Eksistensi Seni Kriya di masa Pandemi Covid-19

avatar Agus Purnama
Agus Purnama
Agus Purnama, Analis Objek Wisata Dinas Pariwisata, Kebudayaan dan Kepemudaan Olahraga (Disparbudkepora) Provinsi Kep. Bangka Belitung
Agus Purnama, Analis Objek Wisata Dinas Pariwisata, Kebudayaan dan Kepemudaan Olahraga (Disparbudkepora) Provinsi Kep. Bangka Belitung

Bangsa Indonesia yang terbentang dari Aceh hingga Papua selain dianugerahi Allah SWT Tuhan Yang Maha Esa dengan alam nan indah, juga memiliki keberagaman tradisi dan kesenian yang sudah diwariskan secara turun-temurun di dalam kehidupan masyarakatnya. Salah satu kesenian tersebut, adalah Seni Kriya.

Sebagai warisan para leluhur, keberadaan seni kriya sangat erat dengan aktivitas dan telah menjadi kebutuhan hidup masyarakat. Menurut Wikipedia (7 Juni 2019) Kriya atau hastakarya atau kerajinan tangan adalah kegiatan seni yang menitikberatkan pada keterampilan tangan dan fungsi untuk mengolah bahan baku yang sering ditemukan di lingkungan menjadi benda-benda yang tidak hanya bernilai pakai, tetapi juga bernilai estetis.

Dilansir dari buku Seni Kriya dan Kerajinan (2011) karya Timur Raharjo, Seni Kriya merupakan salah satu cabang seni rupa yang memiliki akar kuat, yakni nilai tradisi yang bermutu tinggi atau bernilai adi luhung.

Dalam Terminologi dan Perwujudan Seni Kriya Masa Lalu dan Masa Kini sebuah Pendekatan Historis-Arkeologi (2002) karya Timbul haryono, secara etimologi berasal dari kata “Kr” (bahasa Sansekerta) yang berarti “mengerjakan”, dari akar kata tersebut kemudian menjadi ‘karya, kriya dan kerja’.

Seni Kriya dihasilkan melalui keahlian manusia dalam mengolah bahan mentah menjadi produk dan ruang lingkupnya dapat ditelusuri melalui bahan yang dipergunakan tersebut. Diantaranya batu, tanah liat, kayu, logam, benang, tulang, cangkang kerang, kulit, kaca, dedaunan, buah kering, plastik, atau serat. (Fidelis Dhayu Nareswari : 13 Oktober 2020)

Seni Kriya merupakan sebuah seni yang dibuat menggunakan ketrampilan tangan dengan memperhatikan aspek fungsional dan nilai estetika.

Ada tiga fungsi utama Seni Kriya, yaitu : Pertama, Hiasan (Dekorasi), yakni salah satu fungsi seni kriya adalah sebagai hiasan ataupun dekorasi. Banyak sekali barang yang dihasilkan dari keterampilan tangan atau handmade yang mengutamakan nilai estetika; Kedua, Benda Siap Pakai (Terapan), yakni sebagai benda siap pakai atau terapan. Dalam fungsi sebagai benda terapan Seni Kriya ini tidak mengurangi unsur keindahannya; dan yang Ketiga, Benda Mainan, yakni fungsi lain dalam Seni Kriya adalah benda mainan. Banyak sekali Seni Kriya berupa mainan yang kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari.

Berdasarkan bahan-bahan yang digunakannya, Seni Kriya terbagi ke dalam lima jenis, yaitu : Pertama, Seni Kriya Kayu, yakni Seni Kriya Kayu merupakan jenis Seni Kriya yang berbahan utama dari kayu, seperti : patung, furniture, ukiran, topeng, wayang dan lain sebagainya; Kedua, Seni Kriya Tekstil, yakni karya Seni Kriya yang berbahan kain berupa kain yang ditenun, dirajut, diikat, dipres maupun dengan berbagai cara lainnya, seperti : batik dan tenun; Ketiga, Seni Kriya Keramik, yakni Seni Kriya Keramik berbahan dasar tanah liat yang dibakar, seperti : guci, piring, gelas, vas bunga dan lain-lain; Keempat, Seni Kriya Logam, yakni Dari namanya saja sudah jelas bahwa Seni Kriya Logam berbahan dasar logam. Bahan dari logam ini kemudian dibuat menjadi barang kerajinan yang fungsional sekaligus mengandung nilai keindahan; dan yang Kelima, Seni Kriya Kulit, yakni Kriya kulit ini menjadikan kulit sebagai bahan dasarnya, seperti : kulit kambing, sapi, ular, buaya, dan kulit lainnya.

Teknik yang digunakan untuk membuat Seni Kriya, diantaranya : Pertama, Teknik Bursir yaitu teknik menambah atau mengurangi objek yang bahan utamanya bersifat lunak seperti tanah liat, Kedua, Teknik Cetak/Cor yaitu membuat kerajinan dengan cara dicetak. Dalam teknik ini tentu membutuhkan alat cetakan; Ketiga, Teknik Plester, yaitu teknik menempel bahan ke objek seperti hal nya semen dan pasir yang ditempelkan ke tembok; Keempat Teknik Sambung, yaitu teknik merakit bahan menjadi satu; dan yang Kelima, Teknik Pahat, yaitu teknik untuk mengurangi objek dengan alat, teknik ini biasanya digunakan dalam proses pembuatan patung (sumberpengertian.id : 2 November 2020).

Meski produk kriya bertahan di tengah pandemi, namun selama COVID-19 terjadi penurunan pendapatan sekitar 3% hingga 5%. Jelas penurunan pendapatan dari sektor ekonomi kreatif tersebut berdampak cukup besar pada perekonomian tanah air. Produk kriya Indonesia merupakan subsektor ekonomi kreatif yang masuk dalam tiga kontributor terbesar Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2019, industri kriya menyumbang 14,9% dari total PDB nasional. Penurunan pendapatan dari sektor produk kriya Indonesia terjadi seiring kebijakan lockdown yang diberlakukan oleh beberapa negara tujuan ekspor. Meski pandemi COVID-19 membuat banyak sektor terpuruk, kondisi ini juga memunculkan tren baru di masyarakat, khususnya terhadap sektor produk kriya Indonesia.

Industri kriya dalam negeri termasuk salah satu sektor yang tangguh dalam menghadapi dampak ekonomi akibat pandemi COVID-19. Eksistensi produk kriya Indonesia tidak bisa dilepaskan dari fungsi ganda kriya dalam kehidupan.

Selain menawarkan estetika, seni kriya juga tetap memiliki fungsi sebagai benda terapan. Berbekal dua manfaat tersebut, produk kriya Indonesia selalu dilirik banyak konsumen, baik lokal maupun mancanegara. (kemenparekraf.go.id : 19 Februari 2021).

Pemerintah melalui Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia (Kemenparekraf/Baparekraf RI) memiliki komitmen yang tinggi untuk memfasilitasi industri kreatif Indonesia termasuk di dalamnya seni kriya. Upaya dukungan ini berbentuk fasilitasi kerja sama antara desainer, UKM, dan manufaktur. Melalui fasilitasi ini diharapkan, terbentuk kolaborasi antar pelaku subsektor yang dapat memajukan industri kreatif Indonesia.

Selain itu, Kemenparekraf/Baparekraf RI juga melakukan promosi produk-produk kriya di dalam dan luar negeri, serta membuka akses permodalan, sebagai program-program utama untuk mendukung subsektor kriya ini. Promosi produk industri kriya Indonesia juga dilakukan dengan diikutsertakan dalam berbagai ajang pameran baik lokal maupun internasional. (kemenparekraf.go.id : 4 Agustus 2020)

Ayo! Kita sebagai warga negara Indonesia terus konsisten mendukung kemajuan industri kreatif seni kriya di Indonesia dengan cara ikut program beli kreatif lokal. Dalam artian, kita harus bangga menggunakan produk industri kreatif Indonesia, ini merupakan bentuk apresiasi terhadap karya anak bangsa dan sekaligus menjadi solusi paling sederhana dan tepat untuk membuat pasar produk lokal terus bergeliat, meski saat ini Indonesia masih diselimuti pandemi Covid-19 yang belum juga kunjung melandai.

Eksistensi Seni Kriya sebagai salah satu sub sektor ekonomi kreatif yang merupakan warisan budaya para leluhur dan kini telah menjadi produk industri kreatif identitas bangsa yang tak lekang oleh waktu ini, tentu saja harus terus dijaga dan dibina seluruh stakeholder baik di tingkat pusat maupun daerah yang terkait dengan ekosistem industri kreatif di tanah air, agar dapat merumuskan sejumlah kebijakan strategis bersama yang terus berkomitmen dan bersinergi demi mendukung pertumbuhan positif sektor ekonomi kreatif dari mulai hulu hingga hilir di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Penulis : Agus Purnama, Analis Objek Wisata Disparbudkepora Prov.Kep.Babel