimuat di dalam media. Memang Sutedjo sendiri sebenarnya memiliki argumen bila orang Maruda tidak menyebutkan dirinya orang Jawa, dan orang Bawean juga tidak mau disebut orang Jawa, maka sama halnya dengan orang Bangka juga tidak mau disebut sebagai orang Sumatera. Namun Sutedjo menyadari bahwa saat itu masyarakat Bangka sedang berada pada puncak semangatnya untuk menjadi sebuah provinsi baru, oleh karena itu hal-hal kecil pun dapat dibakar untuk memompa semangat perjuangan.

Setelah terbentuknya Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Sutedjo mendampingi gubernur Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Hudarni Rani selama lima tahun sebagai bagian dari tim penasehat untuk memberikan sumbangsih pemikiran berkaitan dengan perencanaan strategis atau kebijakan publik untuk provinsi yang baru terbentuk. Setelah itu, Sutedjo diminta kembali oleh PT. Tambang Timah untuk membantu eksplorasi cadangan timah dari tahun 2007 hingga Januari 2016. Saat ini, meskipun Sutedjo sendiri tidak terlibat secara langsung dalam kegiatan eksplorasi namun beliau masih bertugas memberikan masukan-masukan mengenai eksplorasi timah.

Disamping itu, Sutedjo juga sering menjadi penceramah di dalam kegiatan seminar sejarah dan kebudayaan di Bangka. Salah satu cerita saat beliau memberikan ceramah pada seminar Budaya Melayu Budaya Bangka yang diselenggarakan oleh Universitas Bangka Belitung, seorang tokoh masyarakat dari Desa Kimak berkeluh kesah tentang keadaan masyarakat yang baik secara ekonomi, pendidikan, dan budayanya yang semakin melemah. Sutedjo menanggapinya dengan memberikan pertanyaan apakah kita (masyarakat Bangka) mau membangun negeri yang punya budaya atau memiliki budaya. Lebih lanjut Sutedjo bercerita, kita harus mampu menempatkan diri dalam perkembangan, misalkan saja dalam perkembangan pariwisata. Ambil contoh dari Hawai yang memiliki budaya dan perkembangan pariwisatanya sangat pesat bahkan menjadi wisata dunia. Orang Hawai memiliki hak-hak lebih besar daripada orang kulit putih Amerika. Namun orang Hawai tersebut merupakan objek dari pariwisata, pada saat ada rombongan wisatawan datang berkunjung mereka harus menampilkan satu pertunjukan untuk melayani wisatawan yang datang. Pertanyaan besarnya apakah orang Bangka mau seperti itu, kesejahteraan yang seperti itukah yang diinginkan. Oleh karena itu menurut Sutedjo, kita harus memiliki budaya dan hidup dengan berlandaskan budaya.

Budaya orang Bangka adalah budaya melayu, meskipun di dalamnya juga hidup masyarakat dengan budaya lain yang berbeda seperti orang Bugis, orang Batak, orang Jawa, maupun orang Tionghoa. Sutedjo mengandaikan sebuah pohon besar yang hidup disuatu tempat, dalam pertumbuhannya pohon tersebut sering dihinggapi oleh burung-burung yang membawa benih dari tanaman anggrek. Benih anggrek yang dibawa oleh burung-burung tersebut pun tumbuh di pohon itu sehingga pohon tersebut kaya dengan anggrek-anggrek. Kita tidak dapat mengatakan bahwa pohon besar yang tumbuh tersebut adalah pohon anggrek, pohon yang besar itu adalah pohon itu sendiri. Sama seperti orang Bangka yang intinya adalah orang Melayu Bangka, sementara itu orang dari etnis yang lainnya merupakan bagian dari kekayaan kehidupan yang ada di Pulau Bangka.

Sutedjo telah pensiun dari PT. Tambang Timah selama dua puluh tahun, namun ketertarikan terhadap Pulau Bangka membuatnya selalu kembali setidaknya setiap satu bulan sekali. Selain karena ia merasa memiliki kedekatan emosional, beliau juga melihat keunikan Pulau Bangka. Menurutnya Pulau Bangka sebenarnya tidak terlalu besar sehingga kompleks untuk dipelajari dan tidak pula terlalu kecil sehingga tidak ada bahan untuk dipelajari. Bangka memiliki keunikan tersendiri dari berbagai aspek, baik aspek budaya, politik, sejarah geografi, maupun aspek manusia. Lebih dari pada itu, Sutedjo menekankan pentingnya penelitian kesejarahan untuk pengembangan jati diri. Harus ada upaya pro aktif baik dari pemerintah maupun masyarakat dalam menggali sejarah, karena sejarah merupakan tanggungjawab renteng setiap generasi. ***

 

 


SUTEDJO SUJITNO: STRINGING THE HISTORY OF THE TIN LAND

 

His name is Sutedjo Sujitno; the writer of several books who conducts researches both on history and mining and gives lecture in many historical and mining seminars. Sejarah Timah Indonesia, The Tin History of Indonesia, is one of his masterpieces written based on an extensive research. He also wrote Legenda dalam Sejarah Bangka, Legend in Bangka History, exposing the characteristic of Bangkanese inferred from historical facts supported by the legends living in the society. His aims to encourage the community to do detail studies on history considering that Bangka has unique and interesting historical stories, which have not been studied yet.

Sutedjo was born in Madiun, 17 January 1938. His mother was a kindergarten teacher and his father, Soejitno karto Darmojo, was a principal of an elementary school in Madiun who was an active member of Muhammadiyah, one of Indonesian Islamic organizations. He also joined Muhammadiyah scout known as Hizbul Wathan. His role in this scouting, which was established in 1918 and flourished quickly before it was dismissed by the Dutch colonial, made him a suspect in a rebellion and then exiled to Sumbawa.

Sutedjo lived in Sumbawa until he was seven-year-old. In 1945, his father was sent back to Java because he was considered organizing a movement against the Dutch there. He was then assigned to be an elementary school principal in Ngawi.  After the rebellion of Indonesia Communist Party (PKI) in Madiun on 18 September 1948, his parents came back to Madiun where his father was inaugurated to be a principal of a junior high school. In spite of the happening, Sutejo’s childhood was just the same as other children who generally played and studied. He was even an active student involving in many students organizations in his school.

In 1958, Sutedjo was graduated from Senior High School SMA 1 Madiun and continued his study to Bandung Institute of Technology (ITB). As a student having an impressive achievement, he was able to study in whatever faculty he intended to. Considering that Madiun is the biggest train industrial city, he interested to study about train at the very early stage. In spite of following his passion, he followed his father’s wish to respect his mother wish before she passed away. She wanted him to study in the institute where president Soekarno acquired his knowledge Soekarno graduated from civil engineering of Technische Hoogeschool te Bandoeng in 1926 . Therefore, Sutedjo chose to study in the institute, which later changed into Bandung Institute of Technology. He thence decided to study mining exploration, because it closed to hiking, his favourite activity.

The confrontation between Indonesia and Dutch, supported by America as its ally, over Irian Barat in 1961-1962, caused many of American ITB’s lecturers to be deported back to their country. Fortunately, Sutedjo had the opportunity to follow the exams on their subjects even though he never attended the lectures before.

He tried hard to study prior to the exam in a limited time. He read books and even part of the books he could find in the library. After that, he placed his fate completely to God. His spirit, effort, and willingness to face the six subjects made him pass the exam.

In the same year, 1961, Sutedjo who was doing a research for his thesis, stepped his foot on Bangka island to be a trainee in PN Tambang Timah. ITB had a good relation with the company, which is now known as PT Timah Tbk., a tin state owned company. Therefore, he chose to do on-the-job-training there and conducted his research in a mining in Pemali. He considered it as an interesting mining because it has more tin reserve than other mining. He found that it had primary tin reserve while others had alluvial tin.

He conducted his research for nine months. Based on his background, his finding was considered not special. His focus was absorbed by the life of the local people and the mystical stories. He realized that the stories were typical of Bangkanese mystical story commonly found in the society. In 1962, sixth month after writing his thesis, he graduated from ITB. For him, it was a good luck that he could finish his study in four years because just a few students could graduate in a short time back then.

After graduating, he came back to Bangka to work in PN Tambang Timah which could only depend its management to the fresh graduates after almost all of its experts, who were Dutchman, came back to their country. Sutedjo was assigned to mining exploration division and in charge to do a research in all over Bangka. Based on his research, he found that Bangka did not have the tin reserve left on its land. However, he also found that the north part waters had many tin reserves. In 1989, PT. Tambang Timah started offshore mining.  

1960’s was a hard year for him. Indonesia was sliding into a recession and its people, especially in Bangka, lived in a very poor condition. Tin smuggling had been running rampant. PT Timah had to ask the army to overcome it. One of the army posts was in the Sungailiat tin housing complex of which the kitchen of the house was functioned as smugglers’ detention room.

One day, Sutedjo who was familiar with the soldiers, was astonished by the arrested of the stylishly dressed person.  This person got down from a truck, guarded by some soldiers, with his hands handcuffed on his back and locked in the detention room. To satisfy his curiosity he asked the soldier.

“Cap, why those men are arrested?” asked Sutedjo curiously.

“They are smugglers,” answered the Captain.

“What, they don’t look like them!” He was even more confused. In his mind, smugglers are those having scary profiles.

“Look closer to their appearance, Su. How do you think they can afford those expensive clothes?”

He then remembered when he and his friend had a practical lesson during his study in Buton Island. They were greatly surprised to see sophisticated technological things like transistor radio, which were rarely found in the city like Bandung, having by most of the locals. The locals bought the radio in Singapore after sailing to deliver tin from Bangka. Actually, they did not know the technology, therefore the radios were taken by Sutedjo and his friends to Bandung after their practical study because the locals considered them broken when the radios run out of battery. That is the depiction of the smuggling in Bangka according to him. The local people of Buton never had an idea that it was illegal. They just thought it was a regular activity by taking the tin and sailing to Singapore.

The hard life of the 60’s was worsened by the confrontation between Indonesia and Malaysia and G30S/PKI coup. Sutedjo and other employees had to take part in military practice as front-line volunteers. They even wore uniforms and had their military ranks. On the same time, PKI controlled trade union and farmer in Indonesia. One of them was Indonesian Mining Worker Union in Tambang Timah Bangka Company. After the failing coup, many of the workers, including his friends, were arrested because of being suspected to be part of the communist party.

In 1967, he married Iszyar, a beautiful woman from Kampong Dalam, from whom he was blessed with five children who give him six grandchildren now. It was two years before his various trainings during 1969-1970 abroad, including in Marine Minerals Technology Center (MMTC) of American Navy and US geological agency in Hawaii to study geophysics. He also followed some other training on marble mining in Italy.

In 1975, he was reassigned to the central office in Jakarta to lead tin exploration. Because the mining concession of PT. Tambang Timah as a state-owned company was all over Indonesia, he conducted the exploration research from Aceh to Ubi Island, in the eastern part of Sulawesi. Together with his team, he found a large tin reserve in Kundur. Besides exploring, he also often involved in many related researches, seminars, and conferences because his division and its exploration always became references for offshore mineral research. 

He was retired in 1992, stopped his technical activity, and began to write. He started to run a research on Indonesian tin history. In 1995 he suggested the managing director of PT. Tambang Timah, Eri Riana, to publish his book to coincide with the celebration of the 59th Indonesian independence. His suggestions was openly welcomed by Eri and even put forward to Mining Minister. Not long after that, the minister instructed to all mining company in Indonesia to publish mining history book. Unfortunately, not all companies could do it. PT. Tambang Timah was the only company which was ready to publish it. Five years later, Pertamina published its book, followed by PT. Freeport ten years after that.

In his book, Sutedjo did not only focus on the company, but he wrote about tin in general. The book consists of two parts. First, it talks about tin and its interconnection to sociocultural background of Bangka Belitung. The second part is about the history of technology development talking about mining organization, environment, and mining tools. Although he is not a historian, this book is a proof that a strong will and sincerity are the booster to produce a book, which becomes a reference for many people. He even continued his passion to write, one of them by accepting the offer from the Governor of Aceh to write the history of the province.

After the New Order era, in the era of regional autonomy,  Sutedjo became a member of a presidium to establish Kepulauan Bangka Belitung province. He was the head of Proposal and Strategy. Before joining it, he ever made a statement, which was just a common statement for him. Fortunately, the person he was talking to was a journalist in Bangka. He just said that Bangkanese are not Sumateranese because they have their own culture. He did not realize that his statement was published in the media. The explanation of his statement that if Madurese and those living in Bawean never refer themselves as Javanese, the same thing happens to Bangkanese who refuse to be called Sumateranese. He realized that Bangka people at that time were in their enthusiasm to establish their new province. Even a little thing successfully raised their spirit.

After the establishment of Kepulauan Bangka Belitung province, he worked closely with governor Hudarni Rani for five years as a part of advisory team to contribute in strategic or public policy planning.  After that, he was asked to contribute in PT. Tambang Timah to help tin exploration from 2007 to January 2016. He keeps giving his advice on exploration activity until now, even though he never involve directly in the exploration.

Besides that, he was often invited to talk in historical and cultural seminar in Bangka. In one of his seminar on Malay Culture as Bangka Culture held by Bangka Belitung University, an informal leader of Kimak village complained about the weakening of people’s economy, education, and culture. He responded it wisely by asking whether Bangka community wanted to build a cultural country. He explained that we must place ourselves in the development, for instance in tourism development. He continued that Hawaii with its culture has developed into a world-class tourist destination. The natives of Hawaii should have bigger rights than the white people. However, they only become the object of tourism who should entertain and serve the tourist.. Taking this society as an example, the basic question for Bangkanese is whether they want to have prosperous live like that or not . Therefore, he stated, we must have a culture and life according to that.

Bangka culture is Malay culture, even though there are some other cultures like Bugis, Batak, Java, and Chinese. According to him, it is like a big tree perched by many birds bringing orchid seed with them. The seed then grows and beautify the tree. We cannot say that the big tree is an orchid. It is still the same tree. The same with Malay Culture in Bangka that enriched by other ethnical cultures.

Sutedjo has been retiring from PT. Tambang Timah for twenty years. However, his interests in Bangka always make him come at least once a month. Besides having an emotional closeness, he considers Bangka as a unique island. According to him, this island is neither too big and complex to be studied nor too small that there is no material to be learned.  It is a unique island, whether to be studied in its cultural, political, historical, geographical, and human aspects. Underlining the important of historical study to develop the identity, there must be a proactive effort, by both the government and community, to study the history because it is a responsibility of every generation. (Translated by S. A. Sobri)